Ketika Aku Mengingat Kasih Sayang Rasulullah ﷺ di Tengah Perjalanan Hidupku

Bismillahirrahmanirrahim.

Ada satu ayat yang sejak lama dekat dengan hatiku.

Setiap selesai salat fardu, aku membacanya sebanyak tujuh kali:

Laqad jāakum rasūlum min anfusikum 'azīzun 'alaihi mā 'anittum ḥarīṣun 'alaikum bil-muminīna ra`ūfur raḥīm.

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan keselamatan bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin, dia sangat penyantun dan penyayang."

Setiap kali membacanya, ada rasa yang sulit dijelaskan.

Aku membayangkan betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya.

Beliau mengetahui bahwa umatnya akan menghadapi berbagai ujian.

Akan ada yang menangis.

Akan ada yang kehilangan.

Akan ada yang hidup dalam kesulitan.

Akan ada yang merasa sendirian.

Akan ada yang berjuang dalam diam.

Dan mungkin, aku adalah salah satu dari mereka.

Aku tidak bisa berjalan seperti kebanyakan orang.

Ada banyak hal dalam hidup yang harus kulalui dengan bantuan orang lain.

Ada kebutuhan yang harus kupikirkan.

Ada kewajiban yang harus kutunaikan.

Ada rezeki yang kadang terasa sempit.

Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... cukupkah?"

Namun anehnya, setelah semua itu, hatiku sering kembali berkata:

Sing tenang.

Bukan karena aku tidak memiliki masalah.

Bukan karena hidupku selalu mudah.

Tetapi karena aku percaya, Allah selalu melihatku.

Dan ketika membaca ayat ini, aku kembali diingatkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menyayangi umatnya.

Kalimat "عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ" membuatku terdiam.

Berat terasa oleh beliau penderitaan yang dialami umatnya.

Betapa indahnya memiliki seorang Rasul yang begitu peduli kepada umatnya.

Maka ketika hidup terasa berat, aku tidak ingin hanya memikirkan kesulitanku.

Aku ingin mengingat Rasulullah ﷺ.

Aku ingin memperbanyak shalawat.

Aku ingin belajar menjadi umat yang baik.

Aku ingin menjaga hati.

Kalau ada yang berbuat baik kepadaku, aku doakan.

Kalau ada yang menyakitiku, aku belajar memaafkan.

Kalau ada yang membuatku kecewa, aku memilih menyerahkannya kepada Allah.

Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kemarahan.

Aku ingin menggunakan sisa perjalanan hidupku untuk berbuat manfaat.

Menulis.

Berkarya.

Mendoakan orang lain.

Membantu sebisaku.

Dan terus belajar mendekat kepada Allah.

Mungkin tubuhku memiliki keterbatasan.

Tetapi semoga keterbatasan itu tidak pernah menjadi alasan bagiku untuk berhenti menjadi manusia yang bermanfaat.

Setiap selesai salat, ketika ayat itu kembali kubaca, aku seperti sedang mengingatkan diriku sendiri:

Aku tidak sendirian.

Allah ada.

Rasulullah ﷺ mencintai umatnya.

Dan aku masih memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Ya Allah...

Jadikan aku umat Nabi Muhammad ﷺ yang Engkau cintai dan Engkau rahmati.

Jadikan aku pribadi yang lembut hatinya, mudah memaafkan, ringan mendoakan, dan istiqamah dalam kebaikan.

Jika hidupku masih panjang, gunakanlah sisa umurku untuk sesuatu yang bermanfaat.

Jika rezekiku masih sempit, lapangkanlah dengan cara-Mu.

Jika jalanku masih panjang, kuatkanlah langkahku.

Jika suatu hari aku kembali merasa takut, ingatkanlah hatiku untuk berkata:

"Sing tenang. Allah ada."

Dan semoga shalawat yang terus kulantunkan menjadi pengikat cintaku kepada Rasulullah ﷺ.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad.

Ya Allah...

Jangan biarkan aku hanya mengagumi Rasul-Mu melalui kata-kata.

Bimbing aku agar sedikit demi sedikit mampu meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

Catatan kecil seorang hamba yang sedang belajar berjalan dengan hati, ketika kakinya tidak mampu melangkah.