GEGAP GEMPITA MENYAMBUT KEMERDEKAAN NEGERI

 

GEGAP GEMPITA MENYAMBUT KEMERDEKAAN NEGERI

Ana Restuningtyas

 

Peringatan hari kemerdekaan tahun duaribu duapuluhdua

Nyala gelora semangat rakyat kembali membara

Setelah dua tahun terhenti karena corona

Saatnya kita pekikkan lagi dengan lantang

MERDEKA

 

Berbagai lomba mulai di adakan

Dari sekolah, kelurahan dan perkantoran

Siswa sekolah hingga ibu ibu rumahan

Karnaval, pentas seni, gerak jalan juga panjat pinang yang paling di nantikan

 

Perayaan kemerdekaan negeri

77 tahun yang lalu perjuangan pahlawan di peringati

Mengenang para pahlawan dalam pertempuran

Melawan penjajah banyak sudah darah tertumpah

 

Dulu dengan semboyan MERDEKA atau MATI

Para pejuang dengan gagah berani berjuang demi bumi pertiwi

Tak peduli nyawa taruhannya, sampai kemerdekaan dalam genggaman

Dan proklamasi di bacakan dengan lantang

 

(video proklamasi)

 

Mari kita teruskan perjuangan para pahlawan

Dengan menjaga persatuan dan kesatuan

DIRGAHAYU TANAH AIRKU

INDONESIA

PUISI "AKU" KARYA CHAIRIL ANWAR

Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak peduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

MENIMBUN MASA LALU



Sejuta aksara menari di angkasa
mengeja kata tanpa makna
mengisi puisi-puisi sunyi
membisu dalam sepi
pada tiap ikhlas di ujung sujud
memeluk takdir suratan akhir

ada rapuh yang tersimpan rapih, tak ingin diintip angin lalu 
ada luka yang tersembunyi tawa, agar tak dibawa aliran gerimis jadi cerita
Mari kita menatakan senyuman
Biar masa lalu menjadi cerminan

JEDA



 

Pagi yang selalu kunanti

Ku awali dengan menyebut Asma Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang

Memulai hari melangkah dengan pasti

Hangatnya mentari memberi semangat setiap insani

 

Pagi yang selalu menakjubkan

Dari udaranya yang segar, aku belajar tentang kesabaran

Kita adalah luka yang belum tersembuhkan

Kita masih butuh jeda untuk saling berinstropeksi diri

 

Menikmati sarapan dengan sebait puisi

Masih banyak hal yang ingin kutuliskan

Ingin ku ungkapkan rasa dalam kata

Tentang kita yang dipisahkan oleh keadaan

 

Secangkir kopi menemani pagi

Menghirup sinar matahari

Segala hal tentangmu, membuatku kian mencandu

Semakin liar dalam ruang imajiku

Bahwa aku sangat merindukanmu


AKU PERNAH BERTANYA

 Aku pernah bertanya,

apa sih tujuan hidupku?

Dan dalam keheningan,

hatiku menjawab:

“Hidupku bukan milikku sendiri.”


Maka, meski ragaku terbatas,

aku ingin kelak—saat nafasku berhenti—

ada bagian dari diriku yang tetap hidup,

yang terus memberi arti,

walau aku telah pergi.


Mataku mungkin akan terpejam selamanya,

tapi semoga bisa membuka pandangan bagi jiwa lain,

yang masih ingin melihat dunia…

yang masih punya mimpi.


Sebab aku percaya,

Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin.

Segala ibadah, hidup, dan matiku… untuk Allah semata.


Terima kasih telah menjadi jembatan harapan ini.

Semoga kebaikan kecil ini membawa manfaat yang besar