Ketika Aku Harus Melepaskanmu

Aku pernah mundur dari seseorang

bukan karena cinta ini padam,
bukan karena hatiku berhenti bergetar,
tapi karena ada hati lain
yang lebih memanggil namanya.

Ada tangan lain
yang lebih ia cari,
ada dekap lain
yang lebih menenangkan jiwanya.

Dan aku…
hanya menepi,
memberi ruang bagi takdir
untuk memilih tempat terbaik baginya.

Mundur bukan berarti kalah,
bukan berarti rasa ini berakhir.
Justru di sanalah cinta diuji—
mampu merelakan,
meski dada sendiri
yang paling terasa hampa.

Aku mundur dengan perlahan,
tanpa drama,
tanpa meminta ia kembali.
Sebab aku tahu,
di suatu tempat,
ada sosok yang lebih ia butuhkan…
dan ia pun lebih bahagia di sana.





Berhenti sejenak untuk sahur

Pukul 03.14, malam masih sunyi, dan aku berhenti sejenak dari laporan yang menumpuk.

Hanya segelas susu kedelai menemani sahur sederhana ini, tapi rasanya cukup untuk menenangkan hati yang lelah dan menyiapkan tubuh untuk hari yang panjang.

Dalam hening itu, aku membisikkan niatku:
“Nawaitu shauma dawud lillahi ta’ala.”
Puasa Daud, puasa sunnah selang sehari, aku jalani hanya karena Allah.

Tiada kemewahan, tiada yang terlihat—hanya kesederhanaan dan ketulusan hati.
Semoga sahur ini menjadi berkah, semoga puasa hari ini menguatkan tubuh dan jiwa, dan semoga setiap langkah kecilku hari ini dicatat sebagai amal shalih.

Dan meski malam masih panjang, aku yakin setiap detik yang kutitipkan pada Allah tidak akan sia-sia.
Bismillah… untuk kesabaran, untuk keberkahan, dan untuk hari yang Allah mudahkan.


Akhir Tahun 2025

Ada hari-hari ketika aku berjalan pelan,

Bukan karena lemah,

melainkan karena ingin lebih dekat pada-Nya.

Di antara sunyi dan sibuknya rasa,
seperti ada bisikan lembut dari langit:
“Tenanglah… Aku menjagamu.”

Maka aku tundukkan hati,
kulepaskan semua takut yang kupeluk terlalu lama,
kuserahkan seluruh perjalanan ini
pada Dia yang tak pernah meninggalkan.

Jika langkahku pelan,
biarlah, yang penting tetap menuju-Nya.

Dan di setiap jeda,
kusimpan doa:
semoga hidupku ditata
dengan cara paling indah oleh Allah,

meski aku hanya melangkah perlahan.








Di antara langkah pelan yang masih kujaga

Jika ada bab yang belum selesai, 

semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut. 

Jika ada pintu yang tertutup, 

semoga Engkau bukakan yang lebih baik. 

Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.


Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku