Peluklah Diri Sendiri (untuk segala hal yang membuatmu lelah)

Peluklah diri sendiri,  

seperti langit memeluk senja dalam tenang.  

Untuk setiap letih yang tak terucap,  

Allah tahu—dan itu cukup.


Peluklah diri sendiri,  

karena hatimu telah berjalan jauh,  

melewati badai yang tak semua orang lihat.  

Dan dalam setiap langkah tersembunyi,  

ada malaikat yang mencatat sabarmu.


Peluklah diri sendiri,  

bukan karena kau lemah,  

tapi karena kau telah kuat terlalu lama.  

Istirahatlah dalam dzikir,  

biarkan namanya menjadi pelipur lelahmu.


Peluklah diri sendiri,  

sebab Rabb-mu tak pernah jauh.  

Dalam sujud yang lirih,  

dalam doa yang nyaris tak bersuara,  

Dia mendengar segalanya.




"Lelah yang Tak Bisa Diceritakan"

Ada lelah yang tak bisa diceritakan,
seperti mendung yang memilih diam di langit,
bukan karena tak ingin turun hujan,
tapi karena takut tak ada yang sudi meneduh.

Ada letih yang tak tahu ke mana pulang,
ditelan rutinitas,
dipeluk harapan,
disesap sepi yang tak minta pengertian.

Ingin menangis,
tapi mata sudah biasa kering.
Ingin bercerita,
tapi kata tak tahu harus ke mana berjalan.

Maka kutulis diam dalam hati,
kusimpan retak di balik senyuman.
Biar lelah ini tetap berwibawa,
meski diam-diam ingin rebah dan hilang sementara.

Karena tidak semua luka butuh suara,
tidak semua penat bisa diterka.
Ada yang cukup Tuhan saja yang tahu…
dan itu… cukup membuatku bertahan.



Ruang Ikhlas

Selalu sisakan ruang…

untuk ikhlas yang diam-diam tumbuh,

di antara harapan yang tiba-tiba runtuh.


Sebab hidup kadang tak mengetuk,

ia masuk tiba-tiba, membawa kecewa

yang tak pernah sempat kita jaga.


Bukan salahmu berharap,

dan bukan salah siapa pun saat kenyataan memilih arah lain.

Yang perlu…

hanya sepotong hati yang bersedia melunak,

dan ruang kecil di dalam dada

untuk menerima

apa yang tak bisa kita ubah.


Sebab tak semua luka datang untuk melukai,

kadang… ia datang agar kita lebih pandai

memaafkan,

melepaskan,

dan melanjutkan.




PERGI LEBIH DULU

Orang baik,

Memang sering pergi lebih dulu.

Bukan karena kalah,

Tapi karena sudah cukup menang

Melawan dunia yang keras dan sempit.


Sakitnya,bukan hukuman 

tapi cara Alloh

membersihkan langkahnya menuju surga.


Dan kini… ia pulang,

Tanpa pamit,

Tapi membawa sejuta doa yang menyertainya.


Selamat jalan,

Aku saksi bahwa kamu

adalah titipan Alloh yang indah

Yang kini telah kembali

pada Pemiliknya.






LANGIT DI DADA


Di tengah gelap yang datang perlahan,  

lampu padam, dunia jadi tenang.  

Tapi tak satu pun cahaya hilang,  

karena di dadanya, langit tetap terang.


Tangan menari di atas kertas,  

huruf-huruf lahir dari cahaya batin.  

Tak butuh gemerlap kota yang bising,  

cukup satu lentera, dan hati yang yakin.


Ia menulis bukan sekadar kata,  

tapi doa yang menyala di tiap jeda.  

Di ruang kecil, di waktu yang sempit,  


ia bawa langit turun, ke dalam setiap kalimat yang ia titip