MASA KECIL EMANG MENYENANGKAN YAA..? (CERITA PENDEK)

 

Pukul 06.30 pagi, seperti biasa kesibukan ibu di pagi itu sebelum bapak berangkat bekerja, memandikan putri sulungnya dulu sebelum adiknya bangun. Kakak sudah terbiasa bangun sebelum bapak berangkat kerja, karena kakak selalu ikut mengantar bapak ke pintu sebelum pamit kerja.

 

Ibu, seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua putri, putri yang pertama ber umur 3 tahun dan adiknya umur 2 bulan. Bapak bekerja sebagai karyawan di sebuah Perusahaan Textil swasta yang ternama di kota tempat mereka tinggal.

 

Setelah selesai memandikan kakak (putri sulungnya), sudah rapi dan wangi, ibu menyuapin kakak sarapan bubur nasi, menu sarapan rutin kakak yang ibu beli di warung sebelah.

Ibu sekeluarga menghuni rumah kontrakan yang di siapkan perusahaan bapak bekerja, satu rumah seperti asrama, terdiri dari beberapa kamar, jadi sangat ramai setiap hari, apalagi lokasi rumah yang berdekatan dengan jalan raya.

 

Adik bangun tidur, menangis, bergegas ibu menghampiri adik yang berada di ayunan, menggendong adik yang minta nenen.

Setelah selesai menyusui adik, ibu memasak air di dapur dan menyiapkan air untuk memandikan adik.

Adik di temani kakak bermain main di kamar.

Setelah selesai menyiapkan air, ibu memandikan adik dulu.

Kakak yang sendirian di kamar melihat di meja ada pensil (pensil alis ibu yang tinggal separo) dan buku kasbon (catatan hutang belanja) ibu yang sudah kucel, di ambil dan di bawanya keluar rumah.

Kakak berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jln LPI, sambil bernyanyi nyanyi kecil.

Banyak yang bertanya kepada kakak sepanjang jalan,

‘’Siwok (nama panggilan kesayangan kakak) mau kemana, kok sendirian? Ibu dimana?’’

Kakak menjawab : siwok mau toyah (mau sekolah), mau toyah’’

Sepanjang jalan setiap ada yang nanya, kakak jawab mau toyah’’

 

Jarak antara rumah kontrakan dengan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang di tuju kakak sekitar 500 meter. Waktu itu belum ada sekolah PAUD.

Di sekolah TK sudah berlangsung kegiatan belajar ketika kakak sampai, kakak terdiam di pintu sekolah, sambil melihat kedalam kelas, ibu guru melihat ada anak kecil berdiri di pintu sambil membawa buku dan pensil, mendatangi kakak, di bawanya masuk kelas, di dudukkan sambil bertanya :

Ibu guru : Namanya siapa?

Kakak : “Siwok

Ibu guru : “Siwok mau apa ke sekolah?

Kakak : “Siwok mau toyah (sambil memperlihatkan pensil alis dan buku kasbon ibu).”

Ibu guru tersenyum : “Siwok kesini sama siapa?

(bu guru bertanya sambil melihat keluar sekolah, tidak ada orang tuanya yang mengantar).

Kakak : Cendili (sendiri).”.

 

Kembali ke rumah kontrakan

Selesai memandikan adik, ibu memanggil-manggil kakak, “kakak.. kok sepi kemana ya itu anak (ibu bertanya dalam hati) mungkin ada di sebelah (pikirnya).”

Dan ibu pun melanjutkan mengurus adik. Setelah adik sudah selesai, sudah cantik dan wangi, ibu menggendong adik, sambil mencari kakak di sebelah, tidak ada. Di kamar sebelahnya lagi juga tidak ada, semua kamar di rumah kontrakan tidak ada kakak disana.

Ibu panik, kemana kakak pergi, khawatir ke luar rumah karena di luar sudah jalan trotoar, ramai orang lalu lalang karena rumah kontrakannya berada di pusat kota

.

Ibu menitipkan adik di kamar sebelah, kemudian bergegas pergi mencari kakak.

Sambil memanggil-manggil nama kakak di sepanjang jalan LPI.

Ibu bertanya ke tetangga, di toko-toko sebelah, apa kakak main disitu, tetapi tidak ada semua.

Semakin panik ibu, tiba-tiba Nyah Cempli (toko jamu) bilang sama ibu kalau tadi melihat kakak berjalan membawa pensil alis dan buku kecil di tangan sambil bernyanyi-nyanyi.

