GABUT



GABUT

Di sudut waktu yang perlahan berlalu,
kutatap layar, tak tahu mau apa dulu.
Angin berbisik tanpa tujuan,
Seketika terhentakku dalam lamunan

Tugas bertumpuk, tapi hati enggan,
pikiran melayang ke awan tak beraturan.
Jualan sepi, tak ada suara,
hanya notifikasi kosong belaka.

Namun di sela hening yang membeku,
ada ide kecil mulai bertamu.
Mungkin gabut tak sekadar jemu,
tapi ruang untuk lahirnya sesuatu.

MENULIS DI TEPI SENJA

Kubuka buku catatan,

Halaman kosong menanti cerita,

Tinta pena menari pelan,

Sambil angin pantai menyisir jiwa.


Ombak tak pernah lelah bercerita,

Aku dengarkan, kuresapi maknanya,

Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,

Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.


Dia duduk tak jauh dariku,

Membiarkanku larut dalam imajinasi,

Tak mengganggu, tak bertanya,

Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.

Kupilih duduk lama biar pikiran reda

Biar aku dan dia menyatu dalam senja


Senja memudar di ujung cakrawala,

Aku masih menulis,

Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,

Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis


DICINTAI SEMPURNA

Cintailah dia yang mencintaimu,

bukan karena rupa atau waktu,

tapi karena hatinya memilihmu,

dalam diam, dalam doa yang tak pernah jemu.


Sebab di matanya, kau tak perlu menjadi lebih,

tak harus sempurna atau serupa bintang di langit bersih,

karena baginya, dirimu sudah cukup,

cukup indah, cukup utuh, cukup penuh harap.


Ia melihatmu bukan dengan mata,

tapi dengan jiwa yang rela,

menerima luka dan tawa,

menjadikanmu satu-satunya makna.


Cintailah dia yang mencintaimu,

karena hanya di hatinya,

kau akan selalu terasa sempurna,

meski dunia berkata sebaliknya.




CINTA DALAM KEIKHLASAN




Aku memilih jalan ini dengan hati lapang,
Bukan karena tak mampu menghalangi,
Tapi karena cinta yang kupahami,
Adalah memberi waktu, bukan hanya memiliki.

Bahagiaku bukan saat dia di sisiku selalu,
Tapi saat rumah pertamanya tetap utuh.
Saat wajahnya berseri karena damai,
Saat tanggung jawabnya tetap terjaga.

Walau hatiku menjerit merindu
Ingin mengeluh, tapi kuurungkan.
Karena aku tahu, mencintai dengan hati,
Berarti merelakan tanpa menguasai.

Jalan ini mungkin tak semua pahami,
Tapi bagiku, cinta bukan hanya tentang aku.
Selama dia tetap dalam kejujuran
Aku pun bahagia dalam doa yang kupanjatkan

JEJAK LANGKAH RELAWAN





Langkah kecil, hati terbuka,
Menempuh jalan tanpa ragu,
Dari desa hingga kota penuh cerita,
Menebar harap di tiap temu.

Tangannya tak selalu kuat,
Tapi jiwanya tetap menyala,
Menyalakan semangat,
Dalam tiap doa dan kata.

Bukan harta yang ia cari,
Bukan pujian, bukan nama,
Hanya ingin dunia berseri,
Walau setitik dalam senyum semesta.