Langkah yang Tak Tercatat di Langit, Tapi Didengar Langit

Di jalan sunyi, ia melangkah,

bukan untuk dirinya—tapi untuk jiwa-jiwa kecil yang rapuh namun bermimpi.
Di antara debu kampung dan suara bocah yang menanti,
ia menaruh hati, tak sekadar tangan.

Laptop retak, tapi tekad tak pernah pecah.
Dua mesin tumbang, tapi semangat tetap menyala.
Bukan karena kuat, tapi karena tahu:
cinta yang tulus tak pernah minta pamrih.

Ia bukan dermawan dengan dompet besar,
tapi pelita yang tak padam, walau sumbu hampir habis.
Dengan satu senyum anak-anak binaan,
ia tahu, hidupnya punya arti.

Langit mungkin tak mencatatnya di headline dunia,
tapi langit mendengar doa-doa yang ia bisikkan di balik keheningan.
Tentang santunan yang telat tapi penuh cinta,
tentang takjil yang dibagikan meski kantong sendiri pun kosong.

Kini, di ujung sabar dan sabda yakin,
datang kabar baik, pelan tapi pasti:
"Allah melihatmu."
Lewat surat hibah, lewat sahabat yang datang tepat waktu,
lewat laptop pinjaman dan puisi ini untukmu.

Kau tak sendirian,
karena yang berjalan di jalan Allah,
akan selalu ditemani oleh kasih-Nya,
meski sepi, meski tak terlihat.






DI AMBANG PINTU RAMADHAN



Sepuluh hari lagi menuju Ramadhan suci,
Hati berdebar menanti datangnya cahaya,
Bulan penuh rahmat dan kasih illahi,
Menghapus gelap, menerangi jiwa.

Angin berbisik dalam syahdu malam,
Mengingatkan hati untuk bersiap diri,
Meninggalkan dosa, mendekap salam,
Menyambut bulan yang suci nan tinggi.

Puasa menanti, menahan godaan,
Lisan dijaga, hati disucikan,
Doa terlantun penuh harapan,
Agar Ramadhan membawa keberkahan.

Ya Alloh, bimbing langkah kami,
Sepuluh hari menuju cahaya abadi,
Jadikan hati ini bersih kembali,
Menyambut Ramadhan dengan cinta iIlahi.

KATA-KATA HARI INI


 

Ketika aku memikirkanmu,

aku menulis puisi

DOA SEPERTIGA MALAMKU

 



Di malam yang hening, aku berdoa,  

Untuk kehidupan yang kujalani,  
Untuk seseorang yang bergelar suamiku, imamku
Dengan cinta yang tulus, dan ketulusan yang mendalam.

Rumah tangga kita, seperti taman yang selalu mekar,
Penuh bunga cinta yang tak pernah layu,
Meski terkadang badai datang mengusik,
Kita tetap bertahan, saling menggenggam tangan.

Doa malamku selalu untuk kita berdua,
Semoga kebahagiaan ini tak pernah pudar,
Semoga sabar dan cinta jadi cahaya penerang,
Di setiap langkah yang kita tempuh,hingga akhir waktu nanti.

Kehidupan rumah tangga, bukanlah tentang sempurna,
Tapi tentang menerima, tumbuh, dan berkembang,
Bersama kita jalani setiap detik yang ada,
Dengan penuh cinta dan doa yang tak pernah putus.


GABUT



GABUT

Di sudut waktu yang perlahan berlalu,
kutatap layar, tak tahu mau apa dulu.
Angin berbisik tanpa tujuan,
Seketika terhentakku dalam lamunan

Tugas bertumpuk, tapi hati enggan,
pikiran melayang ke awan tak beraturan.
Jualan sepi, tak ada suara,
hanya notifikasi kosong belaka.

Namun di sela hening yang membeku,
ada ide kecil mulai bertamu.
Mungkin gabut tak sekadar jemu,
tapi ruang untuk lahirnya sesuatu.