24 tahun,
bukan sekadar angka.
Tapi perjalanan panjang bersama roda
yang tak pernah berhenti berputar,
meski langkahku tak lagi sama.
Pernah,
di satu titik gelap,
aku bertanya dalam diam:
Kalau bukan dosa,
mungkin aku sudah menyerah.”
Tapi Allah,
dengan cara-Nya yang lembut,
menahan aku.
Lewat doa ibu,
lewat senyum orang asing,
lewat pagi yang tetap datang meski aku tak memintanya.
Kursi ini bukan penjara.
Ia adalah saksi.
Dari air mata yang tak terlihat,
dari sabar yang tak dipuji,
dari doa yang tak bersuara.
Aku belajar,
bahwa kekuatan bukan soal berdiri.
Tapi soal bertahan,
saat dunia tak tahu betapa beratnya duduk.
Dan kini,
aku tak lagi malu.
Karena roda ini bukan kelemahan.
Ia adalah sayapku,
yang membawaku terbang dengan cara yang berbeda.
24 tahun,
aku masih di sini.
Masih hidup.
Masih belajar.
Masih berdoa.
Dan itu…
sudah cukup untuk disebut kuat.
Aku pernah berada di titik gelap,
di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.
Tapi Allah, dengan cara-Nya yang lembut,
menahan aku untuk tetap di sini.
24 tahun di kursi ini,
bukan sebagai beban…
tapi sebagai bukti bahwa aku masih bisa bertahan.




