RINDU

Lucu ya,

kalau kamu jauh, aku bisa tiba-tiba kangen,

tapi kalau kamu dekat, meski jarang jumpa,

aku justru tenang.


Mungkin karena aku tahu,

kita sibuk bukan berarti saling lupa,

dan diam kita bukan akhir dari rasa.


Cinta kita tidak berisik,

ia tidak butuh kabar tiap jam

atau janji yang harus diulang-ulang.

Ia cukup tahu…

bahwa di sela kesibukan,

kita tetap saling titip nama

di dalam doa yang lirih.


PADATNYA SUNYI

Semakin sunyi seseorang,  

semakin ramai dunia yang ia bawa ke dalam dada.  

Bukan karena ia tak ingin bersuara,  

tetapi karena di balik diamnya,  

ada gugusan rencana,  

pikiran yang saling berdesakan,  

dan cita-cita yang belum sempat dirumuskan.


Langkahnya tenang,  

namun kepalanya riuh oleh tanya, oleh harapan yang ingin disusun,  

seperti langit senja yang tampak diam,  

padahal sedang menyimpan peralihan dari terang ke gelap.


Mereka yang sunyi bukan kosong,  

mereka penuh, oleh dunia yang tak semua orang bisa lihat,  

tapi Alloh tahu,  

dan di sanalah makna tinggal dalam senyap.




SEPERTI SENYUM YANG MENULAR

Seperti senyum, yang menular,  

ia berjalan dari wajah ke wajah,  

dengan langkah pelan tapi pasti,  

membawa terang pada hari yang biasa.


Kalau kau tersenyum hari ini,  

maka hatiku pun ikut bernyanyi,  

karena dalam senyummu ada aku,  

yang menemukan makna sederhana dari bahagia itu.


Tak perlu kata, tak perlu sapa,  

cukup lengkung kecil di bibirmu saja

maka dunia terasa lebih ramah,  

dan aku, tak lagi sendiri di dalamnya.


Rindu yang Turun Bersama Matahari

Pagi belum sepenuhnya bangun,

Tapi rinduku sudah duduk di sisi jendela.

Menyeruput hangat matahari,

Sambil membayangkan senyummu yang jauh di sana.


Angin pelan menyapu tirai,

seolah menyampaikan bisik:

“Dia juga merindukanmu, tenanglah.”


Tak ada yang lebih romantis

Dari pagi yang dibuka dengan doa untukmu.

Walau tak bersua,

Kita tetap satu arah:

Menuju hari yang penuh cinta, meski dari jarak


Kita Memandang Langit yang Sama

 Di malam yang diam,

Aku mencari wajahmu dalam cahaya bulan

Dan kusampaikan salam lewat bintang-bintang

Yang berpendar, menjadi saksi betapa rindu ini tak pernah redup.


Jarak memang membuat langkahmu tak terlihat,

Tapi doaku sudah lama lebih dulu sampai.

Sujud demi sujud, kusebut namamu

Dalam diam yang hanya Allah dengar.


Sebab cinta yang benar tak selalu bicara,

Tapi ia mendoakan.

Dan rindu yang suci

adalah yang tak memaksa, Hanya menunggu dalam sabar

Dan menyandarkan hatinya kepada Rabb yang Maha Membolak-balikkan rasa.


Jika kau tahu betapa sunyinya malam tanpa kabar,

Ketahuilah, ada zikir yang menyelipkan namamu,

Ada air mata yang jatuh,

bukan karena lemah,

Tapi karena berharap Allah menyatukan

Dua jiwa yang sama-sama memilih-Nya.


Malam ini aku menatap langit yang sama,

Seperti yang kau pandangi di tempatmu.

Di sanalah kita bertemu,

Dalam harap, dalam iman,

Dalam cinta yang tak pernah sendirian

Karena Allah selalu jadi perantara rindu