PIO


Aku Scorpio, lahir dari bara,

Dibentuk oleh api, ditempa luka,
Diamku bukan tanda tak peduli,
Hanya menyimpan makna yang tak terbagi.

Tatap mataku, dalam dan tajam,
Rahasia tersimpan di dalam kelam,
Aku bukan sekadar bayangan sunyi,
Tapi samudra dalam, tak mudah terselami.

Setiaku sekuat karang di lautan,
Tak mudah goyah, tak mudah terbangkan,
Namun sekali dikhianati,
Percayaku luruh, tak kembali lagi.

Aku Scorpio, penuh gairah,
Menyala di dalam, tak mudah menyerah,
Dari abu aku kan bangkit lagi,
Menjadi lebih kuat, lebih berarti.

AKU, RATU UNTUK DIRIKU SENDIRI

Aku,

bukan menunggu disayang,

tapi memilih menyayang diriku lebih dulu dengan tenang.

Bukan menanti diselamatkan,

karena sudah kutemukan kekuatan di balik setiap air mata yang kutahan.


Aku,

ratu bagi kerajaanku sendiri.

Yang berdiri di antara badai,

tanpa kehilangan arah atau arti.


Tak kubutuhkan mahkota dari pujian,

karena kepalaku sudah ditopang oleh perjuangan.

Aku adalah rumah yang tak pernah runtuh,

meski berkali dihantam oleh rindu yang tak utuh.


Biarlah dunia bicara semaunya,

aku tahu siapa aku sebenarnya.

Dan bila cinta datang,

ia harus tahu:

aku bukan perempuan yang menunggu disempurnakan,

karena aku sudah utuh ,

dengan atau tanpanya


TUAN

Tuan,

Di antara jarak yang tak selalu ramah

Aku titipkan rindu dalam doa yang tak lelah.

Bukan tentang pertemuan yang kupinta tiap detik,

Melainkan hatimu yang tetap berpihak padaku — meski dalam sunyi yang tak terusik.


Aku tak meminta dunia,

Hanya ingin jadi alas letihmu saat segala terasa hampa.

Tak perlu janji yang membuncah,

Cukup kepercayaan yang tak mudah goyah.


Tuan,

Jika malam datang menggiring sepi,

Percayalah, aku masih di sini.

Menjaga rasa,

Menjaga nama.


Cinta ini bukan bara yang membakar,

Tapi pelita kecil yang sabar.

Tak silau, tak padam,

Hanya ingin tumbuh dalam diam.


Dan bila langkahmu mulai letih melawan dunia,

Ingatlah ..aku ada,

Sebagai tempat pulang yang tak pernah bertanya,

"Hari ini kau milik siapa?"


INFUS DI PERGELANGAN TANGANKU

Pergelangan tanganku tak lagi kosong,

ada selang bening yang menggantikan doa.

Cairan masuk perlahan,

seperti harapan yang dipaksakan tetap hidup.


Aku diam,

tapi tubuhku bicara lewat tetes-tetes itu

tentang lelah yang tak sempat ditulis,

tentang luka yang tak bisa dijual.


Infus ini bukan kelemahan,

ia adalah tanda bahwa aku bertahan,

meski dunia tak tahu

berapa kali aku ingin menyerah.


Dan jika kamu melihatku terbaring,

jangan kira aku kalah.

Aku hanya sedang belajar

mencintai tubuhku yang terus berjuang.




TERNYATA CINTA ITU....


Hari itu sudah tidak seperti biasanya

Chatku hanya kau baca tanpa membalasnya

Karena aku sudah terbiasa

Tanpa kabar setiap harinya

 

Hingga diapun menghilang tak tahu tentang keberadaanya

Aksaraku tersedak sesaat, berkecamuk dalam pikiran

Hubungan kami baik-baik saja, tak ada perselisihan maupun pertengkaran

Secepat itu semesta merenggut hasta

 

Tak terasa tetesan air mata menggores kertas putih di depanku

Walau aku sudah terbiasa dengan kepergianmu

Hingga kedatanganmu untuk mengucap janji suci akan menemani hingga akhir waktu

Dengan lakara arungi surga dunia

 

Namun.. kebahagiaan itu hanya sekejap mata

Goresan pisau di hati sangatlah lara

Kini dia hadir kembali dengan rasa penyesalannya

Dan.. Apakah aku akan kembali menerima juga mempercayainya?