24 Tahun Bersama Roda

24 tahun,  

bukan sekadar angka.  

Tapi perjalanan panjang bersama roda  

yang tak pernah berhenti berputar,  

meski langkahku tak lagi sama.


Pernah,  

di satu titik gelap,  

aku bertanya dalam diam:  

Kalau bukan dosa,  

mungkin aku sudah menyerah.”


Tapi Allah,  

dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku.  

Lewat doa ibu,  

 lewat senyum orang asing,  

lewat pagi yang tetap datang meski aku tak memintanya.


Kursi ini bukan penjara.  

Ia adalah saksi.  

Dari air mata yang tak terlihat,  

dari sabar yang tak dipuji,  

dari doa yang tak bersuara.


Aku belajar,  

bahwa kekuatan bukan soal berdiri.  

Tapi soal bertahan,  

saat dunia tak tahu betapa beratnya duduk.


Dan kini,  

aku tak lagi malu.  

Karena roda ini bukan kelemahan.  

Ia adalah sayapku,  

yang membawaku terbang dengan cara yang berbeda.


24 tahun,  

aku masih di sini.  

Masih hidup.  

Masih belajar.  

Masih berdoa.  

Dan itu…  

sudah cukup untuk disebut kuat.

Aku pernah berada di titik gelap,  

di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.  

Tapi Allah, dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku untuk tetap di sini.  

  

24 tahun di kursi ini,  

bukan sebagai beban…  

tapi sebagai bukti bahwa aku masih bisa bertahan.



PROMO E-BOOK

 Bismillah

Promo📚🆕

📖E-Book “Langit di Dada”

Dukung karya perempuan disabilitas ini👩‍🦽🥰

🏷️Harga terjangkau — info selengkapnya di tabel harga.

🕌 Setiap pembelian bukan sekadar transaksi, tapi bentuk dukungan agar langkah kecil ini tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan.

📱Pemesanan via WhatsApp 0895351869458

E-book dikirim otomatis setelah konfirmasi transfer


“Karena menulis bukan sekadar hobi, tapi caraku berdialog dengan takdir dan menenun harapan di setiap halaman.”


Di balik laporan dan birokrasi, ada harap yang lirih

Di ruang ini, aku menata laporan dan harapan. Semoga Allah mudahkan, jangan persulit, dan sempurnakan dengan kebaikan.


AKU PERCAYA JALAN-MU

Aku melangkah mendekat pada-Mu,

meski jalan dunia terasa sempit,

sandaran pergi, rezeki pun layu,

namun hati ini tak lagi sempit.


Hari berganti dengan kabar berat,

hutang menunggu, harap tersendat,

namun di dada tumbuh cahaya hangat,

menyembuhkan luka tanpa syarat.


Tak lagi kubiarkan resah berkuasa,

tak lagi kutanya mengapa begini,

sebab keyakinan kian terasa,


Engkau selalu ada di sisi.

Di genggaman-Mu kutemukan damai,

jalan keluar pasti Kau sediakan,

lebih indah dari mimpi yang usai,

lebih luas dari hitungan beban.



Senyum Palsu

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.