KARENA ALLAH MAHA MELIHAT


Di jalan sunyi perjuangan,

Ada hati-hati yang tetap bertahan.

Tak digaji, tak selalu dipuji,

Tapi memilih melangkah demi kemanusiaan yang hakiki.


Ada yang memberi dengan diam,

Ada yang memberi dengan ramai.

Ada yang peduli sampai ke detail,

Bahkan memikirkan ongkos dan lelah yang mengiringi amal.


Terkadang harus merogoh saku sendiri,

Untuk administrasi, logistik, atau sekadar transportasi.

Namun semua dijalani dengan senyum,

Karena keyakinan bahwa semua ini bukan untuk dunia semata.


Dunia sosial memang tak selalu mudah,

Tak semua berjalan lurus seperti yang diharap.

Namun di tengah segala ujian dan celah,

Selalu ada cahaya: Allah yang Maha Melihat segala langkah.


Pejuang kemanusiaan tak selalu punya panggung,

Namun mereka punya langit sebagai saksi.

Tak selalu dipeluk oleh manusia,

Namun selalu dijaga oleh Yang Maha Cinta.


Teruslah melangkah,

Walau pelan, walau sendiri.

Karena di balik letih yang tersembunyi,

Ada pahala yang Allah simpan abadi.

PERTEMUAN YANG MEMBEKAS (aku tulis untuk sang leader CAA)

Bukan sekadar nama yang Kudengar dari layar,

Tapi jejak langkah yang menggerakkan banyak hati,

Tentang perjuangan, tentang kepedulian,

Yang tak pernah lelah meski harus menembus sunyi.


Hari ini, aku menatap sosok itu nyata,

Dengan mata berkaca, dada penuh haru,

Langkah kecilku tiba di samping orang besar,

Yang tetap sederhana dalam kebaikan yang tak pernah semu.


Terima kasih telah menjadi cahaya,

Bukan hanya di jalan mereka yang membutuhkan,

Tapi juga bagi kami yang sedang belajar mencintai sesama

Dengan cara paling tulus—tanpa banyak suara.


Cak Bolang Sang Explore 

Semoga Alloh jaga setiap langkahmu,

Dan kami di belakangmu…

Akan terus belajar untuk mengikuti jejak kebaikanmu.


SELAMAT PAGI SEMESTAKU

Selamat pagi, semestaku tersayang,

Yang kutitipkan rindu pada desir embun tenang.

Langitmu masih biru, walau hatiku kelabu,

Namun di sinimu, selalu ada ruang rindu yang syahdu.


Kupeluk pagi dengan mata setengah terbuka,

Menyusuri napasmu lewat sinar mentari yang pertama.

Kau ajari aku arti sabar dalam hembusan angin,

Dan tentang cinta yang tak pernah memilih untuk pergi.


Semestaku,

Kau bukan sekadar ruang tanpa suara,

Kau adalah tempat doaku berlabuh,

Saat kata tak cukup, dan dunia terasa lusuh.


Selamat pagi,

Untuk segala harap yang berani tumbuh lagi.

Untuk cinta yang diam-diam memeluk hati,

Dan semesta… yang tak lelah menuntunku kembali


LANGKAH YANG TERTUNDA

Di ujung senja ia berdiri,  

perempuan berhijab, menggenggam sunyi.  

Jalan di hadapannya berhiaskan cahaya lembut,  

tapi hatinya masih menimbang: siapa yang akan tinggal, siapa yang akan ikut.


Ia tahu arah

arah ke cahaya, ke cita-cita, ke ikhlas yang belum sepenuhnya tuntas.  

Tapi keberanian bukan hanya tahu,  

ia adalah doa yang digenggam erat dalam dada yang ragu.


Angin membelai jilbabnya pelan,  

seakan berkata: “tak apa jika belum sekarang.”  

Dan di langit senja yang mulai ungu,  

seekor burung melintas pelan, menjadi tanda…  

bahwa langkah itu akan datang, dengan izin-Nya.


YANG TAHU ARAH, BELUM TENTU BERANI MELANGKAH

Tak semua yang tahu arah

siap menantang gelapnya langkah.

Ada yang menyimpan peta dalam dada,

Namun tak pernah berani membuka gerbang pertama.


Karena tahu bukan berarti siap,

Dan sadar bukan berarti sanggup.

Kadang ada keraguan yang tertanam dalam,

Pengalaman hidup yang membuat hati jadi diam.


Berapa banyak jiwa yang menunggu,

Bukan karena tak tahu ke mana melaju,

Tapi karena takut meninggalkan zona semu

yang lama-lama mengurung jiwa dan waktu.


Padahal…

Arah hanyalah janji,

 Langkahlah bukti sejati.

Tanpa keberanian untuk mulai,

Takkan pernah sampai ke cahaya yang dituju.


Beranilah…

Meski gemetar,

Meski sendiri.

Karena yang benar-benar hidup

Adalah mereka yang memilih melangkah,

Bukan hanya mereka yang tahu arah.