Bolehkah Aku Meminta Waktumu Sebentar?

 




Tak banyak, hanya sekejap dalam genggaman hari

Aku tahu dunia menuntutmu berlari

Tapi aku di sini, merindukanmu tanpa henti


Langit malam kerap jadi teman bicara

Menanyakan kabarmu yang kian jauh

Aku tak ingin mengganggu langkahmu yang berharga

Namun, tidakkah ada celah di sela lelahmu?


Aku rindu percakapan tanpa batas waktu

Tawa sederhana, tatapan yang dulu hangat

Kini, aku hanya tamu dalam sibukmu

Menunggu sisa detik yang mungkin tersisa


Jika memang tak bisa lama, tak apa

Hanya sebentar, biarkan aku ada

Karena bagiku, satu menit bersamamu

Lebih berharga dari seharian tanpamu.


KASUR MULTIFUNGSIKU

Buat sebagian orang, kasur itu cuma tempat tidur. Tapi buat aku, kasur ini lebih dari itu!

🛏️ Tempat tidur? Jelas!

🚿 Kamar mandi? Bisaaa... soalnya aku mandi di sini 😆

🍽️ Ruang makan? Iya dong, makanku juga di sini!

🙏 Mushola? Sholatku pun di atas kasur ❤️

💻 Ruang kerja? Jelas! Di sini aku ngetik & edit video.

📱 Studio live streaming? Pastinya!

😢 Tempat nangis? Kadang-kadang... tapi habis nangis, bangkit lagi! 💪


Kasur ini saksi bisu perjuanganku. Dari sini aku berusaha, berkarya, dan tetap semangat menghadapi hari. Batasanku bukan penghalang, justru jadi penyemangat! ✨


TETAP KUAT

Dalam susah atau senang,

saat hati riang atau bimbang,

aku belajar bertahan,

sebab aku tahu — aku tak pernah sendirian.


Di kala sehat melukis senyum,

atau sakit merunduk diam,

aku tetap berserah,

karena kasih Allah tak pernah lelah.


Tak semua hari cerah,

tapi cahaya-Nya tak pernah patah.

Tak semua langkah mudah,

tapi kekuatan-Nya selalu ramah.


Aku percaya…

bukan pada dunia yang fana,

tapi pada janji-Nya

yang tak pernah lupa.


Jadi meski lelah, aku tetap berdiri,

meski jatuh, aku akan bangkit lagi.

Karena Allah…

tidak pernah meninggalkan

hamba yang percaya sepenuh hati


TERNYATA

Ternyata... 

Ada spasi dalam kata,  

agar makna bisa dirangkai,  

ada jeda dalam suara,  

agar pesan dapat sampai.  


Ada henti dalam langkah,  

bukan untuk menyerah,  

tapi agar jejak yang tertinggal,  

tak lagi keliru terbaca.  


Belajarlah dewasa,  

bukan hanya dengan waktu,  

tetapi tahu,  

kapan menjaga, kapan melepaskan,  

dan kapan melangkah kembali.




DALAM PELUKAN LANGIT SENJA

Di ufuk barat, mentari perlahan tenggelam,

Langit dilukis jingga, merah, dan kelam,

Aku duduk di pasir, angin laut bersenandung,

Gelombang menyapa kaki, pelan namun agung.


Di sebelahku kamu, diam tapi bicara,

Lewat tatapmu yang teduh, lewat senyum yang sederhana,

Tak perlu kata—laut sudah cukup jadi saksi,

Betapa senja memeluk kita dalam harmoni.


Pantai jadi rumah saat dunia terasa berat,

Tempat kuletakkan beban, kutemukan hangat,

Di sana, aku menulis, tak selalu dengan pena,

Kadang hanya menatap laut, dan segalanya jadi makna.



Aku, senja, pantai, dan kamu

Sebuah puisi yang tak ingin kutamatkan dulu