10 HARI TERBAIK DI BULAN DZULHIJJAH

 Dalam 10 hari terbaik, aku hadir setengah sadar,

Puasa kujalani, tapi doaku tertinggal di antara kesibukan yang berputar.

Bukan aku tak rindu pada-Mu, ya Allah…

Hanya saja, aku sering kalah oleh waktu, oleh tanggung jawab yang tak mau menunggu.


Aku takut… takut jadi hamba yang hanya kuat di luar,

Tapi kosong di hadapan-Mu, ya Rabb…

Aku ingin menangis dalam sujud, tapi kadang bahkan sujudku pun terburu,

Karena terlalu banyak yang harus aku urus, terlalu banyak yang aku jaga agar tak runtuh.


Namun Engkau tahu… Engkau selalu tahu.

Air mataku yang tak sempat mengalir,

Letihku yang tak sempat aku adukan,

Dan doa-doa yang hanya sempat kupeluk dalam hati.


Ampuni aku, ya Allah… peluk aku yang belum sempurna ini,

Bantu aku agar tetap kuat, dan jangan biarkan hatiku jauh dari-Mu lagi.


KEPEDULIAN BUKAN SOAL JARAK

Kepedulian

Tidak ada kaitannya dengan dekat atau jauhnya jarak...

Ada yang jauh,

Tapi hatinya selalu hadir di setiap luka dan tawa kita,

menanyakan kabar yang bahkan kita sendiri lupa menjawabnya,

Diam-diam mendoakan saat kita tak tahu harus berharap pada siapa...


Ada pula yang dekat,

Bahkan tinggal di seberang tembok hati kita,

Tapi tak pernah tahu apa yang sedang kita rasa,

Sibuk dengan dirinya sendiri,

seakan kita tak pernah ada.


Kedekatan tidak menjamin perhatian,

Dan jarak tidak selalu menciptakan asing.

Karena yang benar-benar peduli,

Selalu tahu caranya hadir 

Meski tanpa suara, tanpa tatap, tanpa genggam.

Cukup dengan rasa…

yang tak pernah pergi, bahkan saat dunia menjauhkan.


HADIAH DARI ALLAH

 Jangan ragu menanam kebaikan,  

Meski tak selalu berbuah ucapan.  

Karena tangan yang memberi,  

Takkan pernah kehilangan.  


Manusia mungkin melupakan,  

Kadang bahkan mengabaikan.  

Tapi langit mencatat setiap bisikan,  

Setiap niat yang kau tanamkan.  


Hadiahnya bukan pujian fana,  

Bukan tepuk tangan dunia.  

Tetapi kehangatan yang tak terlihat,  

Rahmat yang turun dari Yang Maha.  


Teruslah menjadi baik,  

sebab kebaikan tak pernah sia-sia.


LANGIT PELARIAN

 Andai manusia bisa terbang,  

mungkin langit tak lagi luas.  

Dipenuhi oleh jiwa-jiwa lelah,  

melarikan diri tanpa arah.  


Sayap angan mengepak tinggi,  

Meninggalkan sunyi di bumi.  

Namun, apakah langit menjanjikan  

pelukan yang lebih menghangatkan?  


Karena dalam tiap langkah yang hilang,  

terbentang tanya yang tak terjawab:  

Apakah benar pergi adalah pilihan

Atau hanya ingin membawa luka, menghindari tanya?


DIRI SENDIRI

 Jadilah pijakan saat langkah terasa goyah,  

Penguat di kala hati hampir menyerah.  

Sebab yang paling memahami luka,  

Adalah diri sendiri, yang merasakannya.  


Bukan orang lain yang menentukan arah,  

Bukan suara asing yang menggurat resah.  

Tetapi tanganmu sendiri yang menguatkan,  

Dan hatimu yang tetap bertahan.  


Dalam sunyi, temukan ketenangan,  

Dalam lelah, berikan pelukan.  

Sebab kekuatan sejati ada di dalam diri,  

Menemani setiap langkah, tanpa henti