CERITA DIBALIK KAMERA

Di balik tawa yang terekam lensa,

Ada rindu yang tak sempat dieja.

Langkah kaki menyusuri sunyi,

Bukan untuk diri, tapi untuk mereka yang dicintai.


Kamera menyala, senyum dipasang,

Padahal hati nyaris tumbang,

Bukan tak ingin pulang lebih cepat,

Tapi hidup menuntut tetap kuat.


Suara anak hanya lewat layar,

Diputar berkali agar hati tetap sabar.

Malam datang, badan lelah,

Tapi wajah mereka tetap jadi arah.


Aku bukan pahlawan bersayap cahaya,

Hanya ayah yang terus mencoba.

Menukar waktu demi secercah harapan,

Agar esok, mereka punya masa depan.


Jika ada yang bertanya tentang bahagia,

Tak perlu banyak kata.

Cukup lihat tawa anak-anak saat ku pulang,

Itulah akhir dari semua perjuangan panjang.


AKU CEMBURU

Aku cemburu,

Ketika tak sengaja membaca

Jejak yang pernah ramai di dunia maya

Walau kini, semuanya sudah redup dan tak ada rasa


Aku diam tak berkata,

Tentang gemuruh kecil yang singgah di dada

Seperti biasa,

Menyimpannya hingga kapanpun jua


Aku cemburu,

Pada komentar lama yang terbaca,

Pada tawa digital yang tersisa,

Meski kini tak lagi ada alasan untuk marah.


Bukan karena tak percaya,

Tapi karena pernah terluka,

Dan rasa itu kadang membisik di saat tak terduga.


Dan aku di sini,

Mendengar, mengerti,

Menampung tanpa bertanya,

Karena cinta yang kuat,

Ditempa oleh kesabaran yang teramat sangat

dan kini ia tumbuh

Untuk berjalan bersama hingga kelah ke surgaNya



MENELUSURI GELAPNYA ALAS ROBAN



Malam turun tanpa suara,

aku dan langkah kecilku menelusuri sunyi semesta.

Di antara kabut, hening, dan bisik dedaunan,

Alas Roban bercerita—dengan caranya yang diam.


Tak hanya gelap yang kami lawan,

tapi juga ragu, dan bayang-bayang dalam pikiran.

Namun niat baik menuntun jalan,

dan cahaya hati jadi penerang di belantara kehidupan.


Bukan uji nyali, ini bagian dari langkah cinta,

untuk sebuah harapan, untuk secercah bahagia.

Malam ini, aku menyapa hutan dengan doa,

semoga setiap langkahku diridhoi-Nya.


LAPTOP YANG TANGGUH

Aku punya sahabat, bukan mesin biasa  

keyboard-nya sudah tak lentur,  

layarnya menyala dengan azam,  

walau kadang error jadi bahasa cinta


Dulu pinjaman, kini jadi mitra  

tak perlu dikembalikan—karena mungkin tahu,  

aku butuh teman yang bisa bertahan,  

lebih lama dari mood tulisanku


Ia tak pernah protes,  

meski CV, proposal, dan puisi  

menumpuk bagai harapan yang belum cair  

Dan aku pun tak mematikannya…  

bukan karena lupa,  

tapi karena tahu:  

jika ia mati, aku yang ikut diam 


DUA TAHUN CAA

 Dua Tahun CAA 

(aku tulis sebagai ucapan Milad Ke-2 untuk Creator Abal-Abal)


Dua tahun berjalan, tak sekadar waktu berlalu,

Langkah kaki CAA menembus semesta tanpa ragu

Membawa harap, membangun rumah cinta,

Untuk yatim piatu yang menanti pelita.


Bukan hanya tangan, tapi hati yang bekerja,

Bukan hanya kamera, tapi nurani yang bicara.

Dari tayangan yang sederhana,

Lahir amal jariyah yang luar biasa.


Keringat kalian adalah doa yang hidup,

Tawa kalian menjadi peneduh tiap peluk,

Setiap batu yang terangkat—menjadi saksi,

Bahwa perjuangan ini bukan “konten” semata, tapi bakti.


Selamat ulang tahun Tim CAA tersayang,

Semoga tetap kompak, istiqomah, dan penuh semangat juang.

Kita doakan: setiap langkah kalian,

Menjadi sebab turunnya keberkahan dari Tuhan.


Aamiin ya Mujibassailiin...