DOA YANG MENGETUK LANGIT

Adakalanya, saat lelapmu dalam diam,

puluhan doa melesat menembus malam.

Mengetuk pintu langit yang tak pernah tertutup,

dari hati-hati yang dulu sempat kau peluk.


Dari fakir yang kau bantu tanpa pamrih,

saat lapar melilit dan dunia terasa perih.

Dari jiwa gelisah yang kau hibur lembut,

meski hanya dengan senyum atau sekadar sambut.


Tak kau sadari, sedekahmu jadi cahaya,

menghapus duka, menumbuhkan asa.

Karena tangan yang memberi, takkan pernah rugi,

bahkan saat dunia menolak memberi arti.


Maka bersemangatlah, wahai hati yang ragu,

karena kebaikanmu tak pernah bisu.

Jangan tunggu kaya, jangan tunggu cukup,

karena rezeki mengalir justru saat kita melepas erat menggenggam hidup




PELAN-PELAN AKU BELAJAR

Aku tidak setenang itu.

Di balik diamku,

ada badai yang kutahan sendiri—

gelisah yang tak bisa kuluapkan,

karena tubuhku tak sebebas jiwa yang ingin terbang.


Aku tidak seikhlas itu.

Banyak hal kutangisi dalam diam,

banyak tanya kutelan bulat-bulat:

“Kenapa harus aku?”

Tapi waktu memelukku,

dengan bisik pelan,

bahwa hidup bukan tentang adil atau tidak,

melainkan tentang kuat atau menyerah.


Aku belajar,

bahwa tak semua yang patah perlu disatukan kembali.

Beberapa luka,

cukup dikenang tanpa dendam.

Beberapa kehilangan,

cukup diterima tanpa penjelasan.


Dan meski jalanku sunyi,

meski sering kulihat dunia dari satu tempat yang sama,

aku tahu:

jiwa ini tetap bergerak,

tetap tumbuh,

meski perlahan.

Meski dalam keterbatasan,

aku sedang menjalani takdir dengan sebaik mungkin.


Pelan-pelan,

aku belajar ikhlas—

bukan karena aku sudah selesai dengan luka,

tapi karena aku ingin damai tinggal di dadaku sendiri.


PELAN-PELAN AKU BELAJAR

Aku tidak setenang itu.

Di balik diamku,

ada badai yang kutahan sendiri—

gelisah yang tak bisa kuluapkan,

karena tubuhku tak sebebas jiwa yang ingin terbang.


Aku tidak seikhlas itu.

Banyak hal kutangisi dalam diam,

banyak tanya kutelan bulat-bulat:

“Kenapa harus aku?”

Tapi waktu memelukku,

dengan bisik pelan,

bahwa hidup bukan tentang adil atau tidak,

melainkan tentang kuat atau menyerah.


Aku belajar,

bahwa tak semua yang patah perlu disatukan kembali.

Beberapa luka,

cukup dikenang tanpa dendam.

Beberapa kehilangan,

cukup diterima tanpa penjelasan.


Dan meski jalanku sunyi,

meski sering kulihat dunia dari satu tempat yang sama,

aku tahu:

jiwa ini tetap bergerak,

tetap tumbuh,

meski perlahan.

Meski dalam keterbatasan,

aku sedang menjalani takdir dengan sebaik mungkin.


Pelan-pelan,

aku belajar ikhlas—

bukan karena aku sudah selesai dengan luka,

tapi karena aku ingin damai tinggal di dadaku sendiri


DIRIMU SENDIRI

Di antara ribuan langkah dan bayang,

Ada satu yang tak pernah menghilang —

Dirimu sendiri, yang diam-diam bertahan

di saat dunia tak bisa jadi sandaran.


Ia menampung letihmu tanpa keluh,

menyeka air mata saat tak ada yang tahu.

Satu-satunya yang selalu tinggal,

meski yang lain pergi, tinggal kenang mengental.


Maka sayangilah ia sepenuh hati,

jangan letakkan beban yang terlalu tinggi.

Ia bukan karang yang takkan retak,

ia juga ingin bahagia dan tak merasa sesak.


Peluk dirimu, damaikan jiwamu.

Jangan paksa ia kuat setiap waktu.

Karena dirimu adalah rumah terindah,

yang paling layak diberi cinta paling ramah.




BELAJAR TENANG

Aku tidak setenang yang kau lihat,

hanya sedang berusaha—

menata gelombang dalam dada

agar tak selalu pecah di permukaan.


Aku tidak seikhlas yang kau kira,

hanya sedang belajar

bahwa tak semua yang datang

bisa kita tolak,

dan tak semua yang hilang

bisa kita tahan.


Ini tentang hati yang pelan-pelan paham,

bahwa hidup tak selalu tentang menang,

tapi tentang menerima

apa yang tak bisa diubah,

dan tetap bernapas dengan utuh

meski luka belum sembuh