Sejuta aksara menari di angkasa
MENIMBUN MASA LALU
Sejuta aksara menari di angkasa
JEDA
Pagi yang
selalu kunanti
Ku awali
dengan menyebut Asma Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang
Memulai
hari melangkah dengan pasti
Hangatnya
mentari memberi semangat setiap insani
Pagi yang
selalu menakjubkan
Dari
udaranya yang segar, aku belajar tentang kesabaran
Kita
adalah luka yang belum tersembuhkan
Kita
masih butuh jeda untuk saling berinstropeksi diri
Menikmati
sarapan dengan sebait puisi
Masih
banyak hal yang ingin kutuliskan
Ingin ku
ungkapkan rasa dalam kata
Tentang
kita yang dipisahkan oleh keadaan
Secangkir
kopi menemani pagi
Menghirup
sinar matahari
Segala
hal tentangmu, membuatku kian mencandu
Semakin
liar dalam ruang imajiku
Bahwa aku sangat merindukanmu
AKU PERNAH BERTANYA
Aku pernah bertanya,
apa sih tujuan hidupku?
Dan dalam keheningan,
hatiku menjawab:
“Hidupku bukan milikku sendiri.”
Maka, meski ragaku terbatas,
aku ingin kelak—saat nafasku berhenti—
ada bagian dari diriku yang tetap hidup,
yang terus memberi arti,
walau aku telah pergi.
Mataku mungkin akan terpejam selamanya,
tapi semoga bisa membuka pandangan bagi jiwa lain,
yang masih ingin melihat dunia…
yang masih punya mimpi.
Sebab aku percaya,
Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin.
Segala ibadah, hidup, dan matiku… untuk Allah semata.
Terima kasih telah menjadi jembatan harapan ini.
Semoga kebaikan kecil ini membawa manfaat yang besar
.png)


.png)