Di jalan sunyi, ia melangkah,
bukan untuk dirinya—tapi untuk jiwa-jiwa kecil yang rapuh namun bermimpi.
Di antara debu kampung dan suara bocah yang menanti,
ia menaruh hati, tak sekadar tangan.
Laptop retak, tapi tekad tak pernah pecah.
Dua mesin tumbang, tapi semangat tetap menyala.
Bukan karena kuat, tapi karena tahu:
cinta yang tulus tak pernah minta pamrih.
Ia bukan dermawan dengan dompet besar,
tapi pelita yang tak padam, walau sumbu hampir habis.
Dengan satu senyum anak-anak binaan,
ia tahu, hidupnya punya arti.
Langit mungkin tak mencatatnya di headline dunia,
tapi langit mendengar doa-doa yang ia bisikkan di balik keheningan.
Tentang santunan yang telat tapi penuh cinta,
tentang takjil yang dibagikan meski kantong sendiri pun kosong.
Kini, di ujung sabar dan sabda yakin,
datang kabar baik, pelan tapi pasti:
"Allah melihatmu."
Lewat surat hibah, lewat sahabat yang datang tepat waktu,
lewat laptop pinjaman dan puisi ini untukmu.
Kau tak sendirian,
karena yang berjalan di jalan Allah,
akan selalu ditemani oleh kasih-Nya,
meski sepi, meski tak terlihat.


.png)
