Cerpen terbaruku

Cerpen terbaruku sudah selesai…

Satu kisah nyata, kubungkus dalam fiksi.

Tapi… tak ada yang tahu siapa tokohnya.


📌 Next, kisah siapa lagi yang akan kuangkat?

Ada banyak cerita yang mengendap.

Tinggal menunggu waktu untuk kutulis.


Diam – Cermati – Eksekusi

Jangan-jangan… giliran kamu yang jadi tokoh berikutnya. 😌✍️



AKU HARI INI

Aku hari ini,

Memeluk pena dengan hati yang penuh,

Menulis kisah di sela tugas dan waktu,

Menyusun huruf demi huruf

di antara panggilan sosial dan kewajiban hidup.


Ada tanggung jawab yang mengetuk,

Ada jiwa yang harus dilayani,

Dan ada diriku sendiri

Yang masih ingin tumbuh,

masih ingin berarti.


Aku hari ini,

Menyeka lelah dengan senyum yang tak selalu terlihat,

Berjualan meski tubuh ingin rebah,

Menjawab satu per satu kebutuhan

Yang tak pernah menunggu esok.


Tapi aku tetap melangkah.

Bukan karena kuat,

Melainkan karena cinta

Dan rasa ingin terus berguna.


Aku hari ini

Bukan sempurna,

Tapi selalu mencoba

Jadi versi terbaik

Meski hari kadang berat terasa.


PENULIS ITU....

Ada jiwa yang tak bisa diam.  

Setiap detik jadi cerita, setiap rasa jadi aksara.  


Kadang aku menulis tentangka

Saat dunia terasa sempit dan kata jadi pelarian.  

Kadang tentangmu, atau mereka 


Puisi, cerpen, fragmen.  

Semua berujung sama:  

Cara tubuhku merawat luka  

Dan hati belajar memaafkan.


Karena bagi seorang penulis,  

Hidup bukan sekadar dijalani

Ia harus dituliskan.


CERITA DIBALIK KAMERA

Di balik tawa yang terekam lensa,

Ada rindu yang tak sempat dieja.

Langkah kaki menyusuri sunyi,

Bukan untuk diri, tapi untuk mereka yang dicintai.


Kamera menyala, senyum dipasang,

Padahal hati nyaris tumbang,

Bukan tak ingin pulang lebih cepat,

Tapi hidup menuntut tetap kuat.


Suara anak hanya lewat layar,

Diputar berkali agar hati tetap sabar.

Malam datang, badan lelah,

Tapi wajah mereka tetap jadi arah.


Aku bukan pahlawan bersayap cahaya,

Hanya ayah yang terus mencoba.

Menukar waktu demi secercah harapan,

Agar esok, mereka punya masa depan.


Jika ada yang bertanya tentang bahagia,

Tak perlu banyak kata.

Cukup lihat tawa anak-anak saat ku pulang,

Itulah akhir dari semua perjuangan panjang.


AKU CEMBURU

Aku cemburu,

Ketika tak sengaja membaca

Jejak yang pernah ramai di dunia maya

Walau kini, semuanya sudah redup dan tak ada rasa


Aku diam tak berkata,

Tentang gemuruh kecil yang singgah di dada

Seperti biasa,

Menyimpannya hingga kapanpun jua


Aku cemburu,

Pada komentar lama yang terbaca,

Pada tawa digital yang tersisa,

Meski kini tak lagi ada alasan untuk marah.


Bukan karena tak percaya,

Tapi karena pernah terluka,

Dan rasa itu kadang membisik di saat tak terduga.


Dan aku di sini,

Mendengar, mengerti,

Menampung tanpa bertanya,

Karena cinta yang kuat,

Ditempa oleh kesabaran yang teramat sangat

dan kini ia tumbuh

Untuk berjalan bersama hingga kelah ke surgaNya