CAPEK GA?

“Capek, ga?”

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Tiga kata pendek, tanpa hiasan,

tapi bisa membelah sunyi yang kita peluk rapat-rapat setiap malam.


Karena sering kali…

yang kita butuhkan bukan solusi,

bukan nasihat panjang,

tapi pengakuan bahwa apa yang kita rasa… nyata.

Bahwa lelah ini bukan cuma ada di dalam kepala.


“Capek, ga?”

Itu bukan sekadar tanya.

Itu cara paling halus untuk berkata:

“Aku lihat kamu,

dan aku tahu kamu berjuang.”


Kadang kita jawab,

“enggak kok…” sambil senyum kecil,

padahal dada rasanya sesak seperti langit yang menahan hujan.

Seolah kata-kata itu terlalu sempit

buat menjelaskan beratnya bertahan sendirian.


PELAN TAK APA

Untuk diriku, yang sedang belajar pulang

Pelan tak apa

selama langkahmu masih jujur pada hati.

Biarkan dunia berlomba,

kau cukup jadi penonton yang tenang,

menyeduh keberanian dalam diam.


Tak perlu selalu gagah,

cukup pulih hari ini tanpa terburu.

Karena mencintai diri,

kadang artinya membiarkan luka bernapas,

tidak ditekan, tidak disembunyikan… 

hanya ditemani.


Dan pada akhirnya,

yang kau butuhkan bukan finish line

tapi tanganmu sendiri yang tak lagi tergenggam erat kesedihan.

Pelan tak apa,

asal pulangnya tetap ke dirimu. 

Ga Pa Pa, katanya

Di balik senyum yang tak bersuara,

ada luka yang tak pernah minta diberi nama.

“Ga apa-apa,” katanya ringan,

padahal hatinya sedang hujan pelan-pelan.


Langit di matanya mendung perlahan,

tapi ia tetap memilih diam,

karena kadang bicara pun tak cukup menjelaskan,

betapa lelahnya jadi kuat sendirian.


Tak semua yang tertahan itu tak berarti,

tak semua yang diam itu tak peduli.

Ada cinta dalam redanya,

ada harap dalam sunyinya.


“Ga apa-apa” bukan berarti tak sakit,

hanya cara paling lembut untuk tetap bertahan dalam sunyi yang tak menghakimi.


HARI INI UNTUKKU

Aku tak ingin jadi kuat hari ini,

cukup ingin jadi jujur pada lelahku.

Karena mencintai diri,

bukan soal tangguh… tapi soal tahu kapan rehat.


HUJAN DI AKHIR JUNI

Pada langit yang menangis, kutemukan ketenangan

butir hujan merenda zikir di jendela malam.

Seperti rahmat yang diturunkan perlahan,

Allah hadir dalam setiap gemuruh dan diam.


Langit bersyahadat lewat petir yang menyala,

dan bumi mengamini doa-doa yang terlupa.

Aku duduk berselimut harap dan taubat,

dalam sunyi yang mengajarkan makna sabar.


Tak ada yang sia-sia dalam tangis langit,

semuanya kembali pada takdir yang lembut.

Aku hanya hamba yang mencoba mengerti,

bahwa bahkan hujan pun bersujud.