TERIMA KASIH – Langit Didada (Official Lyric Video)

Pernah ada cerita...

Yang Allah tuliskan untuk kita...

Pernah ada tawa...

Yang kini kusimpan sebagai doa...


Terima kasih...

Pernah berjalan di sampingku...

Pernah membuatku percaya...

Bahwa bahagia itu nyata...


Tak semua kisah...

Harus berakhir dengan bersama...

Kadang Allah hanya mempertemukan...

Agar kita belajar menerima...


Kini kuikhlaskan...

Semua yang telah berlalu...

Semoga Allah menjagamu...

Dan menjaga langkahku...


Aku tak lagi menggenggam...

Aku tak lagi memaksa...

Yang pergi biarlah pergi...

Yang tinggal menjadi hikmah...


Dan izinkan...

Aku melangkah perlahan...

Menyambut hari-hari...

Yang telah Allah siapkan...


Aku belum tahu...

Rahasia apa yang menantiku...

Namun aku percaya...

Allah tak pernah meninggalkanku...


Bila pertemuan adalah takdir...

Maka perpisahan pun adalah takdir...

Dan di antara keduanya...

Ada pelajaran yang menguatkanku...


Allahumma in kunta katabtani min ahlis syaqawah, famhuni, waktubni min ahlissa'adah. Fa innaka tamhu ma tasha' wa tutsbit, wa 'indaka Ummul Kitab...


Ya Allah...

Jika dahulu namaku termasuk orang yang celaka,

hapuslah...

Dan tuliskanlah aku sebagai hamba yang berbahagia...

Karena hanya Engkaulah...

Pemilik segala takdir...


Terima kasih...

Untuk setiap kenangan...

Kini aku undur diri...

Dengan hati yang telah belajar ikhlas...


Semoga Allah...

Menjaga langkahmu...

Dan menjaga langkahku...

Hingga kita sama-sama menemukan

ridha-Nya...

Aamiin...

https://youtu.be/hBb3F1oURgk?si=mrr_IioySua4Zyas

Lirik dan Ciptaan: Ana Restuningtyas
Channel: Langit di Dada
© 2026 Langit Didada. All Rights Reserved.





Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



21 Juli 2026 — Ketika Sebuah Ide Mengetuk Hati

Bismillahirrahmanirrahim...

Hari ini, 21 Juli 2026, adalah hari yang mungkin akan selalu kuingat.

Pagi itu aku sedang menjalankan puasa Daud. Seperti hari-hari sebelumnya, aku berusaha mengisi waktu dengan doa, dzikir, dan ikhtiar. Tidak ada rencana besar. Tidak ada target untuk membuka usaha baru. Semuanya berjalan seperti biasa.

Namun, di tengah pagi yang tenang, sebuah ide datang begitu saja.

Ide itu sederhana, tetapi membuat hatiku bergetar.

"Bagaimana jika aku membuka jasa penulisan?"

Aku terdiam.

Bukankah selama ini aku memang hidup bersama kata-kata? Menulis novel, puisi, artikel, dan catatan harian adalah bagian dari perjalanan hidupku. Tiba-tiba semua potongan itu seperti dirangkai Allah menjadi satu arah yang baru.

Hari itu aku mulai berdiskusi, menyusun konsep, memilih nama, menentukan layanan, membuat slogan, merancang alur kerja, hingga lahirlah sebuah nama yang kini resmi mengawali langkahnya.

Langit Didada Writing.

Sebuah layanan sederhana dengan harapan yang besar.

Bukan sekadar ingin menulis, tetapi ingin membantu mengabadikan kisah-kisah berharga yang mungkin suatu hari akan menjadi kenangan bagi keluarga, anak, cucu, atau siapa pun yang membacanya.

Aku percaya, setiap manusia memiliki cerita.

Dan setiap cerita layak dikenang.

Yang membuatku semakin terharu, belum lama setelah pengumuman itu dipublikasikan, sudah ada seseorang yang berkomentar menawarkan kisah hidupnya. Belum tentu menjadi klien pertama. Belum tentu menjadi sebuah buku. Namun bagiku, itu sudah cukup menjadi pengingat bahwa Allah mampu membuka jalan dengan cara yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku kembali belajar bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang.

Kadang rezeki datang dalam bentuk ide.

Kadang datang dalam bentuk pertemuan.

Kadang datang dalam bentuk harapan yang kembali tumbuh.

Aku tidak tahu bagaimana perjalanan Langit Didada Writing nanti.

Mungkin akan sepi.

Mungkin akan ramai.

Aku tidak ingin terlalu sibuk menebak masa depan.

Tugasku hanyalah memulai dengan sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Malam ini aku menutup hari dengan satu kalimat yang terus berulang di dalam hati.

"Ya Allah, aku sudah mengetuk satu pintu ikhtiar. Selebihnya, bukakanlah pintu-pintu yang Engkau kehendaki."

Bismillah...

Semoga langkah kecil yang lahir di hari puasa Daud ini menjadi jalan rezeki yang halal, penuh keberkahan, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang.

Allahumma sukses dunia wal akhirah.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


Langit Didada Writing

Motto

"Anda bercerita, Langit Didada mengabadikannya dalam untaian kata."

Visi

Menjadi ruang yang amanah untuk mengabadikan setiap kisah kehidupan menjadi karya tulis yang bermakna, menginspirasi, dan dapat dikenang sepanjang masa.

Misi

  • Membantu setiap orang mengabadikan kisah hidupnya dengan bahasa yang hangat dan berkesan.
  • Menyusun karya tulis yang rapi, jujur, dan menghargai setiap perjalanan hidup.
  • Memberikan layanan penulisan yang profesional dengan mengedepankan komunikasi, empati, dan amanah.
  • Menghasilkan karya yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan generasi berikutnya.

BENIH DOA

Kutanam doa di ladang waktu,

Bukan untuk dipanen esok pagi.
Aku percaya, hujan rahmat-Mu
Tak pernah salah memilih musim sendiri.

Kupupuk dengan sabar yang menggigil,
Kusiram dengan sujud yang panjang.
Meski angin ragu berulang kali datang,
Akar harap tetap menembus terang.

Hingga suatu fajar mengetuk jendela,
Bukan membawa semua yang kuminta.
Melainkan menghadirkan jawaban paling sempurna,
Yang bahkan tak sempat kususun dalam kata.

Kini kutahu, doa bukan sekadar suara,
Ia adalah benih yang hidup dalam jiwa.
Dan ketika Allah berkehendak menyapa,
Seluruh semesta ikut berkata: "Inilah waktunya.