SETIAP TANGAN YANG MENENGADAH


Setiap tangan yang menengadah ke langit,

bukan sekadar meminta, tapi berserah pada yang Maha Mendengar.

Dalam sunyi, doa meluncur tanpa suara,

namun langit menyambutnya dengan cinta yang luar biasa.


Tak satu pun harap melayang sia-sia,

meski jawabannya mungkin datang dalam bentuk yang tak disangka.

Air mata yang jatuh bersama rindu,

kan tumbuh jadi bahagia dalam waktu yang tak pernah keliru.


Sungguh, tangan yang menengadah tak akan pulang dengan hampa,

karena Allah tak pernah meninggalkan hamba yang percaya.

Teruslah berharap, teruslah percaya,

sebab langit selalu terbuka untuk jiwa yang berserah penuh cinta

PEREMPUAN GAUL YANG TAAT

 Di tengah gemerlap dunia yang megah,

Ia melangkah penuh maruah.

Gaya kekinian, tutur menawan,

Namun iman tetap jadi pegangan.


Tak gentar arus yang menggoda,

Tak silau kilau fana dunia.

Gaulnya santun, canda berfaedah,

Tak luntur akhlak dalam langkah.


Sami’na wa atho’na di hati tertanam,

Bukan sekadar lisan yang terucap pelan.

Taat bukan beban, tapi kebanggaan,

Syariat Allah, cahaya pegangan.


Dia teguh dalam prinsipnya,

Tersenyum ramah, tetap terjaga.

Gaul bukan alasan untuk lalai,

Karena ridha-Nya tujuan yang dicari.


Maka lihatlah, wahai dunia,

Seorang perempuan dengan cahaya jiwa.

Modern, cerdas, dan berdaya,

Namun tetap tunduk pada-Nya


LELAH

Di sudut kamar yang temaram,  

terbuka layar penuh harapan,  

tangan lemah masih berjuang,  

menuliskan mimpi yang belum usai.  


Kacamata bertengger redup,  

menyaksikan mata yang perlahan tunduk,  

jemari tak lagi menari,  

terjatuh dalam lelah yang sunyi.  


Buku-buku bertumpuk rapi,  

diam seribu bahasa,  

seolah tahu, dalam tiap lembar,  

tersimpan tekad yang tak akan pudar.  


Dalam lelah, ada doa,  

terbisik lirih tanpa suara,  

karena perjalanan belum selesai,  

dan esok cahaya akan menyapa


CINTA YANG TAK TERBATAS

Aku ingin mencintaimu  

lebih banyak dari debar—  

dalam setiap denyut yang menggema,  

mengisi sunyi dengan getar namamu.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih besar dari sabar

menanti dalam doa,  

merangkai harapan dalam ketulusan yang tak pudar.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih lama dari selamanya—  

melebur waktu dalam kenangan,  

mengabadikan kasih dalam keabadian.  


Di antara bintang dan senja,  

di antara nafas dan doa,  

cinta ini tetap ada, tetap nyata, tetap mengakar.  

Karena untukmu, aku ingin mencinta  

tanpa batas, tanpa akhir.


TAK PERNAH KITA TAHU


Tak pernah kita tahu,

kapan napas ini jadi yang terakhir,

di jalanan sepi, di rumah sendiri,

atau di tengah riuh dunia yang tak peduli.


Tak pernah kita tahu,

sedang apa kita saat waktu menjemput,

tersenyumkah, menangiskah,

atau justru lupa bahwa hidup hanya titipan sesaat.


Tak pernah kita tahu,

bagaimana caranya kita berpulang,

apakah ringan langkah menuju surga,

atau berat karena dunia yang kita genggam terlalu erat.


Maka jangan tunda kebaikan,

karena ajal tak pernah berjanji akan datang saat kita siap.

Setiap hari adalah kesempatan,

untuk memperbaiki diri dan menabur amal dalam sunyi.


Hari ini mungkin kita yang menangis,

esok bisa jadi kita yang dibacakan doa,

semoga saat waktu itu tiba,

kita pulang dalam husnul khatimah…

dipanggil Allah dalam keadaan terbaik,

di waktu terbaik,

dengan bekal yang cukup.