Nyah Cempli sempat bertanya “Siwok mau kemana?” terus dijawab, “Siwok mau toyah, mau toyah..,” sambil berjalan lurus kesana, mungkin ke sekolahan TK.

Ibu pun bergegas menuju ke sekolahan sambil mengucapkan terimakasih kepada Nyah Cempli yang sudah memberi tahu.

 

Sesampainya di sekolah

Ibu : Assalamualaikum... salam ibu sambil ketuk-ketuk pintu kelas.

Waalaikumsalam’’ jawab Ibu guru sambil keluar membukakan pintu kelas.          

Ibu : mohon maaf bu guru, mau bertanya, apakah anak saya ada disini?’’

Sambil menceritakan ciri-ciri putri sulungnya.

Ibu guru : ooo iyaa ibu, putri ibu ada disini, itu sedang bersama teman-temannya’’(sambil menunjuk kedalam kelas).

Ibu guru : “Saya tanya, namanya siapa.., di jawab namanya Siwok, mau toyah katanya sambil menunjukkan pensil alis dan buku kecil.

Ibu : Ya Allah.. maaf bu guru, jadi merepotkan. Tadi saya tinggal memandikan adiknya, jadi tidak tahu kalau kakak keluar dan kesini. Itu yang dibawa buku kasbon saya (jawab ibu sambil tersipu malu)’’

Kemudian ibu pun dibawa masuk ke ruang kelas, ibu melihat kakak sedang duduk di atas meja di kerumunin teman-temannya.

kakak melihat ibu datang langsung bilang sama ibu : “Siwok toyah bue’’

ibu tersenyum meng-iyakan, sambil mengajaknya pulang.

Kakak tidak mau di ajak pulang, “Siwok mau toyah, mau toyah’’

 

Ibu guru bicara sama ibu : ‘’biar putrinya disini dulu bu, keinginan sekolahnya kuat sekali, kasihan kalau tidak di ijinkan, besok ibu daftarkan putrinya sekolah’’

Ibu : ‘’tetapi putri saya masih berumur 3 tahun bu guru’’?

Ibu guru : ‘’tidak apa-apa bu, ikut-ikutan sekolah dulu sambil menunggu umurnya sampai untuk masuk TK Nol kecil’’

Ibu : Baik bu guru, terimakasih.

 

Akhirnya ibupun menunggu kakak sekolah hari itu karena kakak tidak mau di ajak pulang.

Pukul 10.00 pagi, murid-murid sudah keluar dari kelas, ternyata sudah waktunya pulang sekolah. Kakak pun ikut keluar.

Sambil berpamitan kepada ibu guru, ibu mengucapkan terimakasih, sudah menerima kakak dengan baik.

Sepanjang jalan pulang kakak bernyanyi, wajahnya ceria sekali.

Kakak bertanya kepada ibu : bue, besok siwok toyah lagi yaa? (dialog anak kecil)

Ibu mengangguk dan menjawab : ‘’iyaa, besok siwok sekolah lagi’’

Kakak senang sekali mendengarnya, serasa hari nya pingin langsung besok saja.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah sampai rumah banyak yang bertanya, “Siwok dari mana?

Siwok toyah, jawab kakak.(dengan wajah berseri-seri).

 

Sesampainya di rumah, ibu langsung ke kamar sebelah yang dititipin adik, sambil meminta maaf sudah merepotkan karena di tinggal mencari kakak. Dan ibu pun menceritakan kejadian yang barusan terjadi.

Bulek (panggilan ke tetangga kamar sebelah) menciumi kakak sambil bilang : anak pinter, sudah pingin sekolah ya..dan di jawab anggukan kepala oleh kakak sambil tersenyum riang.

 

Pukul 14.15 WIB Bapak pulang kerja, kakak sudah menunggunya di ruang depan. Di rumah kontrakan ada ruang luas di depan.

Begitu bapak datang, langsung menggendong kakak, kakak pun bercerita kalau tadi kakak toyah (sekolah).

Bapak masih belum paham apa yang kakak ceritakan, kemudian bertanya sama ibu

Siwok toyah tadi katanya, bener apa bu?

Kemudian ibu pun menceritakan semuanya, sambil menemani bapak makan siang.

Ibu bilang, itu anak berarti kalau ibu ajak ke puskesmas (sebelah sekolah TK)  dia hapalin jalannyaya pak?”

Yang ibu takutkan, itu  kan trotoar besar, banyak yang lalu lalang orang dari mana-mana, karena berada di depan pasar utama, terus jalan nya juga berbelok, kok hapal ya anak kita,

Itu yang ibu tidak habis pikir pak.

