Aku Melepaskan Bukan Karena Tidak Sayang, Tapi Karena Aku Tidak Dipilih

Kadang hidup membawa kita pada titik paling sunyi—titik di mana cinta tidak lagi bicara tentang siapa yang paling tulus, tapi siapa yang paling dipilih.

Dan ketika kita tidak dipilih, luka itu terasa berbeda.
Lebih dalam.
Lebih diam.
Lebih menyiksa.

Narasi ini kutulis untuk siapa pun yang pernah bertahan terlalu lama, mencintai terlalu tulus, dan akhirnya melepaskan seseorang yang pada akhirnya memilih orang lain.




Aku pernah berdiri di depan cermin,
menatap wajahku sendiri lama sekali…
sampai akhirnya aku bertanya pelan,
“Barangkali memang aku tidak sempurna…
barangkali kekuranganku terlalu banyak,
sampai dia memilih mencari yang menurutnya lebih.”

Aku tidak menyangkal.
Aku tahu aku manusia, bukan yang tercantik,
bukan yang paling menarik,
dan bukan yang pandai menutupi luka-luka kecil yang kupikul sendiri.
Mungkin aku lelah,
mungkin aku tidak selalu siap,
mungkin aku tidak selalu bisa menjadi perempuan ideal yang orang lain bayangkan.

Dan mungkin, justru itu alasannya.
Dia memilih mencari “kesempurnaan” di luar rumah,
mengira ia menemukan sesuatu yang lebih baik,
lebih ringan,
lebih baru.

Sementara aku…
aku tetap bertahan,
bahkan ketika hatiku sudah hampir habis untuk melawan sepi.

Aku pernah mencintai seseorang
yang tetap aku doakan baik-baik,
meski diam-diam ia memeluk orang lain ketika aku tidak tahu.
Aku bertahan,
bahkan ketika lukaku semakin lebar.

Sampai akhirnya aku sadar,
bukan aku yang tidak cukup,
bukan aku yang kalah.
Aku hanya bukan orang yang ia pilih.
Sesederhana itu. Sesakit itu.

Aku akhirnya melepaskan bukan karena tidak sayang,
tapi karena aku tidak mau berubah menjadi perempuan
yang menyakiti dirinya sendiri
demi seseorang yang tak lagi melihat nilainya.

Dan setelah semuanya pecah,
aku memilih mundur.
Bukan karena aku lemah,
tapi karena aku sudah selesai memperjuangkan seseorang
yang sudah lebih dulu memberi ruang kepada perempuan lainnya.

Kadang yang paling menyakitkan
bukan ditinggalkan,
tapi disuruh mengerti
tanpa pernah dijelaskan.

Hari itu aku berhenti menunggu.
Bukan karena aku tidak cinta,
tapi karena akhirnya aku mencintai diriku sendiri
lebih daripada aku mencintai seseorang
yang tidak pernah benar-benar kembali.


Jika kamu membaca ini dan merasa kisahmu mirip denganku, ketahuilah satu hal:
kamu tidak kalah.

Kamu hanya terlalu berharga
untuk dipertahankan oleh orang yang tidak tahu cara menggenggammu.

Dan suatu hari nanti, semesta akan mempertemukanmu
dengan seseorang yang memilihmu tanpa ragu,
tanpa diam-diam,
tanpa menyembunyikanmu dari dunia.

Sampai hari itu tiba,
sembuhkan dirimu, pelan, tapi pasti.


RESAH

Di penghujung bulan yang kesembilan

Kutitipkan rindu pada langit jingga

Di tepi jendela, kuraih pena

Meramu bait bait kata kala gelap bersua


Bercengkrama dengan waktu

Mengapa kau biarkan aku sendirian menapaki kehidupan

Tak kan kulupakan ketika masih bersamamu

Walau kini tinggal angan angan kehampaan


Perih menusuk luka hati nurani

Terkadang terpikir ingin menyerah

Namun...  masih panjang narasi dimana namamu terbingkai rapi

Dan aku mencoba selalu tabah menunggunya entah


Rencana semesta menyadarkan

Betapa mencintai tak bisa memiliki selamanya

Bahwa jodoh rezeki maut hak mutlak Tuhan

Kita hanya mengikuti skenario terbaik-Nya