Tuan…
Bagaimana aku bisa berpaling,
jika langkahku masih menelusuri jejakmu,
jika setiap bisik angin
masih menyebut namamu?
Pandanganku terpaku,
bukan sekadar pada rupa,
tapi pada makna yang kau tanamkan,
pada cahaya yang tak pernah redup,
pada hadirmu yang mengisi setiap ruang kosong.
Bukan sekadar tatapan,
tapi sebuah doa yang melangit,
mengharap takdir tak menghapus jejak,
agar aku tetap dalam orbitmu.
