YANG TAHU ARAH, BELUM TENTU BERANI MELANGKAH

Tak semua yang tahu arah

siap menantang gelapnya langkah.

Ada yang menyimpan peta dalam dada,

Namun tak pernah berani membuka gerbang pertama.


Karena tahu bukan berarti siap,

Dan sadar bukan berarti sanggup.

Kadang ada keraguan yang tertanam dalam,

Pengalaman hidup yang membuat hati jadi diam.


Berapa banyak jiwa yang menunggu,

Bukan karena tak tahu ke mana melaju,

Tapi karena takut meninggalkan zona semu

yang lama-lama mengurung jiwa dan waktu.


Padahal…

Arah hanyalah janji,

 Langkahlah bukti sejati.

Tanpa keberanian untuk mulai,

Takkan pernah sampai ke cahaya yang dituju.


Beranilah…

Meski gemetar,

Meski sendiri.

Karena yang benar-benar hidup

Adalah mereka yang memilih melangkah,

Bukan hanya mereka yang tahu arah.


24 JAM SERASA TAK CUKUP

Di balik senyum yang tetap terukir,  

ada tumpukan tugas yang tak kunjung berakhir.  

Laptop menyala, printer berdetak,  

telepon berdering, semua serba mendesak.  


Jam digital terus berlari,  

mengejar mimpi yang belum sempat ditulis lagi.  

Di kepala, suara-suara ingin berhenti,  

tapi hati tetap berbisik: "Bismillah, aku bisa hari ini."  


Meski waktu serasa tak cukup,  

aku tetap hadir, meski rapuh.  

Karena aku bukan sekadar sibuk,  

aku sedang bertumbuh


TOPENG TAWA

 Kamu tahu nggak…

Orang yang paling cerewet,

paling ramai dengan canda,

yang tampak paling kuat di mata dunia—

bisa jadi menyimpan luka

yang tak pernah sempat dicerita.


Depresi tak selalu berwajah murung,

kadang ia datang dengan senyum paling terang,

dengan tawa yang menggema,

yang ternyata hanya topeng semata.


Di balik candanya,

ada sunyi yang menggigit.

Di balik tawanya,

ada air mata yang sengit.


Jangan remehkan senyum orang lain,

karena bisa jadi,

itulah cara mereka bertahan hari demi hari


UJUG UJUG MELINTAS

Terkadang,  

tanpa aba-aba,  

aku tersenyum lirih,  

di tengah sepi yang bersandar di bahuku sendiri.  


Hanya karena wajahmu

datang,  

melintas pelan di kepala,  

seolah langit sore menitipkan bayangmu lewat angin.  


Efek rindu, mungkin.  

Atau doaku yang menjelma menjadi kenangan  

lalu singgah tanpa permisi—  

membuat dadaku hangat,  

meski kau tak di sin


DALAM DOA, AKU MENEMUKANMU

Setiap hari,  

aku belajar memelukmu dalam doa—  

bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat  

di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.


Aku belajar,  

bahwa rindu tak selalu perlu reda,  

cukup ia kuat… agar tak patah.


Dan anehnya,  

dalam gelombang jarak yang sunyi,  

aku tetap bersyukur.


Karena dari jutaan kemungkinan,  

Tuhan memilihkan kamu—  

penenang yang tak bersuara,  

tapi mampu meredakan ributku,  

meski hanya dari kejauhan