Malam ini aku kembali menulis. Bukan tentang novel. Bukan pula tentang yayasan. Melainkan tentang perjalanan kecil yang baru saja dimulai.
Beberapa hari lalu aku resmi menjadi Agen BRILink.
Kalau orang bertanya, "Modalnya berapa?"
Aku mungkin hanya tersenyum.
Sebab sejujurnya, modal pertamaku adalah Bismillah.
Bukan berarti aku mengabaikan ikhtiar. Justru karena aku sadar modal yang kumiliki belum banyak, aku belajar menghargai setiap transaksi yang datang.
Hari-hari pertama menjadi agen ternyata penuh cerita.
Aku sempat bingung menentukan tarif.
Bingung mencatat pembukuan.
Bingung membedakan biaya admin dan jasa agen.
Bahkan transfer pertama membuatku deg-degan.
Ada pelanggan yang membeli pulsa.
Ada yang membeli token listrik.
Ada yang transfer ke bank lain.
Ada pula yang ingin membayar tagihan listrik sekitar delapan ratus lima puluh ribu rupiah.
Sayangnya, saat itu limit yang tersedia di aplikasiku hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.
Aku tidak mencari alasan.
Aku hanya berkata jujur,
"Mohon maaf, Pak. Saat ini saya belum bisa melayani nominal sebesar itu."
Beliau kemudian melanjutkan pembayaran di tempat lain.
Aneh ya...
Aku tidak merasa gagal.
Justru aku merasa sedang belajar menjaga kepercayaan.
Lebih baik mengatakan belum mampu daripada memaksakan sesuatu yang belum bisa kulakukan.
Malam demi malam, aku juga mulai belajar tentang pembukuan.
Mana transaksi pelanggan.
Mana transaksi pribadi.
Mana yang menjadi pendapatan usaha.
Mana yang tidak boleh dicampur.
Aku ingin usaha kecil ini bertumbuh dengan tertib.
Aku juga sempat berpikir tentang Dana Talangan.
Bukan karena ingin memiliki uang.
Tetapi karena terlintas keinginan sederhana.
"Kalau suatu hari ada pelanggan dengan transaksi besar, semoga aku tetap bisa melayaninya."
Namun aku juga belajar, setiap fasilitas harus dipahami terlebih dahulu.
Tidak semua yang tersedia harus langsung digunakan.
Ada hal lain yang membuatku tersenyum malam ini.
Ternyata sejak resmi menjadi agen, sudah ada sekitar dua puluh transaksi.
Mungkin bagi sebagian orang angka itu kecil.
Tetapi bagiku, dua puluh transaksi berarti dua puluh kali seseorang mempercayakan uangnya kepadaku.
Dan kepercayaan selalu lebih mahal daripada angka.
Aku masih malu bertanya kepada pendamping BRI.
Masih khawatir dianggap terlalu baru.
Masih takut terlihat belum bisa.
Namun aku mulai menyadari...
Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan.
Yang memalukan adalah berpura-pura tahu, padahal belum paham.
Malam ini aku menutup buku pembukuan dengan satu doa.
Semoga suatu hari nanti, ketika buku ini telah penuh oleh catatan transaksi, aku masih mengingat malam-malam ketika semuanya berawal dari kebingungan rasa malu, dan keberanian kecil untuk terus belajar.
Karena mungkin...
Allah tidak langsung memberiku modal yang besar.
Tetapi Allah memberiku pelanggan, satu per satu.
Dan mungkin memang begitulah cara Allah mengajarkan aku membangun usaha.
Pelan-pelan.
Sedikit demi sedikit.
Dengan jujur.
Dengan amanah.
Dan selalu dimulai dengan satu kalimat yang sama.
Bismillahirrahmanirrahim.
Refleksi Malamku
"Ya Allah... aku tidak meminta jalan yang mudah. Aku hanya memohon agar Engkau selalu membersamai setiap langkah kecilku. Jadikan setiap transaksi sebagai amanah, setiap pelanggan sebagai jalan rezeki yang halal, dan setiap kebingungan sebagai pintu ilmu. Jika hari ini usahaku masih kecil, berkahilah yang kecil itu hingga tumbuh dengan cara yang Engkau ridhai."
Allahumma yassir wa la tu'assir.
Allahumma barik fi rizqi.
Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.
.jpeg)






