PERGI LEBIH DULU

Orang baik,

Memang sering pergi lebih dulu.

Bukan karena kalah,

Tapi karena sudah cukup menang

Melawan dunia yang keras dan sempit.


Sakitnya,bukan hukuman 

tapi cara Alloh

membersihkan langkahnya menuju surga.


Dan kini… ia pulang,

Tanpa pamit,

Tapi membawa sejuta doa yang menyertainya.


Selamat jalan,

Aku saksi bahwa kamu

adalah titipan Alloh yang indah

Yang kini telah kembali

pada Pemiliknya.






LANGIT DI DADA


Di tengah gelap yang datang perlahan,  

lampu padam, dunia jadi tenang.  

Tapi tak satu pun cahaya hilang,  

karena di dadanya, langit tetap terang.


Tangan menari di atas kertas,  

huruf-huruf lahir dari cahaya batin.  

Tak butuh gemerlap kota yang bising,  

cukup satu lentera, dan hati yang yakin.


Ia menulis bukan sekadar kata,  

tapi doa yang menyala di tiap jeda.  

Di ruang kecil, di waktu yang sempit,  


ia bawa langit turun, ke dalam setiap kalimat yang ia titip


CAPEK GA?

“Capek, ga?”

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Tiga kata pendek, tanpa hiasan,

tapi bisa membelah sunyi yang kita peluk rapat-rapat setiap malam.


Karena sering kali…

yang kita butuhkan bukan solusi,

bukan nasihat panjang,

tapi pengakuan bahwa apa yang kita rasa… nyata.

Bahwa lelah ini bukan cuma ada di dalam kepala.


“Capek, ga?”

Itu bukan sekadar tanya.

Itu cara paling halus untuk berkata:

“Aku lihat kamu,

dan aku tahu kamu berjuang.”


Kadang kita jawab,

“enggak kok…” sambil senyum kecil,

padahal dada rasanya sesak seperti langit yang menahan hujan.

Seolah kata-kata itu terlalu sempit

buat menjelaskan beratnya bertahan sendirian.


PELAN TAK APA

Untuk diriku, yang sedang belajar pulang

Pelan tak apa

selama langkahmu masih jujur pada hati.

Biarkan dunia berlomba,

kau cukup jadi penonton yang tenang,

menyeduh keberanian dalam diam.


Tak perlu selalu gagah,

cukup pulih hari ini tanpa terburu.

Karena mencintai diri,

kadang artinya membiarkan luka bernapas,

tidak ditekan, tidak disembunyikan… 

hanya ditemani.


Dan pada akhirnya,

yang kau butuhkan bukan finish line

tapi tanganmu sendiri yang tak lagi tergenggam erat kesedihan.

Pelan tak apa,

asal pulangnya tetap ke dirimu. 

Ga Pa Pa, katanya

Di balik senyum yang tak bersuara,

ada luka yang tak pernah minta diberi nama.

“Ga apa-apa,” katanya ringan,

padahal hatinya sedang hujan pelan-pelan.


Langit di matanya mendung perlahan,

tapi ia tetap memilih diam,

karena kadang bicara pun tak cukup menjelaskan,

betapa lelahnya jadi kuat sendirian.


Tak semua yang tertahan itu tak berarti,

tak semua yang diam itu tak peduli.

Ada cinta dalam redanya,

ada harap dalam sunyinya.


“Ga apa-apa” bukan berarti tak sakit,

hanya cara paling lembut untuk tetap bertahan dalam sunyi yang tak menghakimi.