Carilah Alloh Terlebih Dahulu

 Ketika engkau jatuh,

dan dunia terasa tak berpihak padamu,

carilah mereka yang kuat,

yang mampu menopangmu tanpa banyak tanya,

yang meminjamkan bahu tanpa meminta cerita.


Saat engkau berduka,

dan air mata menjadi teman setia,

carilah mereka yang tulus,

yang mendengarkan tanpa menghakimi,

yang hadir hanya karena peduli.


Dan ketika hatimu retak,

patah oleh harapan yang gagal tumbuh,

carilah mereka yang setia,

yang tak meninggalkan saat badai datang,

yang memilih tinggal walau luka menganga.


Namun sebelum engkau mencari mereka semua,

sebelum engkau mengetuk pintu-pintu hati manusia,

datangilah Dia—Allah yang Maha Mendengar,

yang selalu ada bahkan saat engkau tak bersuara,

yang setia tanpa syarat,

yang kuat tanpa batas,

yang tulus mencintaimu… selamanya


HIDUP SEPERTI BUKU

Hidup adalah sebuah buku,

ditulis perlahan, halaman demi halaman,

ada bab yang membuat kita menangis diam-diam,

ada bab yang penuh tawa dan harapan.


Ada halaman yang ingin kita lewati cepat-cepat,

terlalu perih untuk diulang,

namun tetap bagian dari cerita—

yang membentuk siapa kita hari ini.


Lalu ada bab-bab indah,

yang ingin kita peluk selamanya dalam ingatan,

tentang cinta, tentang doa yang dijawab,

tentang harapan yang akhirnya menemukan jalan.


Namun, ada juga bab yang belum terbuka,

masih tersembunyi di balik kehendak-Nya,

rahasia yang hanya Allah tahu,

dan kita diminta percaya—meski belum tahu akhirnya.


Maka tulislah kisahmu dengan sabar dan syukur,

meski tintanya kadang bercampur air mata,

karena setiap bab punya makna,

dan buku hidupmu… sedang ditulis indah oleh-Nya


DOA YANG MENGETUK LANGIT

Adakalanya, saat lelapmu dalam diam,

puluhan doa melesat menembus malam.

Mengetuk pintu langit yang tak pernah tertutup,

dari hati-hati yang dulu sempat kau peluk.


Dari fakir yang kau bantu tanpa pamrih,

saat lapar melilit dan dunia terasa perih.

Dari jiwa gelisah yang kau hibur lembut,

meski hanya dengan senyum atau sekadar sambut.


Tak kau sadari, sedekahmu jadi cahaya,

menghapus duka, menumbuhkan asa.

Karena tangan yang memberi, takkan pernah rugi,

bahkan saat dunia menolak memberi arti.


Maka bersemangatlah, wahai hati yang ragu,

karena kebaikanmu tak pernah bisu.

Jangan tunggu kaya, jangan tunggu cukup,

karena rezeki mengalir justru saat kita melepas erat menggenggam hidup


Anugerah Terindah

Di antara pagi yang merona cahaya,

terhampar kasih tanpa jeda,

cinta-Nya mengalir tanpa syarat,

menyentuh jiwa yang haus rahmat.


Dia yang Maha Lembut dalam setiap hembusan,

menggenggam hati yang rapuh dalam kesabaran,

tak pernah letih mendengar doa,

meski bibir sering alpa meminta.


Langit luas adalah janji-Nya,

rahmat tak terhitung seperti bintang-Nya,

di balik luka ada hikmah tersembunyi,

di setiap ujian, kasih-Nya tak bertepi.


Bahkan saat langkahku terseok lelah,

Dia tetap ada, menuntun arah,

menghapus duka dengan keikhlasan,

menguatkan hati dengan keyakinan.


Ya Allah, betapa besar cinta-Mu,

anugerah terindah yang tak pernah layu,

dalam sujud kupasrahkan jiwa,

dalam ridha-Mu kutemukan cahaya.



SEBENARNYA...

Sebenarnya, Alloh sudah sering mengingatkan,

bahwa menggantungkan harap pada manusia

hanya akan melahirkan kecewa.

Karena hati mereka…

berubah-ubah,

sedangkan kasih-Nya… kekal selamanya.


Sebenarnya, Allah sudah berbisik di setiap luka,

"Aku di sini… tempatmu bergantung.

Bukan mereka yang pergi,

bukan mereka yang lupa."


Aku yang sering alpa,

mengira tangan manusia bisa jadi sandaran,

lupa bahwa kekuatan sejati

hanya ada dalam genggaman-Nya.


Hari ini aku belajar lagi,

tentang sabar tanpa pamrih,

tentang ikhlas yang sunyi,

tentang cinta yang tak bersyarat dari Ilahi.


Laa haula wa laa quwwata illa billah…

Tiada daya, tiada kekuatan…

kecuali dari Allah,

Yang Maha Tahu, Maha Cukup, Maha Baik.