Aku tak ingin jadi kuat hari ini,
cukup ingin jadi jujur pada lelahku.
Karena mencintai diri,
bukan soal tangguh… tapi soal tahu kapan rehat.
Aku tak ingin jadi kuat hari ini,
cukup ingin jadi jujur pada lelahku.
Karena mencintai diri,
bukan soal tangguh… tapi soal tahu kapan rehat.
Pada langit yang menangis, kutemukan ketenangan
butir hujan merenda zikir di jendela malam.
Seperti rahmat yang diturunkan perlahan,
Allah hadir dalam setiap gemuruh dan diam.
Langit bersyahadat lewat petir yang menyala,
dan bumi mengamini doa-doa yang terlupa.
Aku duduk berselimut harap dan taubat,
dalam sunyi yang mengajarkan makna sabar.
Tak ada yang sia-sia dalam tangis langit,
semuanya kembali pada takdir yang lembut.
Aku hanya hamba yang mencoba mengerti,
bahwa bahkan hujan pun bersujud.
Bagian terindah dalam hidupku,
bukan bunga, bukan pelangi,
tapi hari saat doa-doaku
berubah wujud dan menjadi kamu.
Bukan pertemuan yang biasa,
karena aku tahu, ini bukan kebetulan.
Ada tangan langit yang menuntun,
menyelipkan namamu dalam takdirku diam-diam.
Bersamamu, waktuku lebih lapang,
doaku lebih dalam,
dan senyumku lebih mudah tumbuh,
karena kamu adalah jawaban yang lembut itu.
Terima kasih telah datang,
bukan hanya dalam hidupku,
tapi dalam keyakinanku bahwa
Allah menyayangiku dengan mempertemukan kita.
bukan sekadar gaun atau rias yang singgah.
Dia adalah tenang dalam badai,
langkah pasti meski dijatuhkan dunia.
Cantik bisa dibuat lensa,
tapi berkelas…
tumbuh dari luka yang disembunyikan anggun,
dari tutur yang tak membalas keras,
dari doa-doa yang menjulang tanpa suara.
Mereka menyangka itu pilihan,
padahal sesungguhnya ia harga.
Karena jadi cantik itu mudah,
tapi jadi berkelas, itulah perjuangan nyata
Jangan kau nilai langkah saudarimu,
barangkali ia sedang menuju cahaya,
melalui jalan sunyi yang tak pernah kau tahu,
melewati luka yang tak pernah kau rasa.
Ia mungkin tak bersuara,
tapi tiap diamnya adalah zikir,
tiap tangisnya adalah doa
yang hanya langit mampu mendengar.
Kau melihat ragu dalam langkahnya,
padahal itu keyakinan yang dibungkus hening.
Kau melihat asing di caranya,
padahal ia sedang pulang—dengan cara yang paling tulus.
Maka, lepaskan prasangka dari matamu,
dan doakan setiap jiwa yang berjalan,
karena tak satu pun dari kita,
punya peta utuh menuju Tuhan.