LAPTOP YANG TANGGUH

Aku punya sahabat, bukan mesin biasa  

keyboard-nya sudah tak lentur,  

layarnya menyala dengan azam,  

walau kadang error jadi bahasa cinta


Dulu pinjaman, kini jadi mitra  

tak perlu dikembalikan—karena mungkin tahu,  

aku butuh teman yang bisa bertahan,  

lebih lama dari mood tulisanku


Ia tak pernah protes,  

meski CV, proposal, dan puisi  

menumpuk bagai harapan yang belum cair  

Dan aku pun tak mematikannya…  

bukan karena lupa,  

tapi karena tahu:  

jika ia mati, aku yang ikut diam 


DUA TAHUN CAA

 Dua Tahun CAA 

(aku tulis sebagai ucapan Milad Ke-2 untuk Creator Abal-Abal)


Dua tahun berjalan, tak sekadar waktu berlalu,

Langkah kaki CAA menembus semesta tanpa ragu

Membawa harap, membangun rumah cinta,

Untuk yatim piatu yang menanti pelita.


Bukan hanya tangan, tapi hati yang bekerja,

Bukan hanya kamera, tapi nurani yang bicara.

Dari tayangan yang sederhana,

Lahir amal jariyah yang luar biasa.


Keringat kalian adalah doa yang hidup,

Tawa kalian menjadi peneduh tiap peluk,

Setiap batu yang terangkat—menjadi saksi,

Bahwa perjuangan ini bukan “konten” semata, tapi bakti.


Selamat ulang tahun Tim CAA tersayang,

Semoga tetap kompak, istiqomah, dan penuh semangat juang.

Kita doakan: setiap langkah kalian,

Menjadi sebab turunnya keberkahan dari Tuhan.


Aamiin ya Mujibassailiin...






Aku Masih Melangkah

Aku tidak punya sayap,

tapi aku punya harapan.

Aku tak bisa berlari,

tapi aku tak pernah berhenti berjalan.


Meski langit kadang gelap,

aku percaya fajar selalu datang.

Meski dunia tak selalu ramah,

aku percaya Allah selalu mendekap.


Aku mungkin terjatuh,

tapi aku tak akan tinggal di bawah.

Aku menangis,

tapi aku tak pernah menyerah.


Karena aku tahu,

setiap sabar akan diganti tawa,

setiap luka akan berubah doa,

dan setiap langkahku…

pasti mengarah ke surga.


TEMPATKU BERSANDAR

Tak perlu janji manis,  

bahumu sudah cukup jadi alasan  

kenapa aku bertahan dalam sepi,  

meski dunia tak selalu ramah  


Saat kau pegang setir,  

aku bersandar di bahu yang tak goyah oleh hujan  

dan tanganmu yang menjaga kepalaku,  

seolah bilang: “di sini, cintamu aman”


Kita tak butuh ribuan pesan,  

satu pelukan diam di tengah laju  

sudah jadi pengingat,  

bahwa cinta itu bukan ramai, tapi dalam


Doaku sederhana…  

semoga bahu ini tetap jadi tempat pulang,  

meski waktu dan jarak  

kadang mengetuk kesabaran kita.


KAMU

Satu yang Ditakdirkan

Di bawah langit yang tak lelah menyimpan rahasia,

Ada satu nama yang kusebut pelan dalam setiap sujudku.

Bukan karena sempurna,

Tapi karena ia menuntunku mendekat kepada-Nya.


Bukan hanya aku yang mencintai,

Tapi doa-doa pun ikut jatuh hati padamu.

Kau bukan sekadar teman hidup,

Kau adalah harapan untuk hidup setelah hidup.


Aku mencintaimu dengan ridha, bukan ragu.

Dengan sabar, bukan sekadar senang.

Dengan yakin, bahwa cinta ini bukan milikku,

Tapi titipan yang akan kukembalikan pada surga-Nya.


Jika waktu menua dan kulit kita berubah,

Biar cinta tetap muda dalam amal dan taqwa.

Satu, karena dua akan terlalu ramai,

dan kamu sudah menjadi arah yang paling tenang