Senyum Palsu

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.



“Senyum bisa menipu. Tapi intuisi jarang salah.”

Senyum itu manis,  

tapi tidak selalu tulus.  

Ada yang menyapa dengan cahaya,  

ada pula yang menyimpan bayangan di balik mata.


Tidak semua yang tersenyum padamu,  

mendoakanmu tetap utuh.  

Beberapa hanya ingin melihatmu retak,  

dengan wajah yang tetap ramah.


Jangan takut berjalan sendiri,  

yang tulus akan tetap tinggal tanpa perlu topeng.



Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.

Lagi sumpek?

Jangan scroll terus.

Sebelum subuh, bisikkan:

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.

Kadang kita nggak butuh solusi…

Cuma pengakuan bahwa kita lelah.

Allah tahu. Allah dengar


KATA-KATA HARI INI (051025)

Menulis puisi menjadi cara sederhana untuk menuangkan rasa, doa, dan harapan dalam menghadapi kehidupan.




“Tak semua senyum itu doa. Kadang cuma topeng.”

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.