Karena kemauan sekolahnya tinggi jadi di hapalin jalan ke sekolahnya. Dia bawa pensil alis ibu yang sudah pendek dan buku kasbon kucel ibu (sambil tersenyum malu).

Bapak mendengarkan cerita ibu sambil ikut tersenyum, “Alhamdulillah bu, anak kita sudah pingin sekali sekolah, tidak perlu kita menyuruhnya.”

 

Sore harinya bapak mengajak kakak jalan-jalan ke toko sepatu untuk membelikan kakak sepatu buat sekolah dan tas sekolah juga peralatan sekolah TK.

Kakak gembira sekali, sampai rumah langsung di pakai sepatu dan tas nya.

Sambil muter-muter di depan kaca. Bapak dan ibu melihat sambil senyum-senyum.

Bapak berpesan sama kakak, “Di sekolah tidak  boleh rewel ya, anak pinter, anak sholeha. Kakak mengangguk, “iya pak..”

Karena kakak masih berumur 3 tahun takut rewel di sekolah. .  

Keesokan hari kakakpun berangkat sekolah, ibu mengantar dan menjemputnya.

Dan tidak terasa kakak sekolah sudah masuk kelas TK Nol Besar.

 

Hari ini kakak tanggal kelahirannya, sudah menjadi acara rutin ibu setiap kakak ulang tahun di rayakan, walaupun dengan sederhana. genap usia 5 tahun, kakak rencana mau merayakan ulang tahun di sekolahnya bersama teman-teman.

Ibu pagi-pagi sekali sudah sibuk memasak nasi kuning dan lauk nya, ibu hobby sekali memasak dan membuat kue. Jadi kalau kakak ulang tahun ibu masak dan membuat kue sendiri.

Kakak sudah berada di sekolah karena hari itu kegiatan sekolah seperti biasa.

Jam 10.00 WIB ibu datang di antar becak membawa makanan dan kue ulang tahun kakak, ibu sudah bilang sama bu guru jauh-jauh hari kalau hari itu mau merayakan ulang tahun kakak di sekolahnya.

Dengan di bantu ibu guru dan ibu-ibu yang putra putrinya sekolah di TK tersebut, ibu menyiapkan pesta kecil ulang tahun kakak.

Dan lonceng sekolah pun berbunyi, tanda jam pulang sekolah. Murid-murid berlarian keluar, semua pada berkumpul di halaman sekolah tempat bermain.

Menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama, membuat permainan dan kemudian makan bersama-sama.

 

Tahun berganti, kakak sudah masuk ke Sekolah Dasar (SD), mereka sekeluarga pindah ke desa, karena ibu hamil anak yang ketiga sampai ke empat.

Di desa ibu berjualan baju keliling dari desa ke desa, bapak masih bekerja di perusahaan yang sama. Sebagai anak sulung, kakak di rumah menjaga adik-adiknya.

 

Kelas V (Lima) Madrasah Ibtidaiyah (MI) kakak sekolah sambil berjualan makanan ringan di sekolah. Berangkat sekolah sambil membawa kantong kresek besar isi makanan, menggelar dagangannya jam istirahat, sambil menyeret-nyeret bangku ke luar kelas untuk menggelar dagangannya.

Setelah jam istirahat selesai, di masukkannya kembali dagangannya ke dalam kantong kresek besar. Pulang sekolah, uangnya di kasihkan ibu semua, untuk ibu belanjakan lagi.

Kelas VI (Enam) menjelang Ujian Sekolah, kakak tidak berjualan, karena harus konsentrasi belajar menghadapi Ujian Nasional.

 

Masuk bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu sudah tidak jualan baju lagi, tetapi ganti berjualan makanan, di titipkan di warung-warung.

Jam 2 dini hari ibu sudah di dapur, menyiapkan bahan-bahan dagangannya, ibu jualan gorengan Pia-pia, pastel, kue dadar gulung.

Jam 5.30 pagi, sebagian dagangannya sudah siap untuk di titipkan, ibu membangunkan anak-anaknya untuk siap-siap berangkat sekolah.

Kakak sudah bangun duluan, karena tugasnya membawa makanan di titipkan ke warung-warung di sekitar rumah. Kakak juga membawa dagangan ke sekolah untuk di titipkan di kantin sekolah.

 

Ibu mendidik kakak menjadi anak yang mandiri, sebagai anak sulung yang mempunyai 3 orang adik, tumbuh dalam keluarga sederhana.

Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak bisa seperti teman-temannya yang langsung meneruskan kuliah, tetapi kakak harus bekerja dulu.

Begitupun dengan adik-adiknya, ibu mendidiknya menjadi anak-anak yang tangguh, dalam keadaan dan situasi apapun, sebagai awal Langkah Perempuan Indonesia yang mandiri.

 

Dan kini ibu sudah tidak bersama lagi, satu tahun yang lalu ibu di panggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


                                                                                                  

 

BAHAGIAMU DI ATAS LUKAKU (CERITA PENDEK)

 

Sudah 2 hari mas Al pulang kampung, dia mengambil cuti tahunannya dari tempat kerjanya.

Ibunya mas Al sedang sakit keras yang mengharuskan mas Al untuk segera pulang.

Karena belum ada kabar, Rina mencoba untuk menelponnya.

Karena ponsel mas Al tidak aktif, Rina mencoba menelpon saudara mas al yang notabene sahabat Rina juga.

Telpon di angkat, Rudi (sahabat Rina) menjawab salam Rina.

Rina langsung menanyakan kabar mas Al, ponselnya tidak aktif.

Rudi mau menjawab pertanyaan tetapi dia memberi syarat.

"Sebelum aku memberi tahu kabar Al, mohon kamu jangan kaget ya?, janji?"

"Iya, janji" jawab Rina sambil bertanya dalam hati, ada apa ya?

Rudi kemudian menceritakan kalau mas Al pulang mau di jodohkan dengan perempuan pilihan orang tuanya.

Rina shock, seketika air matanya menetes.

"Rin.. Kamu masih mendengarkan kan?" tanya Rudi

"Iya.." jawab rina sambil menahan air matanya yang semakin deras, karena dia sudah berjanji untuk biasa saja.

Dengan sekuat tenaga rina bertanya "mas Al mau ya di jodohkan?"

"Iya, dia mau di jodohkan karena ibu nya sedang sakit parah"

Rudi masih terus bercerita

"Sekarang al masih menjemput calon istrinya di Surabaya, karena calon istrinya masih bekerja di sana"

"Terimakasih Rud sudah memberi kabar, salam buat mas Al ya?" ujar Rina

"Iya Rin, nanti aku sampaikan salam kamu, kamu di situ baik-baik saja ya? Jaga kesehatannya" jawab Rudi

Kemudian Rina pun menutup telponnya.

Rina masih berdiri dengan ponsel masih di telinganya, dia terdiam, kosong seketika.

Air mata yang dia tahan dari tadi, langsung mengalir deras.

Rina masih shock, karena mas Al tidak ada pembicaraan tentang perjodohan yang akan di lakukan orang tuanya. Dia berpamitan pulang seperti biasa, Rina masih mengantar sampai bus nya datang.

 

Selang beberapa waktu, Rina tersadar, dia menghapus air matanya, "Astoghfirullohaladzim" gumamnya, kemudian dia bergegas ke kamar di asrama mas Al tinggal.

Siang itu rina membersihkan kamar mas Al.

Rina jadikan satu barang-barang kenangan dia dengan mas Al, di letakkan rapi di lemari.

Teman-teman mas Al mungkin sudah tau kejadian yang terjadi, menemani Rina sambil menghiburnya.

Rina malah berlagak tidak tahu apa-apa, Rina tetap ceria di hadapan mereka, walaupun hatinya menangis.

 

Pulang ke asrama nya, Rina masih seperti biasa, karena teman-teman seasrama belum tahu apa yang sedang terjadi. Kemudian Rina tidur sebentar karena dia masuk kerja malam.

 

Rudi menelpon sahabatnya di sini, dia bilang kalau dia sudah ceritakan semua sama Rina. Sahabat nya marah besar

"Kamu gila ya Rud, rina kerja di sini, kalau ada apa-apa bagaimana?" teriak pak Bam sahabat Rudi.

"Bagaimana kalau dia tahu dari orang lain, bukan dari saudaranya, malah menyakitkan dia pak" ujar Rudi.

Pak Bam atasan kerja rina, beliau menyayangi Rina, sehingga pak bam takut Rina tidak konsentrasi bekerja karena mendengar kabar itu.

 

Rina masih bekerja seperti biasa.

Pak Bam malam itu memberi pekerjaan ringan, mungkin karena pak Bam tahu suasana hati Rina.

Sambil terus memperhatikan gerak gerik Rina.

