Aku Masih Melangkah

Aku tidak punya sayap,

tapi aku punya harapan.

Aku tak bisa berlari,

tapi aku tak pernah berhenti berjalan.


Meski langit kadang gelap,

aku percaya fajar selalu datang.

Meski dunia tak selalu ramah,

aku percaya Allah selalu mendekap.


Aku mungkin terjatuh,

tapi aku tak akan tinggal di bawah.

Aku menangis,

tapi aku tak pernah menyerah.


Karena aku tahu,

setiap sabar akan diganti tawa,

setiap luka akan berubah doa,

dan setiap langkahku…

pasti mengarah ke surga.


TEMPATKU BERSANDAR

Tak perlu janji manis,  

bahumu sudah cukup jadi alasan  

kenapa aku bertahan dalam sepi,  

meski dunia tak selalu ramah  


Saat kau pegang setir,  

aku bersandar di bahu yang tak goyah oleh hujan  

dan tanganmu yang menjaga kepalaku,  

seolah bilang: “di sini, cintamu aman”


Kita tak butuh ribuan pesan,  

satu pelukan diam di tengah laju  

sudah jadi pengingat,  

bahwa cinta itu bukan ramai, tapi dalam


Doaku sederhana…  

semoga bahu ini tetap jadi tempat pulang,  

meski waktu dan jarak  

kadang mengetuk kesabaran kita.


KAMU

Satu yang Ditakdirkan

Di bawah langit yang tak lelah menyimpan rahasia,

Ada satu nama yang kusebut pelan dalam setiap sujudku.

Bukan karena sempurna,

Tapi karena ia menuntunku mendekat kepada-Nya.


Bukan hanya aku yang mencintai,

Tapi doa-doa pun ikut jatuh hati padamu.

Kau bukan sekadar teman hidup,

Kau adalah harapan untuk hidup setelah hidup.


Aku mencintaimu dengan ridha, bukan ragu.

Dengan sabar, bukan sekadar senang.

Dengan yakin, bahwa cinta ini bukan milikku,

Tapi titipan yang akan kukembalikan pada surga-Nya.


Jika waktu menua dan kulit kita berubah,

Biar cinta tetap muda dalam amal dan taqwa.

Satu, karena dua akan terlalu ramai,

dan kamu sudah menjadi arah yang paling tenang


Rumah di Desa-Tengah Alas Roban

Rumah di Desa-Tengah Alas Roban

(aku tulis untuk Tim CAA dan para Hamba Alloh)


Di tengah heningnya Alas Roban,

tempat di mana sinyal kerap menghilang,

listrik padam tak beraturan,

jalanan menanjak tak kenal ampun,

kalian datang…

membawa hati seluas lautan.


Rumah itu dulu cuma tanah…

sunyi, tak bertuan,

tempat bocah yatim piatu menunduk tanpa harapan.


Lalu kalian hadir,

dengan tangan-tangan yang tak segan kotor,

dengan keringat yang tak pernah dihitung,

dengan senyum yang selalu merekah

meski raga letih,

meski semua serba susah.


Dua puluh lima hari 

bukan waktu yang pendek.

Tapi kalian tak pernah singkat dalam keikhlasan.

Bersama herbel, semen dan kayu,

kalian tancapkan cinta,

kalian sematkan doa,

di setiap sudut rumah itu.


Kini rumah itu telah berdiri,

kokoh, rapi, bersih, penuh arti.

Tempat adik Ririn memulai hidup baru,

di bawah atap yang dibangun oleh cinta kalian,

oleh doa para dermawan,

oleh kasih dari hamba-hamba Allah

yang tak ingin namanya disebutkan

tapi amalnya mengalir tanpa henti.


Terima kasih…

takkan pernah cukup satu kata itu,

tapi biarlah semesta yang mencatat

betapa luhur niat dan langkah kalian.


Kebaikan ini bukan hanya membangun rumah,

tapi juga membangun harapan.

Semoga Alloh membalas semuanya

dengan rumah yang lebih indah di surga kelak.

Aamiin Ya Mujibassailin


Batang, 9 Juli 2025

Ana


Tak Harus Sendiri

Ada hari-hari di mana aku memilih diam,  

bukan karena kalah,  

tapi karena sedang menata ulang semangatku.


Aku mundur selangkah,  

bukan untuk menyerah,  

melainkan mengatur napas  

agar langkah selanjutnya lebih mantap.


Di balik sunyi,  

ada percakapan dengan diri sendiri—  

tentang impian yang belum padam,  

dan harapan yang terus tumbuh diam-diam.


Aku tidak menghindar,  

aku sedang memeluk diriku sendiri,  

mengisi ruang kosong dengan keberanian baru.


Karena mencintai hidup,  

kadang artinya memberi jeda sejenak—  

bukan untuk berhenti,  

tapi untuk kembali melangkah  

dengan hati yang lebih teguh  

dan cahaya yang lebih terang.