Jangan Biarkan Aku Sendiri, Ya Hayyu Ya Qayyum

Di sepertiga malam yang sunyi,  

aku bersandar pada cahaya-Mu,  

Ya Hayyu, Yang Maha Hidup,  

Ya Qayyum, Yang Maha Berdiri Sendiri.  


Dengan rahmat-Mu aku memohon,  

biarlah segala urusanku Kau perbaiki,  

agar langkahku tak tersesat,  

dan hatiku tetap terikat pada-Mu.  


Jangan biarkan aku sendiri,  

walau sekejap mata,  

karena tanpa-Mu,  

aku hanyalah rapuh yang tak berdaya.  



Ya Hayyu Ya Qayyum,  

dalam dzikirku aku bernaung,  

dalam doa ini aku menemukan,  

cahaya yang tak pernah padam.


Lakal Hamdu dalam Gelapku

Allahumma…

Lakal hamdu, meski dadaku sesak, meski langkahku berat, meski malam terasa panjang tanpa cahaya.

Kepada-Mu segala pengaduan, aku titipkan air mata yang tak terlihat, aku serahkan resah yang tak terucap.

Engkaulah tempatku bersandar, saat dunia menutup pintu, saat hati hampir runtuh.

Tiada daya, tiada kuasa, kecuali Engkau yang Maha Tinggi, yang mengangkatku dari lumpur lelah, yang menyalakan lilin kecil di tengah gelap.

Maka biarlah aku diam dalam doa, biarlah aku kuat dalam pasrah, biarlah aku hidup dalam harapan, karena Engkau, ya Rabb, tak pernah meninggalkan hamba-Mu.


Yang Menanggung Senyap

Di sudut kecil ruang kerja yang sunyi,

aku menata tugas demi tugas
dengan tangan yang pernah lelah,
tapi tak pernah benar-benar berhenti.

Ada amanah yang datang tanpa mengetuk,
ada tanggung jawab yang jatuh ke pangkuan
begitu saja,
tanpa ditanya apakah aku mampu,
atau sedang baik-baik saja.

Mereka diam.
Tapi aku tetap berjalan.
Dengan roda yang setia memeluk lantai,
dan doa yang tak pernah putus dari dada.

Aku bukan ingin disanjung,
bukan pula menagih balasan.
Hanya ingin sedikit bahu tempat bersandar,
sedikit suara yang berkata,
“Aku bantu.”

Tapi dunia tidak selalu begitu…
dan kadang, yang kuat harus menangis diam-diam,
agar esok pagi tetap terlihat tegar.

Hari-hari terakhir ini,
aku mengumpulkan remah keberanian
untuk menata program,
untuk menyambut kunjungan,
untuk menjaga senyum anak-anak binaan
agar tetap tumbuh meski kantong sendiri kosong.

Ya Allah…
Aku bukan pahlawan.
Hanya seorang hamba yang tak enak hati
melihat amanah tergeletak tanpa penjaga.

Maka biarkan air mata turun malam ini.
Biarkan beban itu luruh pada sajadah.
Karena aku tahu…
rezeki, kekuatan, dan pertolongan
tak pernah datang dari manusia,
tapi dari-Mu yang Maha Melihat
setiap langkah kecilku di tempat yang sepi.

Dan biarlah dunia tak paham,
asal Engkau paham.
Biarkan manusia diam,
asal Engkau mendengar.

Aku akan tetap berjalan,
pelan…
tapi pasti.
Dengan hati yang remuk,
tapi tetap hidup.

Karena aku percaya…
Selama tujuan ini lillah,
Engkau akan menuntun
walau jalanku penuh sunyi. 





Rindu yang Tak Bersuara

Rindu ini berjalan tanpa suara,

menyusuri lorong hati yang sepi,

setiap detik terasa panjang,

menunggu hadir yang tak kunjung tiba.


Aku titipkan rindu pada angin,

biar ia menyapa dari kejauhan,

membawa kabar lembut,

tentang hati yang masih setia menanti.


Rindu bukan sekadar jarak,

ia adalah doa yang tak pernah padam,

meski tak bertemu di dunia,

semoga Allah pertemukan di surga-Nya.






Di Antara Amanah dan Sunyi

Di balik tumpukan berkas

dan agenda yang menunggu,
ada hatiku yang diam-diam letih,
menyimpan segala yang tak mungkin kuceritakan
pada siapa pun.

Aku berjalan sendirian
di jalan yang seharusnya dilalui bersama,
menggendong amanah yang kadang terlalu berat,
namun tetap kupeluk erat
karena aku tahu ini bukan sekadar tugas,
ini jalan kebaikan.

Aku yang tak pernah bersuara keras,
menyembunyikan luka di balik senyum kecil,
dan menyeka air mata
di sela-sela doa panjangku malam hari.

Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku terlalu sering kuat
hingga tak ada tempat tersisa
untuk mengeluh pada manusia.

Kadang aku iri
pada mereka yang bisa meminta tolong
tanpa ragu,
yang dikelilingi tangan-tangan yang siap membantu.
Sementara aku…
menyusun rencana demi rencana
dengan tangan sendiri,
dengan rezeki yang tak seberapa,
dengan hati yang terus berkata,
“Bertahanlah… ini semua karena Allah.”

Jika dunia tak melihat,
tak apa…
karena aku tahu Allah melihat
bahkan setetes air mata yang jatuh
sebelum aku sempat menyentuhnya.

Jika manusia diam,
tak apa…
karena cukup satu doa kecil
untuk menjadikan langkahku kembali kuat.

Aku bukan ingin pujian,
hanya ingin sedikit dipahami.
Sedikit saja…

Tapi bila itu pun tak ada,
aku tetap berjalan
dengan bekal sabar,
dengan roda yang menemani,
dengan senyum anak-anak binaan
yang membuatku kembali ingat:
inilah alasanku bertahan.

Dan pada akhirnya,
aku yakin…
Allah akan mengembalikan setiap lelahku
dengan sesuatu yang jauh lebih indah
daripada yang pernah kupinta.