Sebanyak Kebaikan Nabi

Allahumma sholli wa sallim, 

Pada nama yang membuat langit bersujud, Muhammad, 

Cahaya yang tak padam, 

Yang setiap jejaknya adalah jalan kebaikan


Sebanyak kebaikan beliau, 

Sebanyak itu pula kami memohon rahmat, 

Karena tak ada bilangan yang cukup 

Untuk menampung cinta yang beliau wariskan.


Kami sebut namanya di Subuh yang sunyi, 

Di antara desir angin dan dzikir hati, 

Agar hidup kami ikut bercahaya, 

Meski hanya setitik dari samudera beliau.


Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi yang Engkau cintai, 

Kepada keluarganya yang menjaga warisan, 

Kepada sahabatnya yang menyalakan lentera zaman.

Sebanyak kebaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Sebanyak itu pula kami berharap Engkau mencintai kami, karena kami mencintai beliau.


Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘adada hasanaati sayyidina Muhammad.


Setenang Itu Aku Sekarang

Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.

Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.

Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.

Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.

Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,

cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata 

dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.

Sunyi yang Menenangkan

Di sunyi malam, aku belajar diam,

bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.

Ada bisikan lembut di dada,

mengajak pulang pada Yang Maha Ada.

Tiap hela napas terasa ringan,

seolah beban dunia dilepaskan perlahan.

Sholawat jadi jembatan rindu,

mendekat pada cahaya Rasul-Mu.

Tak ada lagi resah yang menggigil,

hanya damai yang menetes seperti embun subuh.

Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,

tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.

Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,

tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.



Doa sebelum tidur

Ya Allah,

malam ini aku serahkan segala lelah dan pikiranku pada-Mu.

Jika ada resah di hatiku, tenangkanlah dengan kasih-Mu.

Jika ada harap yang belum Engkau kabulkan,

jadikan aku sabar menunggu dengan keyakinan bahwa Engkau tahu waktu terbaik.


Lindungilah aku dalam tidurku,

jaga hatiku dari rasa takut dan gelisah.

Bangunkan aku di waktu terbaik,

untuk mengingat nama-Mu, memuji-Mu,

dan memohon ampun di sepertiga malam-Mu yang suci.


Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin 🤲🌿



HP BLACK SCREEN

Hari ini, HP-ku belum menyala. Black screen. Sunyi. Tapi justru di situ aku belajar: bahwa tak semua yang gelap berarti rusak. Kadang, Allah sedang mengajak kita diam, berhenti sejenak dari dunia yang bising.

Mungkin ini waktu untuk lebih banyak dzikir, lebih sedikit scroll. Waktu untuk menatap langit, bukan layar. Waktu untuk mendengar hati, bukan notifikasi.

Aku ridha. karena setiap kejadian, bahkan yang kecil dan remeh, bisa jadi jalan menuju cahaya. Qadarullah. Dan aku percaya, Allah tak pernah salah menulis takdir.



Di Sepertiga Malam Jum’at: Salam untuk Sang Rasul

Di kamar yang sunyi, 

Di antara dinding yang menyimpan dzikir, 

Aku bentangkan sajadah, 

Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.


Tasbih tergeletak di sisi, 

Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap, 

Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.

Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut, 

Seperti pelukan 

Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.


Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak” 

Bukan sekadar ucapan, 

Tapi doa yang mengalir 

Dari hati ke langit.


Wahai Rasulullah, 

Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah 

 Shalawat ini kutitipkan dalam malam, 

Dalam sepi yang penuh makna.


Engkau yang datang membawa cahaya, 

Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah. 

Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat, 

San sabar yang tak pernah padam.


Di malam Jum’at ini, 

Aku ingin menjadi hamba yang kembali, 

Yang tak hanya membaca, 

Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.


Aku ingin menjadi saksi, 

Bahwa malam bukan sekadar waktu, 

Tapi ruang untuk bertemu, 

Dengan Rabb yang Maha Mendengar.


Wahai jiwa, 

Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian. 

Karena di sepertiga malam, 

Ada pintu yang terbuka, 

Ada rahmat yang turun, 

Ada cinta yang menunggu untuk disambut.


Dan jika air mata jatuh, 

Biarlah itu menjadi saksi, 

Bahwa kau pernah berharap, 

Pernah mencintai, dan pernah kembali.