Akhir Tahun 2025

Ada hari-hari ketika aku berjalan pelan,

Bukan karena lemah,

melainkan karena ingin lebih dekat pada-Nya.

Di antara sunyi dan sibuknya rasa,
seperti ada bisikan lembut dari langit:
“Tenanglah… Aku menjagamu.”

Maka aku tundukkan hati,
kulepaskan semua takut yang kupeluk terlalu lama,
kuserahkan seluruh perjalanan ini
pada Dia yang tak pernah meninggalkan.

Jika langkahku pelan,
biarlah, yang penting tetap menuju-Nya.

Dan di setiap jeda,
kusimpan doa:
semoga hidupku ditata
dengan cara paling indah oleh Allah,

meski aku hanya melangkah perlahan.








Di antara langkah pelan yang masih kujaga

Jika ada bab yang belum selesai, 

semoga Engkau selesaikan dengan cara-Mu yang paling lembut. 

Jika ada pintu yang tertutup, 

semoga Engkau bukakan yang lebih baik. 

Aku serahkan semuanya kepada-Mu, Ya Allah.


Ruang Tamu & Tugas

Di ruang tamu kutemukan ketenangan,

lantai kuning, dinding hijau jadi saksi. Laptop terbuka, tugas perlahan kutulis, di sela cahaya yang masuk dari pintu kaca.

Ada langkah-langkah lewat di luar sana, seperti ide yang datang, lalu pergi. Kadang fokus pecah, kadang hati tertawa, namun semangat tetap duduk di kursi ini.

Ruang sederhana, perjalanan besar, hari ini tugasku jadi semangatku



Syukur dalam Sepiring Ketela: Cerita Sahur Puasa Dawud-ku

Banyak yang bertanya, "Sahur apa hari ini?"

Mungkin bagi sebagian orang, sahur identik dengan meja makan yang penuh lauk pauk. Tapi bagiku, sahur adalah momen sunyi yang penuh kecukupan. Hari ini, di sepertiga malam yang tenang, menu sahurku sangat sederhana: beberapa keping biskuit, segelas air putih di tumbler kesayangan, dan istimewanya... ada ketela rebus.

Sebenarnya, menu tetapku biasanya cukup satu butir telur rebus, air putih, dan sebuah pisang. Sederhana, praktis, dan cukup untuk modal tenaga menjalankan Puasa Dawud. Namun, ada cerita manis di balik sahur kali ini.

Kemarin sore, seorang kerabat/tetangga memberi saya ketela rebus. Alhamdulillah, rezeki yang tidak disangka-sangka. Karena ada ketela, telur rebusnya saya simpan dulu untuk lain waktu. Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dipedulikan oleh sesama, dan merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Makan sahur tanpa nasi bukan berarti kekurangan. Justru di sini saya belajar, bahwa yang kita butuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya rasa syukur yang perlu kita luaskan.

Menikmati pemberian orang lain sebagai menu sahur rasanya berkali-kali lipat lebih nikmat. Ada rasa hangat di hati karena merasa dicukupkan oleh Allah melalui tangan orang lain.

Apalagi saat ini kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang menjadi pintu pembuka menuju Ramadan. Di waktu sahur yang mustajab ini, mari kita hiasi dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita disampaikan ke bulan suci nanti:

Doa Memasuki Bulan Rajab:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighnaa Ramadhana.

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan."

Bagi teman-teman yang mungkin besok ingin menyusul berpuasa (baik Puasa Dawud, Senin-Kamis, atau puasa Qadha), jangan lupa niatnya ya. Cukup dalam hati dengan tulus:

"Nawaitu shauma Daawuda sunnatan lillaahi ta'aalaa." (Aku berniat puasa Dawud, sunnah karena Allah Ta'ala).

Semoga setiap ketela yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, dan setiap doa yang kita langitkan di bulan Rajab ini, menjadi saksi ketaatan kita di hadapan-Nya.

Dan semoga puasa hari ini diterima, dan semoga kita semua selalu diberi keikhlasan dalam setiap ibadah yang kita jalankan. Semangat untuk teman-teman yang juga sedang berjuang istiqomah dengan puasa sunnahnya!



Rajab hadir, sahurku jadi doa yang mengalir…

Ya Allah,  

di sepertiga malam yang sunyi,  

aku meneguk sahur dengan syukur,  

menyulam niat dalam hening Rajab-Mu.  


Berkahilah langkah kecilku,  

seperti embun yang jatuh di tanah kering,  

seperti doa yang menembus langit,  

sampaikanlah aku pada Ramadan-Mu.  


Rajab ini adalah jembatan,  

antara rindu dan persiapan,  

antara sabar dan cahaya,  

antara aku yang lemah,  

dan Engkau yang Maha Kuat.  


Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana  

wa ballighna Ramadhan.