"Uangnya dari mana?"
Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.
Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.
Aku mengerti jika mereka bertanya.
Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Aku masih harus berhitung.
Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.
Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.
Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.
Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.
Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.
Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.
Lalu... apakah aku hidup sendirian?
Tidak.
Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.
Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.
Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"
Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.
Ada yang membantu membeli obat.
Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.
Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.
Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.
Karena itu, jika ada yang bertanya,
"Rezekinya dari mana?"
Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,
"Dari Allah."
Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.
Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.
Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.
Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.
Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."
Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.
Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.
Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.
Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.
Dan sering kali...
Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.
Aku teringat firman Allah:
"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat itu selalu menguatkanku.
Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.
Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.
Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.
Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.
Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.
Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.
Dan ternyata...
Jumlahnya jauh lebih banyak.
Sing tenang...
Karena Allah Maha Kaya.
Afirmasi Doaku:
Bismillahirrahmanirrahim...
Allahumma sugeh...
Allahumma duit okeh...
Allahumma sehat...
Allahumma bahagia...
Allahumma sukses dunia akhirat...
Aghnini bifadhlika 'amman siwak.
"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."
Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲




