TERIMAKASIH CAA

Malam terakhir bersama para pejuang kebaikan 🤍

Terima kasih Tim CAA atas dedikasi, kerja keras, dan ketulusan hatinya.

Di desa kecil ini, kalian tinggalkan jejak besar yang tak akan pernah terlupa.

Satu rumah telah berdiri, satu hati telah terobati.

Bismillah… semoga setiap langkah kalian selalu dilimpahi keberkahan.

Sampai jumpa di misi-misi berikutnya 💪🏼❤️


TERIMAKASIH, KAMU

Terima Kasih, Kamu

Terima kasih, kamu, yang tahu caraku bernapas

di antara debur ombak dan pasir halus yang memeluk langkah.

Sampai dua pantai kita datangi, demi satu yang aku suka,

karena yang pertama hanya singgah, yang kedua jadi rumah.


Terima kasih, kamu, yang meluangkan waktumu

di tengah riuhnya dunia,

menemani dari pagi sampai senja

tanpa hitung-hitungan,

tanpa jeda.


Terima kasih, kamu, yang bilang “iya”

meski arahku kadang muter, kadang nyasar,

dan kita tetap ketawa

karena jalan salah bisa jadi cerita.


Terima kasih, kamu, yang sabar diam-diam

di tengah ributnya aku yang tak tahu diam,

mengikuti alur pikirku yang loncat sana-sini

dan tetap dengar, walau kadang isinya cuma receh dan nyeleneh.


Terima kasih, kamu,

karena hadirmu

adalah tempat tenang yang kutemukan tanpa harus mencari.


Peluklah Diri Sendiri (untuk segala hal yang membuatmu lelah)

Peluklah diri sendiri,  

seperti langit memeluk senja dalam tenang.  

Untuk setiap letih yang tak terucap,  

Allah tahu—dan itu cukup.


Peluklah diri sendiri,  

karena hatimu telah berjalan jauh,  

melewati badai yang tak semua orang lihat.  

Dan dalam setiap langkah tersembunyi,  

ada malaikat yang mencatat sabarmu.


Peluklah diri sendiri,  

bukan karena kau lemah,  

tapi karena kau telah kuat terlalu lama.  

Istirahatlah dalam dzikir,  

biarkan namanya menjadi pelipur lelahmu.


Peluklah diri sendiri,  

sebab Rabb-mu tak pernah jauh.  

Dalam sujud yang lirih,  

dalam doa yang nyaris tak bersuara,  

Dia mendengar segalanya.




"Lelah yang Tak Bisa Diceritakan"

Ada lelah yang tak bisa diceritakan,
seperti mendung yang memilih diam di langit,
bukan karena tak ingin turun hujan,
tapi karena takut tak ada yang sudi meneduh.

Ada letih yang tak tahu ke mana pulang,
ditelan rutinitas,
dipeluk harapan,
disesap sepi yang tak minta pengertian.

Ingin menangis,
tapi mata sudah biasa kering.
Ingin bercerita,
tapi kata tak tahu harus ke mana berjalan.

Maka kutulis diam dalam hati,
kusimpan retak di balik senyuman.
Biar lelah ini tetap berwibawa,
meski diam-diam ingin rebah dan hilang sementara.

Karena tidak semua luka butuh suara,
tidak semua penat bisa diterka.
Ada yang cukup Tuhan saja yang tahu…
dan itu… cukup membuatku bertahan.



Ruang Ikhlas

Selalu sisakan ruang…

untuk ikhlas yang diam-diam tumbuh,

di antara harapan yang tiba-tiba runtuh.


Sebab hidup kadang tak mengetuk,

ia masuk tiba-tiba, membawa kecewa

yang tak pernah sempat kita jaga.


Bukan salahmu berharap,

dan bukan salah siapa pun saat kenyataan memilih arah lain.

Yang perlu…

hanya sepotong hati yang bersedia melunak,

dan ruang kecil di dalam dada

untuk menerima

apa yang tak bisa kita ubah.


Sebab tak semua luka datang untuk melukai,

kadang… ia datang agar kita lebih pandai

memaafkan,

melepaskan,

dan melanjutkan.