Malam itu Rina sangat sakit hatinya, melihat tempat kerjanya. Rina terbayang mas Al yang selalu bersama.

Pak bam mendekati Rina, menghiburnya dengan cerita lucunya. Rina tertawa terpingkal-pingkal.

"Ya Allah.. Kasihan sekali anak ini" gumam pak Bam dalam hati.

 

Libur kerja, Rina berkunjung ke asrama saudara mas Al yang sudah berkeluarga. Namanya mas Nano, akrab juga dengan Rina.

Ngobrol seperti biasa, mas Nano juga menceritakan kabar mas Al, dia bilang mas Al sudah menikah, dia mengirim foto pernikahannya.

"Kamu ga apa-apa Al menikah?" tanya mas Nano

"Tidak apa-apa mas, sudah jodohnya, selain itu mas al sudah berbakti kepada kedua orang tuanya dengan menerima perjodohan ini. Sama saya juga masih pacaran belum ke jenjang pernikahan". Jawab Rina

Mas nano tersenyum sambil menepuk pundak Rina.

Dia bilang istri mas al mirip Rina. Istrinya mas nano juga bilang seperti itu. Sambil memperlihatkan foto pengantin mas Al.

Hati Rina terbakar rasanya,bukan karena dia menikah tetapi tidak adanya pembicaraan tentang perjodohan, itu yang membuat Rina sakit sekali, tetapi Rina yang mempunyai sifat lembut dan penyabar tidak memperlihatkan keadaan hatinya.

"Masyaa Allah.. Cantiknya istri mas Al" puji Rina. "Cantik ini mas, dari pada saya" bantahan Rina untuk mas Nano dan istrinya.

Di tempat Al dan rina bekerja sudah ramai membicarakan Al menikah.

Berbagai macam reaksi teman-teman, ada yang perhatian, ada yang mendekati dan lain-lain.

 

Waktu terus berjalan, sudah 30 hari sepeninggal mas Al.

Rina sudah sedikit demi sedikit melupakan mas Al, walaupun itu sangat sulit di lakukan.

Kabar kedatangan mas Al pun sampai ke telinga Rina.

Rina di suruh datang ke asrama mas Al.

 

Rina datang menemui mas Al.

Melihat mas Al sambil tersenyum, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Mas Al mendekati Rina, bertanya kabarnya. Rina menjawab "baik mas"

Mas Al pegang tangan Rina, dia bertanya : "cincinnya mana? Kok tidak di pakai?"

Mas Al menanyakan cincin pemberiannya yang harus selalu di pakai di jari Rina.

"Ada, tadi mandi aku copot, lupa memakainya lagi" jawab Rina membohongi mas Al. Karena cincin itu sudah di simpannya.

"Nanti di pakai ya?" ujar mas Al.

Rina langsung melihat ke jari mas Al yang sudah terpasang cincin pernikahan.

Serasa mau berteriak sekerasnya, serasa mau marah-marah karena tidak di beritahu tentang kejadian yang sebenarnya.

Tetapi.. Lagi-lagi Rina hanya menghembuskan nafasnya.

Sekuat hati Rina bertanya : "mas..itu cincin..."

Rina tidak kuat meneruskan perkataan nya lagi.

Kemudian mas Al mencopot cincinnya, dia bilang : "ini udah aku copot cincinnya"

"Kenapa tidak di bawa kesini istrinya mas?" tanya Rina.

Mas Al terdiam

Rina melanjutkan bicaranya : "aku gak apa-apa mas, bawa saja kesini istrinya, kamu sudah berbakti sama orang tua, semoga ibu cepat sembuh ya.."

Al masih terdiam, kemudian dia mengalihkan pembicaraan : "kamu yang bersih-bersih ya? rapi kamarnya".

"Iya mas, barang-barang kenangan kita sudah aku jadikan satu, aku taruh di lemari situ ya?" sambil menunjuk lemari Rina melanjutkan "kalau mas Al mau buang, buang saja.

Kalau mau di kasihkan orang juga ga apa-apa"

Lagi-lagi mas al terdiam membisu.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam, rina berpamitan pulang ke asramanya.

Rina tetap mencium tangan al seperti biasa.

 

Sejak waktu itu, komunikasi Rina dan Al terputus.

Walau masih bekerja satu bagian, masing-masing sudah tidak ada komunikasi lagi.

Sampai akhirnya rina di mutasi kerja ke bagian lain.

Rina di panggil Pak Sam, beliau atasan mas Al, pak Sam membawa Rina ke tempat kerja di bagian lain.

