Di puisiku,
kau akan temukan air mata dan senyuman
menempel pada kaca yang sama
berembun oleh rasa,
bergetar oleh kenangan yang belum reda.
Satu sisi menyimpan luka
yang tak pernah berteriak.
Satu sisi memantulkan cahaya
yang tetap tersenyum,
meski hati belum utuh sepenuhnya.
Jika suatu hari puisiku hilang,
jangan panik,
jangan mencari-carinya di antara kertas yang berserakan.
Temukan aku
dalam suara hening
yang hanya bisa didengar oleh hati yang pernah mengenal sunyi.
Di sana,
aku akan tetap bercerita
tanpa huruf,
tanpa suara,
hanya lewat getar
yang kau rasakan saat menyebut namaku dalam doa.




