Malam itu sunyi. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup, seakan enggan mengusir gelap. Di meja kayu sederhana, seorang perempuan duduk menatap lembaran kosong. Pena di tangannya bergetar, bukan karena lelah, melainkan karena perasaan yang sulit ia ungkapkan.
“Walau tidak ditemani, aku bisa sendiri,” bisiknya lirih. Kata-kata itu ia tulis perlahan, seolah menjadi janji pada dirinya sendiri.
Hari-hari sebelumnya, ia terbiasa menunggu seseorang mendengar ceritanya, menanti ada yang mengulurkan tangan. Namun semakin lama ia sadar, tidak semua keheningan harus diisi dengan suara orang lain. Ada kalanya diam justru lebih menenangkan.
“Walau tidak didengar, aku bisa diam,” tulisnya lagi. Ia tersenyum tipis. Diam bukan berarti kalah, melainkan cara menjaga hati agar tetap kuat.
Kesepian memang sering datang, mengetuk pintu tanpa permisi. Tapi ia belajar menerima. Ia berusaha terbiasa, menjadikan sepi sebagai sahabat yang mengajarkan ketabahan.
Di luar jendela, bulan separuh menggantung. Ia menatapnya, merasa seolah bulan itu pun mengerti: meski sendirian di langit, ia tetap bersinar.
Perempuan itu menutup bukunya. Ia tahu, besok kesepian mungkin kembali. Namun ia juga tahu, dirinya sudah lebih kuat. Karena dalam diam, ia menemukan arti. Dalam sepi, ia menemukan dirinya sendiri.
