Tentang Rabu Wekasan.
Tentang Rabu terakhir di bulan Safar.
Tentang bala yang konon turun pada hari tersebut.
Tentang banyaknya musibah yang katanya akan diturunkan.
Jujur, dulu aku pun pernah bertanya-tanya.
Benarkah demikian?
Apakah benar ada satu hari tertentu dalam setahun yang harus lebih ditakuti daripada hari-hari lainnya?
Karena itu, daripada hanya ikut mendengar dan mempercayai apa yang beredar, aku memilih berhenti sejenak dan belajar.
Dan dari sana aku menemukan satu hal yang membuat hatiku jauh lebih tenang:
Tidak ada dalil sahih yang menetapkan bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari khusus turunnya bala.
Ada riwayat dan keterangan yang beredar di tengah masyarakat mengenai hal tersebut, bahkan ada yang menyebut jumlah bala tertentu.
Namun, keterangan semacam itu tidak dapat dijadikan dasar untuk meyakini bahwa pada Rabu terakhir Safar pasti turun bala dalam jumlah tertentu.
Maka aku belajar untuk berhati-hati.
Bukan berarti aku meremehkan musibah.
Bukan pula berarti aku berhenti berdoa meminta perlindungan.
Justru sebaliknya.
Aku ingin memohon perlindungan kepada Allah setiap hari.
Sebab yang menentukan keselamatan bukan hari.
Bukan bulan.
Bukan tanggal.
Melainkan Allah.
Aku Tidak Ingin Takut kepada Safar
Ada satu hal yang ingin terus kuingatkan kepada diriku sendiri.
Safar bukan bulan sial.
Rabu bukan hari sial.
Dan tidak ada satu waktu pun yang memiliki kekuatan untuk mendatangkan musibah dengan sendirinya.
Allah-lah yang mengatur seluruh kehidupan.
Karena itu, ketika memasuki akhir Safar, aku tidak ingin memenuhi hati dengan ketakutan.
Aku ingin mengisinya dengan doa.
Dengan istighfar.
Dengan shalawat.
Dengan membaca Al-Qur'an.
Dengan sedekah.
Dengan memperbaiki diri.
Dengan memperbanyak amal kebaikan.
Bukan karena aku percaya Rabu Wekasan pasti membawa bala.
Tetapi karena setiap hari memang merupakan kesempatan untuk semakin dekat kepada Allah.
Jika Ada Bala, Kepada Siapa Aku Berlindung?
Pertanyaan ini justru membuatku semakin tenang.
Jika musibah datang, kepada siapa aku meminta perlindungan?
Kepada Allah.
Jika penyakit datang, kepada siapa aku memohon kesembuhan?
Kepada Allah.
Jika rezeki terasa sempit, kepada siapa aku meminta kelapangan?
Kepada Allah.
Jika hati dipenuhi kekhawatiran, kepada siapa aku mengadu?
Kepada Allah.
Maka mengapa aku harus takut kepada sebuah tanggal?
Aku lebih memilih takut kepada Allah dalam arti menjaga diri agar tidak jauh dari-Nya, daripada takut kepada sebuah hari yang pada dirinya sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun.
Aku Memilih Tawakal
Hidup sudah mengajarkanku banyak hal.
Aku pernah melewati hari-hari yang tidak mudah.
Ada keterbatasan.
Ada kehilangan.
Ada urusan yang harus diselesaikan.
Ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada hari ketika aku bertanya dalam hati,
"Ya Allah, bagaimana nanti?"
Tetapi berkali-kali pula Allah menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat sulit bagiku, bisa menjadi mudah ketika Allah membukakan jalannya.
Maka hari ini aku belajar lagi:
Jangan takut kepada apa yang belum tentu terjadi.
Berdoalah.
Berikhtiarlah.
Berhati-hatilah.
Tetapi setelah itu...
sing tenang.
Karena hidup ini berada di dalam genggaman Allah.
Doa Perlindungan
Menjelang pergantian bulan, aku ingin berdoa.
Bukan karena aku menganggap akhir Safar sebagai hari sial.
Bukan karena aku percaya pasti ada bala yang turun.
Tetapi karena aku memang membutuhkan perlindungan Allah setiap saat.
Bismillahirrahmanirrahim.
Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengasih dan Maha Melindungi,
Lindungilah aku, keluargaku, orang-orang yang aku cintai, dan seluruh kaum muslimin dari segala bala, musibah, penyakit, fitnah, kejahatan, dan keburukan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Jika ada sesuatu yang buruk sedang menuju kepada kami, maka palingkanlah ia dengan rahmat-Mu.
Jika ada sesuatu yang baik sedang Engkau siapkan untuk kami, maka dekatkanlah dan berkahilah.
Ya Allah, jadikan setiap pergantian waktu sebagai pergantian menuju kebaikan.
Ampunilah dosa-dosaku.
Tenangkan hatiku.
Sehatkan tubuhku.
Lapangkan rezekiku.
Mudahkan segala urusanku.
Dan istiqamahkan aku dalam ketaatan kepada-Mu.
Jauhkan aku dari rasa takut yang berlebihan dan prasangka buruk kepada-Mu.
Tanamkan dalam hatiku keyakinan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.
Hasbunallahu wa ni'mal wakil.
Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.
Ya Allah...
Tutup bulan ini dengan ampunan dan keberkahan.
Bukakan bulan berikutnya dengan kesehatan, keselamatan, rezeki yang halal, kedamaian, dan keberkahan.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Aamiin ya Mujibassailiin.
Bukan Rabu yang Kutakuti
Pada akhirnya, aku ingin mengingat satu kalimat sederhana:
Bukan pergantian bulan yang kutakuti, tetapi kepada Allah aku meminta perlindungan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di bulan berikutnya.
Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa jam setelah tulisan ini selesai.
Tetapi aku tahu kepada siapa aku bisa berserah.
Allah.
Maka jika Rabu terakhir Safar datang, aku tidak ingin menyambutnya dengan ketakutan.
Aku ingin menyambutnya dengan doa.
Jika bulan Safar berlalu, aku ingin mengucapkan:
Alhamdulillah.
Dan ketika Rabiulawal datang, aku ingin kembali memperbanyak shalawat, mengingat Rasulullah ﷺ, dan belajar mencintai beliau dengan cara yang benar.
Karena setiap pergantian waktu seharusnya membuatku semakin dekat kepada Allah, bukan semakin takut kepada waktu itu sendiri.
Tidak ada hari yang sia-sia jika diisi dengan mengingat Allah.
Tidak ada bulan yang perlu ditakuti jika hati kita bergantung kepada-Nya.
Dan tidak ada ujian yang terlalu besar jika Allah memberikan kekuatan untuk menjalaninya.
Maka...
Bismillah.
Masuklah hari-hari berikutnya.
Aku tidak tahu apa yang menunggu di depan.
Tetapi aku tahu:
Allah ada.
Dan untuk itu...
sing tenang.
— Catatan Langit Didada
