CAHAYA DALAM GELAP

Jangan bersinar di tempat yang terang,  

di sana, gemerlap sudah berlimpah,  

mata yang memandang tak akan bertanya,  

siapa kau, cahaya kecil yang bercahaya?  


Namun di gelap, meski redup sinarmu,  

kau adalah harapan yang tak tergantikan,  

seberkas lembut, secercah tenang,  

keindahanmu hadir dalam kesunyian.  


Tak perlu menjadi bintang di langit yang ramai,  

cukup jadi lentera di malam yang sepi,  

sebab dalam gulita yang menelan dunia,  

cahayamu adalah arti,  

adalah keindahan,  

adalah hidup bagi yang mencari.


TUMPAHKAN PADA-NYA

Jangan tumpahkan segalanya pada manusia,

Karena pandangan mereka sebatas mata,

Hanya mampu menilai dari rupa,

Tak selalu paham luka yang tersembunyi di dada.


Mereka terbatas dalam mengerti,

Hanya menebak dari yang mereka lihat dan dengar,

Sedang hatimu,

adalah samudera yang dalam,

tak terselami oleh sekadar nalar.


Tumpahkanlah segalanya kepada Allah,

Dzat yang tak pernah alpa memahami,

Yang tahu tiap desah napas dalam diam,

Yang mendengar bisik doa, meski hanya di hati.


Dia Maha Mengetahui apa yang tak terucap,

Maha Bijaksana dalam tiap keputusan yang ditetapkan,

Maha Berkehendak atas tiap takdir yang dijalankan—

tak pernah keliru, tak pernah terlambat datang.


Maka tenanglah, wahai jiwa yang resah,

Tak perlu semua orang mengerti,

Cukup Allah yang tahu dan menguatkan,

Di situlah letak ketenangan sejati.


PESAN LEMBUT UNTUK JIWA

Wajahmu akan berubah, seiring waktu berlalu,

Keriput singgah pelan, tanpa bisa ditolak atau disuruh.

Tubuhmu juga akan berubah, melemah dalam diam,

Tak sekuat dulu saat langkahmu ringan menantang malam.


Namun jangan risau pada bayang yang memudar,

Sebab cahaya sejati tak tinggal di cermin yang retak.

Satu-satunya keindahan yang tak akan pudar,

Adalah kebaikan yang tertanam dalam hatimu yang lembut dan bijak.


Ia tumbuh dalam diam, tapi mengakar kuat,

Melewati waktu, musim, dan segala warna hayat.

Bukan hiasan fana yang dipuja mata,

Tapi keindahan abadi—yang dikenang jiwa-jiwa.


NIKMAT PAGI YANG TAK TERBELI



Uang bisa membeli kasur empuk dan lampu temaram,

Obat tidur dan suasana yang nyaman.

Tapi ia tak mampu membeli rasa tenang,

Apalagi jaminan untuk bisa terbangun esok pagi.


Ada yang malamnya panjang dalam derita,

Berharap pagi membawa cahaya.

Namun tak semua diberi kesempatan kedua—

Untuk membuka mata dan melihat dunia.


Maka jika pagi ini kita terbangun,

Tanpa alarm, tanpa sentuhan,

Hanya karena kasih Tuhan

Yang meniupkan hidup ke dalam tubuh yang lelah

Bersyukurlah bukan hanya karena nyawa masih ada,

Tapi karena itu tanda:

Masih ada tugas, masih ada makna,

Masih ada cinta Tuhan yang belum selesai untuk kita.


Karena bangun pagi bukan sekadar rutinitas,

Tapi anugerah yang tak semua orang dapat wariskan.

Jangan anggap biasa,

Sebab detik itu bisa jadi bekal surga—atau ujian yang meminta jawabannya.




DALAM RINDU YANG SIBUK

Di antara jadwal yang padat,  

di sela kerja yang tiada henti,  

kita saling mencari,  

tanpa pernah lelah merindui.  


Waktu berlari, tugas menumpuk,  

namun di hatiku, kau tak pernah tergerus,  

cinta kita bukan sekadar temu,  

tapi kepercayaan yang tumbuh tanpa ragu.  


Aku tahu kau sibuk,  

kau tahu aku pun tak selalu luang,  

tapi kita mengerti, kita percaya,  

bahwa kasih tak diukur dari berapa sering berjumpa.  


Dan saat dunia memberi jeda,  

saat tatap kita akhirnya menyatu,  

segala rindu tak lagi terucap,  

hanya terserap dalam dekap.  


Kita adalah bukti,  

bahwa cinta tak perlu selalu hadir,  

cukup mengisi ruang hati,  

dengan percaya yang tak pernah pudar