Di ruang ini, aku menata laporan dan harapan. Semoga Allah mudahkan, jangan persulit, dan sempurnakan dengan kebaikan.
Di balik laporan dan birokrasi, ada harap yang lirih
AKU PERCAYA JALAN-MU
Aku melangkah mendekat pada-Mu,
meski jalan dunia terasa sempit,
sandaran pergi, rezeki pun layu,
namun hati ini tak lagi sempit.
Hari berganti dengan kabar berat,
hutang menunggu, harap tersendat,
namun di dada tumbuh cahaya hangat,
menyembuhkan luka tanpa syarat.
Tak lagi kubiarkan resah berkuasa,
tak lagi kutanya mengapa begini,
sebab keyakinan kian terasa,
Engkau selalu ada di sisi.
Di genggaman-Mu kutemukan damai,
jalan keluar pasti Kau sediakan,
lebih indah dari mimpi yang usai,
lebih luas dari hitungan beban.
Senyum Palsu
Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,
aku belajar satu hal:
senyum bukan selalu tanda cinta.
Kadang, itu hanya formalitas.
Kadang, itu hanya strategi.
Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,
adalah teman.
Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh
agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”
Tapi aku tak marah.
Aku hanya lebih bijak sekarang.
Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.
“Senyum bisa menipu. Tapi intuisi jarang salah.”
Senyum itu manis,
tapi tidak selalu tulus.
Ada yang menyapa dengan cahaya,
ada pula yang menyimpan bayangan di balik mata.
Tidak semua yang tersenyum padamu,
mendoakanmu tetap utuh.
Beberapa hanya ingin melihatmu retak,
dengan wajah yang tetap ramah.
Jangan takut berjalan sendiri,
yang tulus akan tetap tinggal tanpa perlu topeng.
Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.
Lagi sumpek?
Jangan scroll terus.
Sebelum subuh, bisikkan:
Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.
Kadang kita nggak butuh solusi…
Cuma pengakuan bahwa kita lelah.
Allah tahu. Allah dengar




