PESAN LEMBUT UNTUK JIWA

Wajahmu akan berubah, seiring waktu berlalu,

Keriput singgah pelan, tanpa bisa ditolak atau disuruh.

Tubuhmu juga akan berubah, melemah dalam diam,

Tak sekuat dulu saat langkahmu ringan menantang malam.


Namun jangan risau pada bayang yang memudar,

Sebab cahaya sejati tak tinggal di cermin yang retak.

Satu-satunya keindahan yang tak akan pudar,

Adalah kebaikan yang tertanam dalam hatimu yang lembut dan bijak.


Ia tumbuh dalam diam, tapi mengakar kuat,

Melewati waktu, musim, dan segala warna hayat.

Bukan hiasan fana yang dipuja mata,

Tapi keindahan abadi—yang dikenang jiwa-jiwa.


NIKMAT PAGI YANG TAK TERBELI



Uang bisa membeli kasur empuk dan lampu temaram,

Obat tidur dan suasana yang nyaman.

Tapi ia tak mampu membeli rasa tenang,

Apalagi jaminan untuk bisa terbangun esok pagi.


Ada yang malamnya panjang dalam derita,

Berharap pagi membawa cahaya.

Namun tak semua diberi kesempatan kedua—

Untuk membuka mata dan melihat dunia.


Maka jika pagi ini kita terbangun,

Tanpa alarm, tanpa sentuhan,

Hanya karena kasih Tuhan

Yang meniupkan hidup ke dalam tubuh yang lelah

Bersyukurlah bukan hanya karena nyawa masih ada,

Tapi karena itu tanda:

Masih ada tugas, masih ada makna,

Masih ada cinta Tuhan yang belum selesai untuk kita.


Karena bangun pagi bukan sekadar rutinitas,

Tapi anugerah yang tak semua orang dapat wariskan.

Jangan anggap biasa,

Sebab detik itu bisa jadi bekal surga—atau ujian yang meminta jawabannya.




DALAM RINDU YANG SIBUK

Di antara jadwal yang padat,  

di sela kerja yang tiada henti,  

kita saling mencari,  

tanpa pernah lelah merindui.  


Waktu berlari, tugas menumpuk,  

namun di hatiku, kau tak pernah tergerus,  

cinta kita bukan sekadar temu,  

tapi kepercayaan yang tumbuh tanpa ragu.  


Aku tahu kau sibuk,  

kau tahu aku pun tak selalu luang,  

tapi kita mengerti, kita percaya,  

bahwa kasih tak diukur dari berapa sering berjumpa.  


Dan saat dunia memberi jeda,  

saat tatap kita akhirnya menyatu,  

segala rindu tak lagi terucap,  

hanya terserap dalam dekap.  


Kita adalah bukti,  

bahwa cinta tak perlu selalu hadir,  

cukup mengisi ruang hati,  

dengan percaya yang tak pernah pudar


Dari Pelukan Kecil, Kini Mereka Berlari

Dulu...

Kami menyambut mereka dalam pelukan kecil

Tangis tanpa ayah, senyum yang tetap kuat walau kehilangan arah.

Satu per satu kami datangi, bukan sekadar memberi,

tapi mendengarkan... merangkul... menemani tumbuhnya harapan.


Hari ini, mereka berlari kecil ke sekolah

dengan seragam yang dulu hanya mimpi,

dengan tawa yang kini tak lagi diselimuti sepi.

Mereka tumbuh... dan kami menjadi saksi

bahwa kasih yang tulus tak pernah sia-sia.


Ada rindu di dada ini

rindu mengetuk pintu rumah mereka,

rindu cerita polos dan peluk hangat dari anak-anak luar biasa.

Semoga kelak, langkah kaki kami kembali diberi daya,

untuk menjemput senyum mereka satu per satu...

dalam kasih yang tak pernah padam.


Untuk anak-anak binaan tercinta, dari LKSA Peduli Sahabat Batang


DEKAPAN ALAM

Berbisik tanpa ucap,

angin menitipkan rindu yang tak sempat tersampaikan.

Merawat luka tanpa tanya,

hujan diam-diam membersihkan jejak duka yang tertinggal.


Menjadi obat tanpa resep,

mentari menyusup lembut ke relung jiwa yang rapuh.

Dan memeluk tanpa lengan,

senja menggenggam sepi tanpa perlu banyak kata.


Biarkan hatimu pulih,

dalam dekapan alam yang tak pernah menuntut,

hanya menerima dan menyembuhkan dalam diam.