DOA YANG MENGETUK LANGIT

Adakalanya, saat lelapmu dalam diam,

puluhan doa melesat menembus malam.

Mengetuk pintu langit yang tak pernah tertutup,

dari hati-hati yang dulu sempat kau peluk.


Dari fakir yang kau bantu tanpa pamrih,

saat lapar melilit dan dunia terasa perih.

Dari jiwa gelisah yang kau hibur lembut,

meski hanya dengan senyum atau sekadar sambut.


Tak kau sadari, sedekahmu jadi cahaya,

menghapus duka, menumbuhkan asa.

Karena tangan yang memberi, takkan pernah rugi,

bahkan saat dunia menolak memberi arti.


Maka bersemangatlah, wahai hati yang ragu,

karena kebaikanmu tak pernah bisu.

Jangan tunggu kaya, jangan tunggu cukup,

karena rezeki mengalir justru saat kita melepas erat menggenggam hidup


Anugerah Terindah

Di antara pagi yang merona cahaya,

terhampar kasih tanpa jeda,

cinta-Nya mengalir tanpa syarat,

menyentuh jiwa yang haus rahmat.


Dia yang Maha Lembut dalam setiap hembusan,

menggenggam hati yang rapuh dalam kesabaran,

tak pernah letih mendengar doa,

meski bibir sering alpa meminta.


Langit luas adalah janji-Nya,

rahmat tak terhitung seperti bintang-Nya,

di balik luka ada hikmah tersembunyi,

di setiap ujian, kasih-Nya tak bertepi.


Bahkan saat langkahku terseok lelah,

Dia tetap ada, menuntun arah,

menghapus duka dengan keikhlasan,

menguatkan hati dengan keyakinan.


Ya Allah, betapa besar cinta-Mu,

anugerah terindah yang tak pernah layu,

dalam sujud kupasrahkan jiwa,

dalam ridha-Mu kutemukan cahaya.



SEBENARNYA...

Sebenarnya, Alloh sudah sering mengingatkan,

bahwa menggantungkan harap pada manusia

hanya akan melahirkan kecewa.

Karena hati mereka…

berubah-ubah,

sedangkan kasih-Nya… kekal selamanya.


Sebenarnya, Allah sudah berbisik di setiap luka,

"Aku di sini… tempatmu bergantung.

Bukan mereka yang pergi,

bukan mereka yang lupa."


Aku yang sering alpa,

mengira tangan manusia bisa jadi sandaran,

lupa bahwa kekuatan sejati

hanya ada dalam genggaman-Nya.


Hari ini aku belajar lagi,

tentang sabar tanpa pamrih,

tentang ikhlas yang sunyi,

tentang cinta yang tak bersyarat dari Ilahi.


Laa haula wa laa quwwata illa billah…

Tiada daya, tiada kekuatan…

kecuali dari Allah,

Yang Maha Tahu, Maha Cukup, Maha Baik.


LILLAH, MAKA KUAT

Kami melangkah bukan karena kuat,

tapi karena Allah yang menguatkan niat.

Tak digaji, tak dipuji,

tapi hati ini cukup dengan ridha Ilahi.


Kami relawan,

bekerja senyap dalam bising dunia,

mengulurkan tangan di kala lupa,

mengusap luka yang tak tampak mata.


Tak perlu sanjungan,

karena yang kami harap hanya pandangan Tuhan.

Tak perlu upah,

karena yang kami cari adalah berkah.


Jika lelah mulai menjalar,

kami ingat:

“Barang siapa meringankan beban saudaranya,

maka Allah akan ringankan hidupnya di dunia dan akhirat.”


Jangan lelah, wahai hati yang ikhlas,

karena kerja kita bukan untuk dilihat manusia,

tapi agar bernilai di hadapan-Nya.


Untuk Sahabat-Sahabatku Tercinta

Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan rasa terima kasihku pada kalian…

Di saat langkahku terasa berat, kalian datang membawa cahaya.

Di saat aku terjatuh, kalian mengulurkan tangan tanpa ragu.

Kalian bukan sekadar teman lama, tapi keluarga yang Tuhan titipkan dalam hidupku.


Aku masih ingat saat aku lemah, kalianlah yang menguatkan…

Saat aku merasa sendiri, kalian hadir dengan cinta tanpa syarat.

Bukan hanya materi yang kalian berikan, tapi juga kehangatan, perhatian, dan doa yang tak henti-henti.

Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena terharu atas ketulusan kalian.


Terima kasih karena tetap di sini, meski waktu telah memisahkan langkah kita.

Terima kasih karena tak pernah lelah mendukungku, bahkan saat aku merasa tak berdaya.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan kalian dengan limpahan berkah dan kebahagiaan.


Kalian adalah anugerah terindah dalam hidupku.

Aku bangga pernah berjalan bersama kalian,

dan akan selalu bersyukur memiliki sahabat sebaik kalian.


Dari hati yang paling dalam,

Aku mencintai kalian, sahabat-sahabatku.