Doa sebelum tidur

Ya Allah,

malam ini aku serahkan segala lelah dan pikiranku pada-Mu.

Jika ada resah di hatiku, tenangkanlah dengan kasih-Mu.

Jika ada harap yang belum Engkau kabulkan,

jadikan aku sabar menunggu dengan keyakinan bahwa Engkau tahu waktu terbaik.


Lindungilah aku dalam tidurku,

jaga hatiku dari rasa takut dan gelisah.

Bangunkan aku di waktu terbaik,

untuk mengingat nama-Mu, memuji-Mu,

dan memohon ampun di sepertiga malam-Mu yang suci.


Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin 🤲🌿



HP BLACK SCREEN

Hari ini, HP-ku belum menyala. Black screen. Sunyi. Tapi justru di situ aku belajar: bahwa tak semua yang gelap berarti rusak. Kadang, Allah sedang mengajak kita diam, berhenti sejenak dari dunia yang bising.

Mungkin ini waktu untuk lebih banyak dzikir, lebih sedikit scroll. Waktu untuk menatap langit, bukan layar. Waktu untuk mendengar hati, bukan notifikasi.

Aku ridha. karena setiap kejadian, bahkan yang kecil dan remeh, bisa jadi jalan menuju cahaya. Qadarullah. Dan aku percaya, Allah tak pernah salah menulis takdir.



Di Sepertiga Malam Jum’at: Salam untuk Sang Rasul

Di kamar yang sunyi, 

Di antara dinding yang menyimpan dzikir, 

Aku bentangkan sajadah, 

Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.


Tasbih tergeletak di sisi, 

Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap, 

Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.

Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut, 

Seperti pelukan 

Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.


Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak” 

Bukan sekadar ucapan, 

Tapi doa yang mengalir 

Dari hati ke langit.


Wahai Rasulullah, 

Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah 

 Shalawat ini kutitipkan dalam malam, 

Dalam sepi yang penuh makna.


Engkau yang datang membawa cahaya, 

Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah. 

Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat, 

San sabar yang tak pernah padam.


Di malam Jum’at ini, 

Aku ingin menjadi hamba yang kembali, 

Yang tak hanya membaca, 

Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.


Aku ingin menjadi saksi, 

Bahwa malam bukan sekadar waktu, 

Tapi ruang untuk bertemu, 

Dengan Rabb yang Maha Mendengar.


Wahai jiwa, 

Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian. 

Karena di sepertiga malam, 

Ada pintu yang terbuka, 

Ada rahmat yang turun, 

Ada cinta yang menunggu untuk disambut.


Dan jika air mata jatuh, 

Biarlah itu menjadi saksi, 

Bahwa kau pernah berharap, 

Pernah mencintai, dan pernah kembali.


Yang Tahu Segala Bisikan

(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)




Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi, 

ia duduk bersimpuh di atas sajadah, 

dengan tasbih sederhana 

di jemari yang gemetar lembut. 

Tak ada suara, hanya detak hati yang berdzikir, 

dan air mata yang menetes pelan, seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.


Ia tak berkata-kata, karena ia tahu, 

Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap. 

Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia, telah lama sampai ke Arasy, 

Sebelum ia sempat merangkai kata.


"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..." 

 Rahasiakanlah, atau nyatakanlah, 

Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dan ia pun menangis, bukan karena lemah, 

Tapi karena akhirnya merasa dilihat, 

Oleh Yang Maha Melihat, meski dunia tak pernah benar-benar tahu.


Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain, 

Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan, 

Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti. 

Ia tak meminta dunia, ia hanya meminta 

Agar hatinya tetap hidup, 

Agar niatnya tetap bersih, 

Agar amalnya, meski kecil, 

Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak


Dan malam itu, 

Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup. 

Karena ia tahu, bahwa Tuhan-nya tahu. 

Segala isi hati. 

Segala luka. 

Segala cinta. 

Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Hujan Sore dan Perpisahan

Di bawah langit yang menangis pelan, 

Hujan sore turun seperti doa yang diam. 

Ada jejak langkah yang tak lagi kembali, 

Ada pelukan yang tertinggal di hati.


Enam tahun bukan sekadar waktu, 

ia menjahit kenangan, tawa, dan rindu. 

Mbak, engkau bukan hanya penolong, 

engkau saudara dalam diam yang tulus dan panjang.


Hari ini, engkau pamit dengan alasan mulia, 

menyambut cucu yang akan lahir ke dunia. 

Dan aku, yang terbiasa melihatmu di pagi hingga sore hari, 

menangis dalam syukur dan haru yang tak henti.


Maaf atas khilaf yang pernah singgah, 

terima kasih atas sabar yang tak pernah lelah. 

Kita saling memaafkan, saling mendoakan, 

di bawah hujan yang menjadi saksi perpisahan.


Semoga langkahmu diberkahi cahaya, 

semoga cucumu lahir dalam pelukan bahagia. 

Dan semoga perpisahan ini bukan akhir, 

melainkan awal dari doa yang terus mengalir.