"Kamu pilih mau kerja di bagian mana? Tinggal pilih, kalau sudah siap langsung pindah kesini ya?" ujar pak sam

Rina mengangguk

Selanjutnya rina sudah mulai bekerja di bagian yang baru.

Mas al masih memperhatikan dari jauh, mencuri pandang.

Dekat dengan mas Al selama 4 tahun dan di pisahkan karena perjodohan memang menyakitkan.

Di sisi lain mas Al berbakti kepada orang tuanya, di sisi hatinya, mas Al masih mencintai Rina. Tetapi biar bagaimanapun mas Al sudah berstatus suami orang yang membuat Rina harus menjauhinya, walau Rina juga sangat mencintai mas Al. Sampai beberapa teman banyak yang ingin dekat dengan Rina, dia selalu menghindar, di hati Rina tetap ada mas Al.

 

Hari itu ada kabar duka yang di sampaikan sahabat mas Al, ibu mas Al meninggal dunia.

Rina pun ikut mengucapkan takziah, pulang kerja Rina ke asrama mas Al. Asrama yang sudah beberapa waktu tidak dia datangi lagi.

Melihat mas Al sangat sedih atas meninggalnya ibu nya, berada di perantauan yang tidak bisa ijin pulang. Rina memberi semangat mas Al.

Sebatas ucapan takziah, kemudian seperti sebelumnya mereka tidak berkomunikasi lagi.

 

Beberapa tahun kemudian Rina menerima pinangan teman kerjanya. Namanya Alex, dia satu-satunya laki-laki yang berani meminang Rina.

Karena selama ini yang mau mendekati Rina, di halang-halangi mas Al.

Sampai suatu hari Rina berjalan bersama mas Alex dan di hadang mas Al.

Rina berhenti dan alex bilang ke Rina :

"Ayo kita hadapi bersama, tidak usah takut, dia kan sudah tidak ada hubungannya sama kamu" sambil menggandeng tangan Rina.

Mereka pun lewat di depan mas Al. Mas Al menatap Rina, Rina menundukkan kepalanya.

 

Hati Rina dan Al masih bersatu, walau mereka sudah tidak ada komunikasi sama sekali.

Perjalanan cinta yang terhalang oleh perjodohan.

 

 

 CERITA PENDEK


                                                    BIONARASI   

Nama                                : Ana Restuningtyas

No Telp/HP                     : 082328700705

Media Sosial                   : Instagram : @puisi_ana

                                           Youtube : ARNT CHANEL

                                           Facebook : Ana Restuningtyas

 


 

 

 

 

 

 

 

CINTAKU,TAK LEKANG OLEH WAKTU

 

Saat ini aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan

Dalam heningku, tangisku, ceriaku, bahagiaku semua karenamu

Pikiran melayang jauh, daksaku penuh peluh

Meski raga terbentang jarak, perihalmu tak kan lekang oleh waktu

 

Dari sebuat bait menjadi narasi

Kuhidangkan dari dalam hati

Satu persatu kenangan, ku ingat kembali

Tertulis rapi menjadi puisi penuh elegi

 

Kepada lelaki yang aku cintai

Kita pasti bisa melalui fase sulit ini

Jika suatu saat nanti semesta mempertemukan kita

Menetaplah denganku, jangan ada lagi ada jeda


 

JUARA 1














 

 

“Memberi arti pada sebuah perpisahan’’

Alhamdulillah.. atas ijin Alloh, puisiku terpilih menjadi JUARA 1 dalam LOMBA MENULIS PUISI TINGKAT NASIONAL 2021 yang di selenggarakan oleh Puisea dengan tema PERPISAHAN

PAGIKU MASIH TANPAMU

 

Pagi yang selalu kunanti

Ku awali dengan menyebut Asma Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang

Memulai hari melangkah dengan pasti

Hangatnya mentari memberi semangat setiap insani

 

Pagi yang selalu menakjubkan

Dari udaranya yang segar, aku belajar tentang kesabaran

Kita adalah luka yang belum tersembuhkan

Kita masih butuh jeda untuk saling berinstropeksi diri

 

Menikmati sarapan dengan sebait puisi

Masih banyak hal yang ingin kutuliskan

Ingin ku ungkapkan rasa dalam kata

Tentang kita yang dipisahkan oleh keadaan

 

Secangkir kopi menemani pagi

Menghirup sinar matahari

Segala hal tentangmu, membuatku kian mencandu

Semakin liar dalam ruang imajiku

Bahwa aku sangat merindukanmu