Untuk Mbak Endah, dengan hati yang tulus


Aku pernah merasa dunia terlalu sunyi,
saat langkah-langkahku berat dan sendiri,
lalu Allah kirimkan dirimu,
sebagai bukti bahwa kebaikan itu nyata,
dan kasih sayang bisa hadir tanpa diminta.

Mbak Endah...
entah dari mana harus kumulai mengucap terima kasih,
karena bahkan rasa syukurku pun tak cukup untuk membalas
apa yang telah Mbak berikan dalam diam,
dengan tulus, tanpa pernah meminta kembali.

Doaku hari ini dan seterusnya,
semoga Allah selalu menyelimutimu dengan rahmat,
menjagamu dalam sebaik-baik penjagaan,
dan menumbuhkan kebahagiaan yang tak pernah layu
di setiap musim hidupmu.

Barakallahu fii umrik, Mbak Endah…
Semoga setiap langkahmu dilapangkan,
dan setiap niat baikmu diganjar surga tanpa hisab.

Dari aku,
yang menulis ini sambil menangis,
karena terlalu banyak kebaikanmu yang tinggal di hatiku.

SELAMAT DATANG SAFAR

Muharram telah berlalu,  

Meninggalkan jejak doa yang belum selesai kusebut.  

Langkahku masih basah oleh airmata rindu,  

Namun Safar mengetuk dengan tenang:  

“Sudah waktunya berjalan lagi.”


Ya Allah,  

Di bulan ini, tidak kupinta kemudahan tanpa hikmah,  

Hanya hati yang sabar,  

Jiwa yang tabah,  

Dan jalan pulang yang Engkau redai.


Safar,  

Kau bukan sekadar bulan sunyi,  

Kau ruang kosong tempat aku belajar percaya.  

Bahwa luka pun bisa jadi rahmat,  

Dan diam pun bisa jadi syukur.


Selamat datang, Safar.  

Ijinkan aku menjadi hamba  

Yang tak sekadar melangkah,  

Tapi kembali.


Cerpen terbaruku

Cerpen terbaruku sudah selesai…

Satu kisah nyata, kubungkus dalam fiksi.

Tapi… tak ada yang tahu siapa tokohnya.


📌 Next, kisah siapa lagi yang akan kuangkat?

Ada banyak cerita yang mengendap.

Tinggal menunggu waktu untuk kutulis.


Diam – Cermati – Eksekusi

Jangan-jangan… giliran kamu yang jadi tokoh berikutnya. 😌✍️



AKU HARI INI

Aku hari ini,

Memeluk pena dengan hati yang penuh,

Menulis kisah di sela tugas dan waktu,

Menyusun huruf demi huruf

di antara panggilan sosial dan kewajiban hidup.


Ada tanggung jawab yang mengetuk,

Ada jiwa yang harus dilayani,

Dan ada diriku sendiri

Yang masih ingin tumbuh,

masih ingin berarti.


Aku hari ini,

Menyeka lelah dengan senyum yang tak selalu terlihat,

Berjualan meski tubuh ingin rebah,

Menjawab satu per satu kebutuhan

Yang tak pernah menunggu esok.


Tapi aku tetap melangkah.

Bukan karena kuat,

Melainkan karena cinta

Dan rasa ingin terus berguna.


Aku hari ini

Bukan sempurna,

Tapi selalu mencoba

Jadi versi terbaik

Meski hari kadang berat terasa.


PENULIS ITU....

Ada jiwa yang tak bisa diam.  

Setiap detik jadi cerita, setiap rasa jadi aksara.  


Kadang aku menulis tentangka

Saat dunia terasa sempit dan kata jadi pelarian.  

Kadang tentangmu, atau mereka 


Puisi, cerpen, fragmen.  

Semua berujung sama:  

Cara tubuhku merawat luka  

Dan hati belajar memaafkan.


Karena bagi seorang penulis,  

Hidup bukan sekadar dijalani

Ia harus dituliskan.