Aku tidak tertarik menang di mata orang.
Karena kemenangan yang sejati bukanlah
tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.
Aku lebih tertarik membangun hidup yang
kokoh,
hidup yang tidak runtuh saat tidak
dipilih,
tidak goyah saat dibandingkan,
dan tidak hancur meski ditinggalkan.
Menjadi kuat bukan berarti tak pernah
jatuh,
tetapi mampu berdiri lagi dengan hati
yang utuh.
Menjadi teguh bukan berarti tak pernah
rapuh,
tetapi tetap melangkah meski luka masih
terasa.
Aku ingin hidup yang berdiri di atas
fondasi cinta
cinta pada diri sendiri, cinta pada
perjalanan,
cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.
Karena ketika cinta itu kokoh,
tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,
tak ada perbandingan yang bisa
menggoyahkan,
tak ada kepergian yang bisa
menghancurkan.
Dan di sanalah aku menemukan arti:
bahwa hidup bukan tentang terlihat
menang,
melainkan tentang tetap utuh,
meski dunia mencoba merobeknya.