Cahaya di Tanganmu

Tak perlu tahta, tak perlu nama,  

Cukup tangan yang memberi tanpa syarat,  

Karena di langit, tak ada angka,  

Hanya keikhlasan yang dicatat.  


Orang berkata, “Apa kau mencari pujian?”  

Kau tersenyum, tak perlu jawaban,  

Sebab sedekahmu bukan untuk mata manusia,  

Melainkan untuk Dia yang Maha Melihat.  


Tak peduli suara yang meragukan,  

Yang bernilai bukan tuduhan dunia,  

Melainkan kemurnian di hati kecilmu,  

Yang memberi tanpa berharap kembali.  


Maka teruslah, wahai tangan yang murah hati,  

Karena setiap butir yang kau lepas,  

Telah tertanam dalam tanah keabadian,  

Berbuah di hari yang penuh cahaya






Anugerah di Sepotong Daging Kurban

Di hari yang mulia, tercium harumnya kasih,  

Tak sekadar daging yang diberikan,  

Tetapi kehangatan yang mengalir,  

Dari hati yang tulus berbagi.  


Sepotong daging bukan sekadar santapan,  

Ia adalah doa yang terbisik pelan,  

Rezeki yang mengalir dari tangan ke tangan,  

Menghapus batas, menguatkan ikatan.  


Sungguh indah pemberian ini,  

Bukan karena jumlah, bukan karena rupa,  

Tapi karena ikhlas yang tersembunyi,  

Mewarnai setiap potongan dengan berkah.  


Terima kasih, wahai sahabat-sahabatku,  

Atas cinta yang kau bagi,  

Atas kebersamaan yang kau jalin,  

Semoga Allah membalas dengan keberkahan tanpa henti.


PAGI YANG MEMBUKA HARAPAN

 Pagimu adalah bagian dari hidupmu,  

Cahaya lembut menyapu tanah sujud,  

Membuka lembaran hari dengan syukur,  

Membiarkan harapan tumbuh dalam sejuk.  


Biarkan fajar membawa ketenangan,  

Hembusan angin menyapa penuh makna,  

Jalani hari dengan langkah ringan,  

Smbut dunia dengan hati bahagia


SELEBIHNYA, HATI- HATI

Rangkul mereka yang sejalan,  

Langkah-langkah bertaut dalam tenang,  

Saling menguatkan di jalan panjang,  

Menemukan makna tanpa bimbang.  


Temani mereka yang menghargai,  

Senyum jujur yang tak berpura,  

Kata-kata lembut penuh makna,  

Hadir bukan sekadar sementara.  


Bahagiakan mereka yang baik-baik,  

Tanpa pamrih, tanpa berat,  

Melihat senyum sebagai cahaya,  

Memberi tanpa berharap balas.  


Doakan mereka yang memanusiakan,  

Yang tak sekadar melihat rupa,  

Yang memahami tanpa menghakimi,  

Menyayangi dengan tulus jiwa.  


Selebihnya hati-hati,  

Melangkah dengan penuh sadar,  

Karena dunia tak selalu ramah,  

Namun kebaikan tetap berpendar


SATU IKHLAS

Aku menghabiskan waktuku

Bukan untuk menghapus luka,

Tapi untuk mencari

Satu titik ikhlas

Yang bisa menetap

Di antara reruntuhan kecewa

Yang terus-menerus

Memanggil namaku.


Aku mencoba berdamai,

Dengan segala hal yang tak bisa kupeluk

Dengan segala harapan

Yang patah bahkan sebelum tumbuh.

Berjuta-juta ketidakterimaan

Berdesakan dalam dadaku,

Seperti tamu tak diundang

Yang menolak pulang.


Dan setiap malam,

Aku tenggelam perlahan

Dalam lautan kecewa

Yang dinginnya menusuk

Hingga ke tulang paling dalam.

Namun di tengah tenggelam itu,

Ada setitik harapan,

Bahwa aku masih bisa bernapas,

Meski hanya dengan air mata.


Aku ingin satu hal saja

Ikhlas.

Bukan pasrah,

Bukan menyerah.

Tapi sebuah ikhlas yang tumbuh

Karena aku memilih untuk memahami,

Bukan melupakan.

Yang datang bukan karena aku kuat,

Tapi karena aku lelah,

dan tahu…

Allah tak pernah benar-benar meninggalkan