NOVEL - KISAH GELAP AGNES - KBM APP

PERTEMUAN YANG TIDAK PERNAH KEBETULAN* Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: https://kbm.id/book/read/07a8b943-b830-4b13-b145-8f273448f013/45218cc8-fa66-410b-80cf-b45d2ab1248a

Teaser:

Maya mengira semua bukti sudah di tangannya.

Foto-foto itu, Agnes dan Doni dalam satu mobil, senyum yang terasa terlalu akrab, momen-momen kecil yang terlihat seperti “lebih dari sekadar rekan kerja” dia simpan rapi. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk meledakkannya di depan Mas Arif.

Tapi yang tidak Maya tahu adalah…

Ada satu foto yang tak sengaja tertangkap kamera.

Satu momen yang seharusnya mustahil terjadi.

Satu momen yang bahkan Agnes sendiri belum berani mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.

Senyum Doni.

Tatapan itu.

Dan detak jantung Agnes yang berkhianat… untuk pertama kalinya.

Dan di saat semua ini mulai manis…

bahaya justru semakin dekat.

Karena seseorang lain…

ikut memperhatikan mereka.

Bukan Maya.

Yang satu ini… jauh lebih berbahaya.

“Kalau Maya saja bisa melihat apa yang mulai tumbuh di antara Agnes dan Doni…

Lalu siapa sosok lain yang diam-diam memperhatikan mereka dari jauh?


Bab selanjutnya… jauh lebih manis.

Tapi juga jauh lebih berbahaya.

Siap lanjut?”





Are you oke? Aman saja

Kalimat sederhana “Are you ok?” sering muncul sebagai bentuk kepedulian. Pertanyaan itu seolah mengetuk pintu hati, menanyakan keadaan seseorang di balik senyum atau diamnya.

Jawaban “aman saja” terdengar singkat, tapi menyimpan makna: ada ketenangan, ada kekuatan, meski mungkin banyak hal sedang terjadi. Kata “aman” memberi rasa lega, seolah berkata: aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.

Dalam percakapan sehari-hari, kombinasi ini bisa menjadi simbol komunikasi yang hangat. Pertanyaan singkat, jawaban ringkas, namun keduanya mencerminkan perhatian dan keteguhan.


KALIAN GA TAU KAN?

Hari ini aku kembali menyusuri rutinitas di kantor: menata arsip yang mulai menumpuk, mencetak kegiatan Jumat Berbagi, dan memperbarui cetakan surat masuk dari dinas untuk lembaga tri semester pertama. Di sela kesibukan itu, waktuku juga terbagi untuk live affiliate di TikTok, sambil menjaga ritme menulis bab‑bab baru novel yang sudah terjadwal setiap harinya.

Kadang aku tersenyum sendirI.... kalian ga tahu kan? semua ini aku jalani sendiri. Kalau pun minta bantuan orang, aku yang menanggung biayanya, bukan yayasan. Di sini tidak ada gaji, hanya niat dan keikhlasan yang terus aku jaga.

Setiap aktivitas terasa seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambaran besar perjalanan hidup. Ada kerja, ada berbagi, ada kreativitas yang terus tumbuh. Semoga Allah senantiasa melapangkan hati, melapangkan rezeki, memberi kesehatan, dan menguatkan langkah dalam setiap ikhtiar… 🤲



Jadwal Update Bab Novel – Platform KBM


Halo pembaca tersayang, berikut aku bagikan jadwal rilis bab terbaru dari masing-masing judul novelku.

Semoga ini memudahkan teman-teman untuk mengikuti tiap kisah tanpa terlewat.



