Di Beranda yang Sunyi


Di beranda yang sunyi, waktu berhenti,

seorang jiwa duduk, berselimut pagi.

Genggaman ponsel, bukan sekadar benda,

ia menyimpan cerita, tawa, dan tanya.


Langit tak bicara, tapi daun mengerti,

bahwa diam pun bisa menjadi puisi.

Tiang kuning berdiri, saksi hari-hari,

di mana harapan tak pernah pergi.


Tanaman di pot, kecil tapi setia,

menemani langkah yang tak selalu nyata.

Dan jendela hijau, memantulkan dunia,

yang kadang jauh, kadang terasa dekat di dada.


Di kursi roda, bukan lelah yang terpeta,

melainkan kekuatan yang tak semua bisa baca.

Ia duduk, ia hidup, ia ada

dengan cara yang lembut, tapi luar biasa

Terima kasih

Di balik setiap karya yang aku bagikan,

Ada doa yang tak terdengar,

Ada harapan yang pelan-pelan tumbuh,

Dan ada kalian yang memilih untuk percaya.


Terima kasih untuk setiap dukungan,

Baik yang hadir lewat kata, pelukan virtual, senyuman, atau diam-diam mendoakan.

Kalian bukan sekadar penonton,

Kalian adalah bagian dari cerita yang sedang aku tulis.


Terima kasih untuk teman-teman yang selalu bilang,

“lanjut aja, kamu bisa.”

Untuk sahabat yang bantu promosi tanpa diminta.

Untuk followers yang kasih komentar hangat,

Dan untuk kalian yang cuma mampir tapi ninggalin jejak kebaikan.


Aku tahu, perjalanan ini belum selesai.

Masih banyak yang ingin aku bagi,

Tentang wangi yang menyembuhkan,

Tentang cerita yang ingin disuarakan,

Tentang mimpi yang pelan-pelan jadi nyata.


Tapi hari ini, izinkan aku berhenti sejenak,

untuk bilang:

Terima kasih. Dari hati yang masih belajar, tapi tak pernah berhenti berharap


Loving a Writer Through Harsh Criticism

Menjadi pasangan seorang penulis…

means standing beside someone

whose words are constantly judged.


Kadang dia terlihat kuat,

padahal hatinya baru saja runtuh

karena satu komentar:

“Cerita kamu nggak masuk akal.”


She smiles,

but you know that smile is stitched with self-doubt.


“Am I too much?”

“Is my writing too emotional?”

“Should I stop?”


And you remind her:

Her words have healed strangers.

Her stories have made people feel seen.


Kamu peluk dia,

bukan untuk membungkam rasa sakit…

tapi untuk menguatkan suara yang sempat gemetar.


Because loving a writer

means loving someone

who bleeds silently through every sentence.


Dan kamu adalah satu-satunya pembaca

yang tak pernah menuntut ending bahagia…

cukup dia tetap menulis,

dan tetap menjadi dirinya sendiri.


Terima kasih…

karena kamu nggak pernah minta aku jadi sempurna.

You just asked me to be real.

And for that…

I’ll keep writing,

with you in every page.


RAKOR LKKS

Di antara dinding hitam dan meja kayu,  

Kita duduk dalam lingkaran niat baik.  

Bukan sekadar menghadiri undangan,  

Tapi menyambung silaturahmi,  

Menguatkan ikatan, dan merajut rencana untuk kesejahteraan.  


Setiap senyum adalah semangat baru,  

Setiap bincang adalah langkah maju,  

Karena kita percaya,  

Kebaikan akan sampai lebih jauh, jika dijalankan bersama.  


Kamis itu menjadi saksi,  

LKKS tak hanya nama,  

Tapi rumah bagi hati

Yang ingin melayani.


ES TEH JUMBO

Di tengah terik yang membakar,

aspal mengepul, motor pun sabar,

keringat nempel, baju pun lepek,

haus datang, tenggorokan nyedek.


Melipir sejenak di pinggir jalan,

kulirik warung, hatiku tertawan.

"Teh manis jumbo, ya, esnya banyak!"

Sekejap, dunia terasa cerah nan lapang.


Seteguk dua teguk,

ademnya menusuk,

tenggorokan girang...

eh tapi, batuk!


Ternyata nikmat ada risikonya,

tapi tak apa, jiwaku bahagia.

Es teh jumbo, kamu tak bersalah,

yang salah akunya,


gak tahan godaan, padahal belum pulih total 😅