Kertas-kertas pun tahu rasanya rindu

Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,

tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.

Laptop menyala dalam sunyi,

mencatat rindu yang tak selesai-selesai.


Ada piagam, ada piala,

Kacamata tergeletak, diam saja,

tapi pernah melihat segalanya:

dari tawa yang hangat,

hingga tangis yang dipeluk malam.


Kertas-kertas itu,

seolah mengerti isi hati

mereka terbang ringan,

menuju namamu yang kusimpan rapi

di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.


Dan saat angin menyapa,

ia tak hanya membawa udara,

tapi juga pesan rindu…

yang perlahan terbang ke arahmu.


RINDU

Lucu ya,

kalau kamu jauh, aku bisa tiba-tiba kangen,

tapi kalau kamu dekat, meski jarang jumpa,

aku justru tenang.


Mungkin karena aku tahu,

kita sibuk bukan berarti saling lupa,

dan diam kita bukan akhir dari rasa.


Cinta kita tidak berisik,

ia tidak butuh kabar tiap jam

atau janji yang harus diulang-ulang.

Ia cukup tahu…

bahwa di sela kesibukan,

kita tetap saling titip nama

di dalam doa yang lirih.


PADATNYA SUNYI

Semakin sunyi seseorang,  

semakin ramai dunia yang ia bawa ke dalam dada.  

Bukan karena ia tak ingin bersuara,  

tetapi karena di balik diamnya,  

ada gugusan rencana,  

pikiran yang saling berdesakan,  

dan cita-cita yang belum sempat dirumuskan.


Langkahnya tenang,  

namun kepalanya riuh oleh tanya, oleh harapan yang ingin disusun,  

seperti langit senja yang tampak diam,  

padahal sedang menyimpan peralihan dari terang ke gelap.


Mereka yang sunyi bukan kosong,  

mereka penuh, oleh dunia yang tak semua orang bisa lihat,  

tapi Alloh tahu,  

dan di sanalah makna tinggal dalam senyap.




SEPERTI SENYUM YANG MENULAR

Seperti senyum, yang menular,  

ia berjalan dari wajah ke wajah,  

dengan langkah pelan tapi pasti,  

membawa terang pada hari yang biasa.


Kalau kau tersenyum hari ini,  

maka hatiku pun ikut bernyanyi,  

karena dalam senyummu ada aku,  

yang menemukan makna sederhana dari bahagia itu.


Tak perlu kata, tak perlu sapa,  

cukup lengkung kecil di bibirmu saja

maka dunia terasa lebih ramah,  

dan aku, tak lagi sendiri di dalamnya.


Rindu yang Turun Bersama Matahari

Pagi belum sepenuhnya bangun,

Tapi rinduku sudah duduk di sisi jendela.

Menyeruput hangat matahari,

Sambil membayangkan senyummu yang jauh di sana.


Angin pelan menyapu tirai,

seolah menyampaikan bisik:

“Dia juga merindukanmu, tenanglah.”


Tak ada yang lebih romantis

Dari pagi yang dibuka dengan doa untukmu.

Walau tak bersua,

Kita tetap satu arah:

Menuju hari yang penuh cinta, meski dari jarak