Risiko Memiliki Pasangan Seorang Penulis: Antara Imajinasi, Baper, dan Kenyataan

Buat yang punya pasangan penulis:

Menjalani hubungan dengan seorang penulis itu seperti hidup berdampingan dengan dua dunia: dunia nyata dan dunia imajinasi yang kadang jauh lebih riuh dari kehidupan sehari-hari. Penulis bekerja dengan hati, menggunakan emosi sebagai bahan bakar, dan meminjam banyak situasi, baik yang dialami, didengar, maupun sekadar diamati, untuk diubah menjadi cerita. Dan di titik inilah sering muncul risiko yang jarang dibicarakan: pasangan bisa ikut terbawa perasaan.

1. Penulis Memiliki Radar Emosi yang Lebih Pekat

Penulis sering menulis berdasarkan detail kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti. Tatapan seseorang, percakapan yang lewat di telinga, atau bahkan suasana hujan bisa berubah menjadi kisah. Kadang pasangan salah paham, mengira semua yang ditulis adalah kode, sindiran, atau cerminan isi hati yang sebenarnya, padahal tidak selalu begitu.

2. Tokoh Fiksi Bisa Membuat Pasangan Merasa “Tersaingi”

Penulis menciptakan tokoh yang ideal: tampan, sabar, romantis, kuat, kadang nyebelin tapi bikin jatuh hati. Tokoh ini lahir dari proses kreatif, bukan karena penulis tidak puas dengan pasangannya. Namun ada kalanya pasangan merasa dibandingkan, merasa kalah, atau takut tokoh fiksi itu lebih sempurna dari dirinya.

3. Pembaca Baper, Pasangan Ikut Baper

Salah satu risiko terbesar adalah: bukan hanya pembaca yang mudah terbawa perasaan, pasangan pun bisa ikut merasakan hal yang sama. Ketika ribuan orang berkomentar bahwa tokoh pria dalam cerita sangat mempesona atau tokoh wanitanya begitu menarik, pasangan bisa merasa cemburu. Padahal itu sekadar respon terhadap karya seni.

4. Penulis Tidak Menulis dari Satu Sumber

Ini penting: cerita penulis tidak selalu datang dari pengalaman pribadi. Penulis merangkai potongan realitas dari mana saja, teman, tetangga, sahabat, film, trauma masa lalu, postingan viral, bahkan cerita orang tak dikenal. Tapi sering kali pasangan merasa: “Jangan-jangan ini tentang aku…”

Padahal belum tentu. Justru terkadang penulis sengaja menjaga privasi pasangan dengan memodifikasi cerita jauh dari kenyataan.

5. Penulis Butuh Ruang untuk Berkarya

Di balik karya yang disukai banyak pembaca, ada kreativitas yang butuh dibiarkan berjalan bebas. Jika penulis harus selalu mengkhawatirkan perasaan pasangannya setiap kali menulis, kreativitas bisa terkunci. Pasangan penulis perlu memahami bahwa menulis adalah bagian dari identitas, bukan ancaman.

Pesan untuk Pasangan Seorang Penulis

Untuk kamu yang hidup berdampingan dengan seorang penulis, percayalah:

Menjadi pasangan mereka bukanlah kompetisi antara dirimu dan karakter fiksi. Kamu adalah dunia nyata yang tidak bisa digantikan oleh imajinasi mana pun.

Penulis bisa menciptakan seribu tokoh, tapi hanya mencintai satu orang di kehidupan nyata — orang yang hadir, mendampingi, mengerti proses kreatifnya, dan tidak mudah tersulut oleh cerita yang bahkan bukan tentang dirinya.

Jika sesekali cemburu atau baper, itu wajar. Itu tandanya kamu sayang.

Tapi ingat juga: cerita adalah cerita, cinta adalah kamu.

Jadi, ketika pasanganmu menulis kisah yang dramatis, romantis, pedas, atau membuat pembaca heboh

tenanglah… semua itu adalah bagian dari karya, bukan cermin dari hubungan kalian.

Peluk penulismu dengan pengertian.

Karena di balik semua paragraf dan karakter fiksi itu, ada satu tokoh utama yang selalu mereka pilih di dunia nyata: kamu.

Salam hangat

-Langit Didada