Ketika aku memikirkanmu,
aku menulis puisi
Di malam yang hening, aku berdoa,
Untuk kehidupan yang kujalani,Kubuka buku catatan,
Halaman kosong menanti cerita,
Tinta pena menari pelan,
Sambil angin pantai menyisir jiwa.
Ombak tak pernah lelah bercerita,
Aku dengarkan, kuresapi maknanya,
Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,
Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.
Dia duduk tak jauh dariku,
Membiarkanku larut dalam imajinasi,
Tak mengganggu, tak bertanya,
Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.
Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara
Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.
Kupilih duduk lama biar pikiran reda
Biar aku dan dia menyatu dalam senja
Senja memudar di ujung cakrawala,
Aku masih menulis,
Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,
Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis
Cintailah dia yang mencintaimu,
bukan karena rupa atau waktu,
tapi karena hatinya memilihmu,
dalam diam, dalam doa yang tak pernah jemu.
Sebab di matanya, kau tak perlu menjadi lebih,
tak harus sempurna atau serupa bintang di langit bersih,
karena baginya, dirimu sudah cukup,
cukup indah, cukup utuh, cukup penuh harap.
Ia melihatmu bukan dengan mata,
tapi dengan jiwa yang rela,
menerima luka dan tawa,
menjadikanmu satu-satunya makna.
Cintailah dia yang mencintaimu,
karena hanya di hatinya,
kau akan selalu terasa sempurna,
meski dunia berkata sebaliknya.